Kemiskinan Struktural: Bagaimana Pepatah “Banyak Anak Banyak Rezeki” Menjadi Sangat Destruktif bagi Perkembangan Anak Pedesaan di Indonesia

Sumber : https://id.pinterest.com/

Kemiskinan merupakan salah satu tantangan kompleks yang terjadi secara global, termasuk bagi Indonesia. Pemerintah Indonesia sendiri terus berupaya mengentaskan kemiskinan selama beberapa tahun terakhir. Namun, laporan kemiskinan yang diterbitkan oleh Bank Dunia (World Bank) pada Oktober 2025—dengan menggunakan standar yang baru ditetapkan untuk negara upper-middle-income (UMIC) menunjukkan bahwa angka kemiskinan di Indonesia masih sangat tinggi, yaitu sebesar 68,3% dengan pengambilan survei di tahun 2024. Dengan kata lain, sekitar 68,3% penduduk Indonesia dianggap belum mencapai kelas menengah yang aman secara finansial (World Bank, 2025a). Sebagai perbandingan, negara tetangga yang termasuk dalam kategori UMIC seperti Thailand berada di angka 9,9% pada survei tahun 2021 (World Bank, 2025b), dan 2,9% untuk Malaysia pada survei tahun 2023 (World Bank, 2025c). Di tengah realitas ekonomi ini, sebagian masyarakat, khususnya di pedesaan masih memegang teguh pepatah “Banyak anak banyak rezeki”, yang mengaitkan jumlah anak dengan jaminan finansial dan status sosial di masa depan tanpa siap secara finansial dan emosional. Padahal, ketidaksiapan finansial dan emosional orang tua dalam keluarga sering kali menyebabkan efek berantai yang menghambat potensi pertumbuhan kognitif, emosional, maupun sosial anak. Dalam hal ini, orang tua sering kali mengabaikan fakta mendasar tentang kompleksitas pengasuhan anak dan bagaimana perkembangan manusia sebenarnya dimulai jauh sebelum anak dilahirkan. Dalam psikologi perkembangan, proses pengasuhan tidak hanya dimulai ketika anak lahir, tetapi telah dimulai sejak masa kehamilan atau fase prenatal.

 

Pada fase prenatal, sekitar tiga minggu setelah pembuahan terjadi proses pembentukan neural tube, yaitu struktur awal yang kemudian berkembang menjadi otak dan sumsum tulang belakang. Selama masa kehamilan, jutaan sel saraf (neuron) terbentuk dengan sangat cepat hingga pada saat bayi lahir otaknya telah memiliki sekitar 100 miliar neuron yang menjadi fondasi bagi kemampuan kognitif, emosi, dan perilaku sosial manusia di kemudian hari (Santrock, 2011). Pada fase ini, pertumbuhan janin dalam kandungan tidak hanya dipengaruhi asupan gizi yang dikonsumsi oleh ibunya, tetapi juga bergantung pada bagaimana kondisi psikologis seorang ibu. Stres prenatal pada ibu dapat memicu perubahan hormon yang berdampak buruk pada perkembangan saraf dan fungsi imun janin. Lebih lanjut, gangguan pada masa ini berpotensi memberikan efek jangka panjang terhadap status kesehatan dan perkembangan neurokognitif anak (Ruiz & Avant, 2005).

 

Potensi biologis yang terbentuk dengan 100 miliar neuron tersebut bergantung pada bagaimana orang tua mengasuh dan memberi ikatan emosional pasca-lahir (pascanatal) agar dapat berkembang secara optimal. Perkembangan biologis yang optimal ini tidak berlangsung secara otomatis tanpa dukungan dari orang tua dan lingkungan. Setelah lahir, bayi memasuki tahap perkembangan. Pada tahap ini, ia sangat bergantung pada hubungan emosional dengan pengasuhnya. Dalam psikologi, hubungan emosional awal antara bayi dan pengasuh utama ini disebut sebagai attachment, sebuah konsep yang diperkenalkan oleh John Bowlby. Attachment dapat dipahami sebagai ikatan emosional yang membuat bayi merasa aman ketika berada dekat dengan pengasuhnya, sekaligus menjadi dasar bagi rasa percaya terhadap dunia di sekitarnya. Ketika pengasuh secara konsisten merespons tangisan bayi, memberi perhatian, dan memenuhi kebutuhan fisik maupun emosionalnya, anak cenderung membentuk secure attachment, yaitu pola keterikatan yang membuat anak merasa aman, percaya pada orang lain, dan berani mengeksplorasi lingkungan. Sebaliknya, ketika respons pengasuhan tidak konsisten, misalnya karena orang tua mengalami tekanan ekonomi berat, kelelahan, atau harus membagi perhatian kepada terlalu banyak anak, anak tersebut berisiko membentuk insecure attachment, yaitu pola keterikatan yang ditandai oleh rasa tidak aman, kecemasan terhadap penolakan, atau kecenderungan menghindari kedekatan emosional. Hubungan antara kualitas respons pengasuh dan pola keterikatan ini pertama kali dibuktikan secara empiris oleh Mary Ainsworth melalui eksperimen yang dikenal sebagai Strange Situation. Dalam penelitian tersebut, bayi diamati ketika dipisahkan sementara dari pengasuhnya dan kemudian dipertemukan kembali. Bayi dengan secure attachment biasanya merasa tertekan ketika ditinggalkan, tetapi dengan cepat tenang ketika pengasuhnya kembali. Sebaliknya, bayi dengan insecure attachment sering menunjukkan reaksi yang lebih ekstrem, seperti kecemasan berlebihan atau justru bersikap seolah tidak peduli (Ainsworth et al., 1978).

 

Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa kondisi ekonomi dapat memengaruhi kualitas pengasuhan tersebut? Salah satu penjelasan yang banyak digunakan dalam psikologi keluarga adalah family stress model yang dikembangkan oleh Rand Conger. Model ini menjelaskan bahwa tekanan ekonomi mempengaruhi perkembangan anak secara tidak langsung melalui dinamika hubungan keluarga yang disfungsional. Kesulitan finansial dapat meningkatkan stres pada orang tua, yang kemudian memicu konflik rumah tangga, kelelahan emosional, serta menurunnya sensitivitas orang tua terhadap kebutuhan anak. Ketika kondisi ini berlangsung terus menerus, kualitas interaksi antara orang tua dan anak menjadi berkurang, sehingga kebutuhan emosional anak tidak terpenuhi secara optimal. Dalam konteks teori attachment, penurunan kualitas respons pengasuhan ini dapat menghambat terbentuknya secure attachment yang seharusnya menjadi fondasi bagi perkembangan sosial, emosional, dan kognitif anak.

 

Dengan demikian, jika dilihat secara holistik, persoalan ini bukan hanya berasal dari kegagalan pengasuhan secara individual, melainkan juga berkaitan dengan kondisi struktural yang dialami oleh keluarga yang kurang beruntung secara finansial, khususnya di wilayah pedesaan. Anak yang terlahir dalam keluarga miskin seringkali terjebak dalam siklus kemiskinan yang sulit diputus. Kondisi ini tidak hanya menghambat perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak, tetapi juga membatasi akses mereka terhadap pendidikan dan literasi. Dalam jangka panjang, keterbatasan tersebut membuat generasi berikutnya menghadapi kesulitan yang sama dalam memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya, sehingga kemiskinan cenderung terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Berita Terbaru

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *