Manusia Vs Mesin: Mengulik Pesan Surat Ar-Ra’d: 11 Dalam Mencegah Stagnasi Literasi Digital Di Tengah Masyarakat Indonesia

Sumber: https://id.pinterest.com/

Pengguna AI (Artificial Intelligence) di Indonesia tercatat meningkat dari tahun sebelumnya. Dilansir dari GoodStats.com dalam penggunaannya, masyarakat Indonesia menghabiskan waktu 2,45 miliar jam sepanjang tahun 2025. Hal ini tentu tidak lepas dari faktor utama yang menarik perhatian masyarakat terhadap penggunaan AI sendiri yaitu memberikan kemudahan di setiap pekerjaan dari sistem otomatisasi yang ada. Berbagai inovasi yang dikemukakan oleh AI sangat memungkinkan untuk dikembangkan, tentu hal ini menjadi investasi besar untuk beberapa sektor sehingga banyak merasakan dampak positif dari kecanggihan AI ini. Namun di tengah pesatnya kemajuan yang dirasakan, tentu ada berbagai ancaman serius yang perlu diperhatikan masyarakat. Terutama mengenai disinformasi yang juga memakan korban, khususnya netizen di media sosial. Berbagai bentuk penyalahgunaan AI seperti kasus deepfake, chatbot otomatis, hingga tindakan manipulasi lain yang menyebabkan fitnah menjadi ajang kontradiktif pada isu-isu politik, kesehatan, ekonomi, bahkan pendidikan. Tercatat dalam data dari Kementrian Sekretariat Negara Republik Indonesia  bahwa kasus penipuan di sektor keuangan sebesar 1.550 persen sejak tahun 202 hinga 2024 yang terjadi akibat AI . Tindakan penyalahgunaan inilah yang menjadi penyebab disintegrasi masyarakat.

Kemampuan dalam menyaring informasi menjadi tantangan yang cukup kompleks bagi masyarakat, mengingat rendahnya literasi digital yang terjadi pada sebagian masyarakat. Sehingga masyarakat cenderung menjadi konsumen yang pasif dan menjadi ketergantungan pada teknologi yang bersifat instan. Tantangan ini menjadi sangat krusial dalam menentukan masa depan negara khususnya terhadap digitalisasi yang ada, apakah akan tetap menjadi negara yang berdaulat dengan daya saing global yang kuat, atau bahkan terjebak dalam rantai digitalisasi dan selalu bergantung kepada teknologi? Tentu harapan untuk menjadi pengelola teknologi harus diciptakan demi mencegah terhentinya perkembangan transformasi digital yang produktif. 

Apa yang akan terjadi jika pada beberapa tahun yang akan datang peran kita sebagai manusia tergantikan  oleh mesin yang memuat berbagai informasi di dalamnya?, beberapa bidang yang terancam tergantikan seperti pelayanan pelanggan yang tergantikan oleh Chatbot, manufaktur dan logistik, juga bidang IT pada Analisis data yang tugasnya digantikan sistem otomatis AI, atau berbagai pekerjaan lainnya yang dalam jangka panjang dikhawatirkan juga digantikan perannya.  di tengah sulitnya mencari lahan kerja, tentunya memicu terjadinya peningkatan pengangguran. Anggapan masyarakat mengenai fenomena ini tentunya menghadirkan pro dan kontra tersendiri, hadirnya kecerdasan buatan yang juga menjadi tantangan bagi pasar tenaga global. Sebagian masyarakat menganggap ini sebagai peluang besar bagi rencana perkembangan negara Indonesia dan mampu bersaing di kancah internasional. Namun sebagian masyarakat juga mengkritisi fenomena ini.

Sikap kekhawatiran yang berkepanjangan pada diri bangsa sangat berpengaruh terhadap perubahan pola pikir dan jiwa patriotisme itu sendiri. jika kita ambil sebuah kata kunci dalam fenomena ini, oermasalahan ditengahkan kepada kondisi literasi digital masyarakat Indonesia. Sebab kita sebagai generasi yang mengikuti perkembangan zaman tidak dapat menutup diri dan menjadi bangsa yang pasif dalam menerima segala bentuk perubahan yang ada. Meski dalam hal ini perlu digaris bawahi dalam penerimaannya bukan berarti tanpa kendali dan hanya spontanitas menjadi pelaku konsumtif yang tidak melakukan verifikasi ulang atas informasi yang ada. Maka konsep modernisasi yang kita rasakan saat ini juga perlu kita kelola agar tidak menimbulkan kerugian pada akhirnya. 

