Ziarah kubur Nabi Muhammad menjadi hal yang sering diperdebatkan antar ulama, bahkan ada yang mengatakan haram dan terlarang jika tujuannya hanya semata untuk berziarah kubur. Pendapat ini ditentang oleh ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah yang menyatakan bahwa ziarah Nabi Muhammad hukumnya adalah sunnah dan disyariatkan oleh agama.
Dikutip dari kitab ad-Durar as-Saniyyah fi ar-Raddi Ala al-Wahaabiyyah karangan Sayyid Ahmad bin Sayyid Zaini Dahlan rahimahumallah., bahwa, sesungguhnya ziarah kubur Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam adalah hal yang disyariatkan dan diperintahkan sesuai dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma para ulama. Adapun perinciannya sebagai berikut:
Dalil dari Alquran
Dalil pertama diambil dari surah An-Nisa’ ayat 64 yang berbunyi:
وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوا أَنفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللهَ تَوَّابًا رَحِيمًا
“Kami tidak mengutus seorang rasul pun, kecuali untuk ditaati dengan izin Allah. Seandainya mereka (orang-orang munafik) setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Nabi Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”
Ayat ini menunjukkan atas himbauan kepada umat Islam yang melakukan dosa dan kedzoliman untuk mendatangi nabi Muhammad dan beristigfar kepada beliau, lalu nabi akan memintakan istighfar itu kepada allah dan allah akan mengampuni dosa-dosa orang tersebut karena allah adalah dzat penerima taubat pemberi rahmat kepada hamba-hambanya.
Perlu diketahui bahwa ayat ini tidak hanya berlaku ketika Nabi masih hidup, ayat ini tetap berlaku ketika nabi sudah wafat. Maka, bagi orang yang datang ke kuburan beliau dan meminta istighfar dan berdoa, maka tetap diperbolehkan dan hukumnya tetap disunnahkan. Dan bagi orang yang melakukan perjalanan untuk berziarah kuburan nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam maka termasuk orang yang berhijrah di jalan Allah dan Rasulnya.
Dalil dari Hadits
Hadist yang menunjukkan tentang ziarah nabi Muhammad banyak ditemui, dan hadist itu dihukumi shohih dan shorih, tidak ada keraguan di dalamnya. Diantaranya adalah:
منها قوله صلى الله عليه وآله وسلم: ((من زار قبري وجبت له شفاعتي))(١) وفي رواية (حلت له شفاعتي) (١) أخرجه الدارقطني في سننه برقم ١٩٤، والبيهقي في شعب الإيمان برقم : ٤١٥٩.
Rosulullah Shollallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Barang siapa yang berziarah ke kuburku maka dia akan mendapatkan syafaatku”. Adapun dalam Riwayat lain menggunakan redaksi (حلت له شفاعتي). Hadist Riwayat Imam ad-Daraquthny di dalam sunannya nomor 194, dan Imam al-Baihaqy di bab cabang iman nomor 4159.
قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم (من زارني بعد موتيّ فكأنما زارني في حياتي) أخرجه البيهقي في شعب الإيمان برقم
Rasulullah Shollallahu Alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang menziarahiku setelah wafatku maka seakan akan dia menziarahiku semasa hidupku” hadits Riwayat imam al-Baihaqi di bab cabang iman nomor 4154.
Dan masih banyak hadist lain yang menjelaskan tentang ziarah nabi Muhammad Shollallahu Alaihi wasallam. Semoga kelak kita mendapatkan syafaat beliau di yaumul qiyamah nanti, Aamiin ya robbal alamin.
Dalil dari Qiyas
Kita semua pasti sepakat bahwa sesungguhnya kuburan paling mulia dan utama adalah kuburan Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam, maka kita tidak diperbolehkan menyamakan kuburan beliau dengan kuburan yang lainnya.
Perlu diketahui bersama, bahwa Nabi Muhammad pernah berziarah ke kuburan ahli Baqi’ dan Syuhada’ Uhud. Lalu, ketika Nabi sendiri pernah berziarah ke kuburan Ahli Baqi’ dan Syuhada’ Uhud dan kita juga telah mengetahui bahwa kuburan nabi sendiri lebih utama dan mulia, bukankah ziarah kuburan nabi juga diperbolehkan bahkan lebih dianjurkan untuk menziarahinya?
Tujuan dari ziarah kuburan Nabi tak lain dan tak bukan adalah untuk hurmat ta’dzim, tabarruukan, dan berharap untuk mendapatkan rahmat dan barokah dari Nabi Muhammad. Hal ini menjadi wasilah kita untuk berdoa dan beristighfar kepada allah seperti halnya ketika Nabi Muhammad masih hidup.
Dalil dari Ijma’ para Ulama
Imam Ibnu hajr al-Haitamy di dalam kitabnya al-Jauhar al-Mundzom fi Ziaroti Qobri an-Nabi al-Mukarrom Shollallahu ‘Alaihi wa Alihi wa Sallam mengatakan:
“قد نقل جماعة من الأئمة حملة الشرع الشريف الذين عليهم المدار والمعوّل الإجماع، وإنما الخلاف بينهم في أنه واجبة أو مندوبة ، فمن خالف في مشروعية الزيارة فقد خرق الإجماع.”
“Sungguh telah menukil golongan dari para ulama syariat yang berfokus di permasalahan ijma’, dan sesungguhnya perkhilafan diantara mereka adalah hukum dari ziarah Nabi Muhammad adalah wajib atau sunnah. Maka, barang siapa yang menyalahi syariat dari hukum ziarah kubur maka dia telah melanggar ijma’.”
Keempat dalil yang telah disebutkan tadi yaitu dari Alquran, Hadist, Qiyas, dan Ijma menjelaskan bahwa ziarah kubur Nabi Muhammad adalah sesuatu yang disyariatkan oleh agama, dan hukum melakukannya adalah sunnah. Dan barang siapa yang melakukan amaliyah ini insya allah akan mendapatkan pahala dan kelak di yaumul qiyamah mendapatkan syafaat dari Rasulullah.
Sederhananya, kita sebagai umat beliau hendaklah ta’dzim dan tarkhim kepada beliau dengan mengunjungi kuburan beliau sebagai bentuk hurmat dan wasilah atas taubat dan doa kita. Lalu, sesuai ayat yang disebutkan di atas, apakah doa nabi atas orang yang berkunjung ke beliau untuk meminta istighfar hanya terbatas untuk umat yang bertemu dengan nabi Muhammad semasa hidup saja? Bukankah dijelaskan bahwa doa nabi akan berlaku ketika beliau sudah wafat sekalipun? Semoga kita semua paham sampai detik ini.
:قال الأعربي
يَا خَيْرَ مَنْ دُفِنَتْ بِالْقَاعِ أَعْظُمُهُ … فَطَابَ مِنْ طِيبِهِنَّ الْقَاعُ وَالْأَكَمُ
Hai sebaik-baik orang yang dikebumikan di lembah ini lagi paling agung,
maka menjadi harumlah dari pancaran keharumannya semua lembah dan pegunungan ini.
نَفْسِي الْفِدَاءُ لِقَبْرٍ أَنْتَ سَاكِنُهُ … فِيهِ الْعَفَافُ وَفِيهِ الْجُودُ وَالْكَرَمُ
Diriku sebagai tebusan kubur yang engkau menjadi penghuninya; di dalamnya
terdapat kehormatan, kedermawanan, dan kemuliaan.






