Akhir-akhir ini, kita kerap mendengar berita tentang banjir, polusi, sampah plastik, dan kerusakan lingkungan, namun tampaknya kampus sedang berusaha menjawab satu pertanyaan penting, yaitu bagaimana institusi pendidikan dapat berkontribusi untuk memberikan tanggung jawab terhadap masa depan bumi?
Dalam wawancara dengan Johan Aristya Lesmana, M.Si., Han., Koordinator Pusat Pengembangan Green Campus UIN Jakarta, dijelaskan bahwa green campus adalah bagian integral dari kehidupan manusia. Gagasan ini berangkat dari cara pandang bahwa manusia adalah khalifatul ardh, pemimpin di bumi yang memiliki tanggung jawab untuk mengelola dan merawat alam semesta. Dalam penjelasannya, kehidupan ideal selalu dibayangkan melalui lingkungan yang indah, pepohonan hijau, air yang bersih, dan alam yang terjaga. Imajinasi itu, menurutnya, juga sangat dekat dengan nilai-nilai keagamaan yang termuat dalam Al-Qur’an.
Di titik inilah Green Campus UIN Jakarta tidak hanya berdiri sebagai proyek pembangunan fisik, tetapi juga sebagai bagian dari ekoteologi. Ekoteologi dapat dipahami sebagai pandangan keagamaan yang menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari keimanan. Artinya, hubungan manusia dengan Tuhan tidak berhenti pada ibadah ritual, tetapi juga tercermin dalam cara manusia memperlakukan alam. Dari sini saya menangkap bahwa UIN Jakarta sedang mencoba menghubungkan agama, pengetahuan, dan tanggung jawab ekologis ke dalam satu gerakan bersama.
Menariknya, gagasan besar itu diterjemahkan dalam langkah-langkah yang cukup konkret. Gerakan Green Campus di UIN Jakarta dijalankan melalui enam kategori utama:
Pertama adalah green infrastructure dengan pendekatan green building. Kampus membangun pedestrian yang lebih indah dan menggunakan paving block agar air hujan dapat lebih mudah meresap ke tanah dan tidak menimbulkan genangan. Dari sudut pandang sejarah lingkungan, langkah seperti ini penting karena menunjukkan perubahan cara pandang dalam pembangunan: tidak semata-mata mengejar fungsi, tetapi juga memperhatikan keseimbangan ekologis.
Kedua, ada green energy. UIN Jakarta mulai menggunakan solar panel untuk mendukung kebutuhan listrik kampus. Lampu penerangan jalan di lingkungan kampus juga sudah memanfaatkan tenaga surya. Selain itu, Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Sains dan Teknologi telah memasang panel surya sehingga kebutuhan listrik di dua fakultas tersebut sebagian telah ditopang oleh energi matahari. Kerja sama dengan sektor terkait juga dilakukan sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional yang selama ini banyak bersumber dari batu bara. Ini menunjukkan bahwa kampus tidak hanya berbicara soal lingkungan, tetapi mulai menyentuh isu transisi energi.
Ketiga adalah pengelolaan sampah (waste). Hampir di seluruh titik kampus telah tersedia tempat sampah tiga pilah: organik, anorganik, dan plastik, termasuk tempat khusus untuk botol sekali pakai. Tujuannya jelas, yakni membiasakan mahasiswa memilah sampah sejak awal. Namun, seperti diakui narasumber, bagian ini masih menjadi tantangan besar. Edukasi kepada mahasiswa belum sepenuhnya berhasil dan baru berjalan sekitar 40 persen.
Keempat, penggunaan dan pengelolaan air. Contohnya ketika air bekas wudhu diberi aliran khusus agar dapat dimanfaatkan untuk menyiram tanaman. Kampus juga menyediakan water fountain atau fasilitas air minum gratis bagi seluruh sivitas akademika. Mahasiswa didorong membawa tumbler pribadi agar penggunaan botol plastik sekali pakai bisa dikurangi. Fasilitas ini juga dicek kualitas airnya secara berkala setiap tiga bulan agar tetap aman dikonsumsi.
Kelima adalah green transportation. UIN Jakarta menyediakan bus listrik yang beroperasi di sekitar kampus 1, serta motor dan sepeda listrik yang bisa dipinjam mahasiswa. Meski begitu, tujuan utamanya bukan sekadar menyediakan kendaraan ramah lingkungan, melainkan mendorong mahasiswa agar lebih banyak berjalan kaki. Karena itu, pedestrian dibangun senyaman mungkin, termasuk dengan fasilitas yang mendukung aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.
Keenam, ada aspek education. Kampus mengadakan pelatihan, sosialisasi, seminar, dan workshop untuk mahasiswa maupun tenaga dasar yang berhubungan langsung dengan pengelolaan sampah. Edukasi ini bahkan menyasar pelaku UMKM di sekitar kampus, seperti pedagang siomay, batagor, dan cilok, yang masih sering menggunakan plastik berlapis-lapis untuk membungkus makanan. Dalam konteks ini, green campus tampaknya ingin melampaui batas administratif kampus dan hadir sebagai gerakan sosial yang melibatkan masyarakat sekitar.
Inilah bagian yang paling menarik. Sebab, dari perspektif mahasiswa sejarah, sebuah gagasan akan benar-benar hidup jika ia menjelma menjadi budaya. Green Campus UIN Jakarta tidak hanya hendak membangun kampus yang tampak hijau secara visual, tetapi juga membentuk kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari identitas akademik dan religius. Hal itu sejalan dengan motto UIN Jakarta, “Innovation, Green, and Humanity.”
Pada akhirnya, pesan yang disampaikan oleh Pusat Pengembangan Green Campus UIN Jakarta terasa jelas, gerakan ini bukan untuk kelompok tertentu, melainkan untuk seluruh civitas akademika. Menjaga kebersihan dan kelestarian alam dipandang sebagai bentuk iman kepada Tuhan. Di tengah krisis lingkungan yang semakin buruk, kampus tampaknya ingin menegaskan bahwa merawat bumi bukan pekerjaan sampingan, melainkan tanggung jawab bersama.