Segala bentuk upaya dalam mengatasi dan mengelola perubahan zaman tentunya tidak lepas dari jihad bangsa Indonesia sendiri. sebagaimana yang diyakini dalam Islam, Pada hakikatnya Allah Swt. dalam firmannya pada Al-Qur’an surat Ar-Ra’d ayat 11 menerangkan dan memberi kata kunci kepada kita sebagai hambanya.

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ ( الرّعد/13: 11)

Terjemah Kemenag 2019

Artinya: “Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain dia”

 (Ar-Ra’d/13:11).

Imam al-Qurthubi dalam tafsiranya pada kalimat:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ 

mengatakan bahwa melalui ayat tersebut Allah Swt. tidak akan mengubah keadan suatu kaum hingga adanya perubahan dari pihak mereka sendiri, baik yang datang dari mereka sendiri atau dari pemimpin mereka. Imam al-Qurthubi kemudian menerangkan bagaimana Allah Swt mengubah nasib umat muslim yang kalah pada perang uhud disebabkan oleh para pemanah yang melakukan perubahan strategi yang melangar perintah Rasulullah Saw. Maka dalam hal ini bentuk perubahan yang signifikan terdapat dalam diri kaum itu sendiri. bagaimana mereka mengendalikan suatu kondisi dengan mempertimbangkan banyak resiko dan tantangan di dalamnya. 

Menyimpulkan dari tafsiran Imam al-Qurthubi bahwa adanya perubahan nasib yang dialami suatu bangsa tidak hanya menuntun setiap individu namun perlu adanya campur tangan orang yang berpengaruh seperti seorang pemimpin dalam negara tersebut. Maka kemudian dalam rangka meningkatkan minat masyarakat terhadap literasi digital perlu adanya dukungan dan campur tangan lembaga terkait, seperti diadkanya sosialisasi mengenai literasi digital yang digaungkan lembaga pendidikan kepada sekolah atau bahkan masyarakat sekitar agar lebih mampu dalam menyaring juga mengelola teknologi terbaru yang ada khususnya mengenai pemakaian kecerdasan buatan.

Relevansi dan pelajaran dari surat Ar-Ra’d ayat 11 pada makna dari pengalan ayat tersebut dalam penafsiran Imam al-Qurthubi terkait kondisi sosial masyarakat Indonesia yaitu mengenai fenomena stagnasi literasi digital yang dilakukan sebagian masyarakat, dengan stagnasi (kekhawatiran) yang berkepanjangan dan tanpa adanya tindakan, maka dampak tersebut akan juga dirasakan bagi seluruh masyarakat Indonesia, karena hilangnya rasa jihad dan terhentinya produktifitas akibat pesimis tersebut, seperti yang terjadi pada kaum muslimin pada perang Uhud. Sebaliknya jika stagnasi ini disadari oleh masyarakat dengan merubah paradigma mereka terhadap AI, maka tidak akan ada Indonesia yang merasa terkalahkan oleh mesin. Perlu kita yakini bahwa AI tidak dapat menggantikan pekerjaan konvesional yang hanya mampu dikerjakan oleh manusia, masyarakat perlu meningkatkan daya saing dan produktivitas bagi para pekerja tradisional. Karena seiring berjalannya waktu AI memang lebih memberikan peluang bagi tenaga kerja global, namun ditengah perkembangannya dengan kondisi masyarakat yang cenderung belum siap memasuki era digital sepenuhnya. Diperlukan proses yang panjang dalam menjawab Sebuah persoalan mengenai mesin yang memuat berbagai informasi ini di mata masyarakat khususnya bagi mereka yang memiliki kesenjangan sosial dan  belum dipastikan sampainya pembahasan mengenai AI pada mereka yang belum sama sekali menerima teknologi ini. Namun, pada dasarnya sebuah kecerdasan buatan yang penciptanya adalah manusia tidak akan dapat mengantikan tenaga dan akal pikiran manusia itu sendiri yang dapat dikendalikan emosional serta batasan perilakunya. 

Maka tidak akan ada stagnasi literasi digital bagi sebuah bangsa yang mau menjadi agen perubahan dan mampu mengendalikan kondisi sosial mereka sekalipun dihadapkan dengan mesin yang mengampu kecerdasan buatan. Karena sesungguhnya AI (kecerdasan buatan) yang memuat kecerdasan berbasis data itu tidak memiliki ruh, sedangkan manusia adalah ruh yang dibekali kecerdasan yang mampu ditingkatkan dengan jihad belajar tanpa batas dan tanpa mesin pendingin yang merugikan lingkungan, cukup dengan semangat juang dan upaya untuk terus berkembang.

“Maka jangan pernah tukar ruh manusia dengan cara kerja mesin”

Berita Terbaru

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *