Unsur kimia erat kaitannya menjadi bagian dari kehidupan manusia, semua hal terkait aktivitas manusia dari mulai berpakaian, makan, minum dan hal pokok lainnya melibatkan satu atau banyak senyawa kimia. Contoh kecilnya adalah udara yang kita hirup, merupakan bagian dari senyawa kimia dengan komposisi utama terdiri dari nitrogen (N2) dan oksigen (O2) serta sejumlah gas lain seperti argon (Ar) atau bahkan karbon dioksida (CO2). Diantara kumpulan senyawa kimia ini, kita mengenali bahwa ada yang dinamakan dengan senyawa organik. Senyawa organik merupakan senyawa kimia yang memiliki unsur karbon (C) sebagai kerangka utama dan umumnya mengandung unsur hidrogen (H). Senyawa organik ini berasal dari makhluk hidup atau proses biologi seperti aktivitas organisme hidup, fotosintesis dan lain sebagainya. Diantara contoh senyawa organik yang familiar dan paling sering kita temui adalah protein, lemak, dan hidrokarbon.
“Sesuatu yang bersumber dari alam tidak selalu berdampak baik bagi alam” pernyataan ini relevan dengan keberadaan senyawa organik terhadap kondisi lingkungan. Karna sejatinya, keberadaan senyawa organik ini tidak hanya erat kaitannya dengan aktivitas manusia, tetapi juga erat kaitannya dengan alam. Banyak diantara senyawa-senyawa organik yang memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan lingkungan hal ini dingaruhi adanya mekanisme pengolahan, penggunaan atau bahkan proses pembungan yang dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi kesehatan lingkungan.
Senyawa organik Volatil (VOC) merupakan salah satu senyawa yang memiliki dampak ‘cukup hebat’ bagi kesehatan lingkungan kita. Senyawa organik volatil (VOC) ini merupakan jenis zat kimia yang biasanya ditemukan dalam bentuk gas dan akibatnya diproduksi secara luas oleh manusia serta didistribusikan ke seluruh lingkungan untuk berbagai keperluan rumah tangga dan komersial (Vereecken et al., 2018). Pembentukan senyawa organik volatil dilakukan melalui beberapa aktivitas diantaranya adalah :
1. Aktivitas Biologi
Senyawa volatil yang dihasilkan dari proses biologi biasanya berupa Produksi metabolit sekunder pada tumbuhan. umumnya berfungsi untuk menunjang keberlangsungan hidup tumbuhan di alam. Metabolit sekunder yang dihasilkan bersifat spesifik spesies artinya spesies tertentu mampu menghasilkan metabolit sekunder tertentu pula. Contoh metabolit sekunder yang dilepaskan tumbuhan antara lain senyawa terpenoid, flavonoid, alkaloid, tanin dan steroid.
2. Aktivitas Manusia
Diantara aktivitas manusia yang menunjang pembentukan senyawa organik volatil adalah penggunaan kendaraan yang memicu penguapan bahan bakar fosil, pembakaran biomassa/biofuel menyebabkan emisi senyawa organik volatil yang beracun. Kegiatan industri seperti industri karet, cat, dan produk berbahan dasar kulit juga memicu pembentukan senyawa organik volatil (VOC) seperti benzena, toluena, dan xilena.
VOC di luar ruangan memengaruhi lingkungan alam dan secara tidak langsung memengaruhi kesehatan manusia, sementara keberadaannya di dalam ruangan dapat memengaruhi kesehatan manusia. Beberapa senyawa organik volatil lebih mudah menguap daripada yang lain, senyawa yang menguap lebih cepat lebih berbahaya dan menimbulkan risiko lebih tinggi bagi lingkungan dan manusia. Diantara dampak negatif senyawa organik bagi kesehatan lingkungan adalah :
1. Pemanasan Global
Hampir semua VOC secara langsung berkontribusi terhadap pemanasan global dengan menyerap radiasi inframerah dari permukaan bumi, dan semakin kompleks suatu VOC, semakin besar kemampuannya untuk menyerap radiasi inframerah, namun sebagian besar VOC memiliki waktu hidup atmosfer yang pendek dan terurai, sehingga mengurangi efeknya (pengecualian terhadap aturan ini adalah hidrokarbon ringan jenuh dan senyawa terhalogenasi). VOC secara tidak langsung berkontribusi terhadap pemanasan global dengan mengubah konsentrasi ozon, yang merupakan gas rumah kaca yang kuat.
2. Penipisan Ozon Stratospher
Banyak VOC dapat menyebabkan kerusakan pada material di dekat titik pembuangannya, sebagai akibat dari sifat pengoksidasi atau korosif. VOC secara tidak langsung dapat berkontribusi terhadap kerusakan material melalui pembentukan ozon yang merupakan agen pengoksidasi yang sangat kuat dan dapat menyerang material seperti karet alam dan sintetis, tekstil dan resin, atau yang digunakan dalam pelapis permukaan. Degradasi bangunan yang dipercepat terjadi melalui kerusakan pada lapisan pelindung. Disisi lain, reaksi antara VOC dan nitrogen oksida (NOx) terjadi di hadapan sinar matahari dan menghasilkan oksidan fotokimia (termasuk ozon, peroksiasil nitrat, peroksida, dll.) Bahan kimia ini dapat memengaruhi kesehatan manusia dan berbahaya bagi lingkungan, meningkatkan bahaya NO terhadap lingkungan melalui oksidasinya menjadi NO2 .
3. Pencemaran Udara
Banyak VOC memiliki bau khas dan, dalam beberapa situasi, dapat terjadi dengan emisi VOC dan masalah bau yang tidak sedap. Intensitas bau dari senyawa tertentu biasanya dinyatakan dengan ambang baunya, yaitu, konsentrasi di mana separuh populasi tidak dapat mendeteksi bau tersebut. Sulit untuk memprediksi ambang bau dari campuran VOC, karena sering kali ada efek sinergis yang kompleks dan nonlinier yang dapat mengubah intensitas dan kualitas bau yang dirasakan dan dalam situasi seperti itu, ambang bau yang dipancarkan oleh campuran VOC harus ditetapkan dengan pengukuran praktis. Uap VOC dilepaskan ke udara oleh jasa pembersih kering, bengkel mobil, fasilitas pengecatan dan pelapisan, dan mesin berbahan bakar gas. VOC juga merupakan polutan umum di berbagai lokasi di Minnesota saat tumpahan bahan kimia atau penanganan yang salah telah mencemari tanah. Di lokasi-lokasi ini, VOC dapat meresap ke dalam air tanah dan berpindah ke sumur pasokan air minum. Begitu berada di air tanah, VOC dapat menghasilkan uap beracun yang bergerak melalui tanah dan dapat masuk ke dalam bangunan serta menurunkan kualitas udara dalam ruangan, suatu proses yang disebut intrusi uap.
Daftar Pustaka :
Pandey, P.; Yadav, R. 2018. Tinjauan tentang Senyawa Organik Volatil (VOC) sebagai Polutan Lingkungan: Nasib dan Distribusi. Int. J. Plant Environ. 4 , 14–26.
Spengler, JD; Yan,. 2002. CQ Faktor kualitas udara dalam ruangan dalam merancang bangunan yang sehat. Annu. Rev. Energy Environ. 25 , 567–601.
Murrells, T. 2007. Konsekuensi Perubahan Iklim dari Pengendalian Emisi VOC. Laporan kepada Departemen Lingkungan Hidup, Pangan, dan Urusan Pedesaan, Pemerintah Majelis Welsh, Eksekutif Skotlandia, dan Departemen Lingkungan Hidup untuk Irlandia Utara. AEA Energy Environ. 9 , 1–19.
Mangotra, A. 2024. Senyawa Organik Volatil : Ancaman Terhadap Lingkungan dan Bahaya Kesehatan Bagi Organisme Hidup. Junal Bioteknologi ELSEVIER. Vol.382, 51- 60







16 thoughts on “Kenali Dampak Negatif Senyawa Organik Volatil (VOC) : Kontribusi Biologis dan Aktivitas Manusia terhadap Krisis Lingkungan”
An fascinating discussion is value comment. I believe that you should write more on this topic, it won’t be a taboo topic but generally individuals are not enough to talk on such topics. To the next. Cheers
Hi, I do believe this is a great site. I stumbledupon it ;
) I may return yet again since I bookmarked it.
Money and freedom is the greatest way to change, may you be rich and continue
to guide others.
base medicale
smile hair clinic
smile hair clinic
smile hair
crabs media
mehmet emre dinç
asli tarcan global
hair center of
Good write-up, I am regular visitor of one?s web site, maintain up the excellent operate, and It is going to be a regular visitor for a lengthy time.
şaban
hair center of
sonomed
dr bekir şen
dr bekir şen