Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap perubahan iklim global, perguruan tinggi tidak hanya bertugas mencetak lulusan terbaik, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan. Lingkungan kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat kita belajar berbagai macam teori, tetapi juga harus menjadi contoh nyata dalam menerapkan gaya hidup yang produktif dan bermanfaat bagi sekitar, termasuk lingkungan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui konsep Green Campus atau kampus hijau.
Jika dilihat lebih dalam, gagasan menjaga lingkungan sebenarnya bukanlah sesuatu baru dalam Islam. Banyak ajaran Nabi Muhammad saw. yang menunjukkan pentingnya merawat alam. Bagi mahasiswa Ilmu Hadis, pengelolaan sumber daya lingkungan di kampus dapat dipahami sebagai bentuk penerapan nilai-nilai sunnah Nabi dalam kehidupan sehari-hari.
Mengapa Kampus Perlu Menerapkan Green Campus?
Program Green Campus sering kali hanya dipahami dari sisi fisik, seperti banyaknya pohon di area kampus, adanya tempat sampah terpisah, atau penggunaan gedung yang hemat energi. Padahal, agar program ini berjalan dengan baik, diperlukan juga kesadaran moral dan nilai-nilai etis dari seluruh civitas akademika.
Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KemenLHK, Indonesia terus berupaya mencapai target pengurangan sampah 30% dan penanganan 70% pada tahun 2025/2026. Kampus, sebagai salah satu tempat yang menampung ribuan orang setiap harinya, menyumbang volume sampah yang cukup besar setiap harinya. Mengelola sampah dan menjaga lingkungan sekitar kita ini bukan sekadar urusan kemanusiaan saja, melainkan urusan iman. Di antara upaya yang dapat kita lakukan untuk menciptakan kampus yang hijau adalah:
- Melawan Budaya Boros di Area Wudhu
Salah satu titik kritis pengelolaan sumber daya di kampus islami adalah penggunaan air, terutama di masjid kampus. Kita sering melihat kran air dibuka lebar-lebar saat wudhu, seolah-olah air adalah sumber daya yang tak akan pernah habis. Padahal, Rasulullah SAW memberikan teladan yang sangat ketat dalam hal ini.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya Shahih Bukhari (No.194)
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ قَالَ حَدَّثَنَا مِسْعَرٌ قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ جَبْرٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا يَقُولُ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْسِلُ أَوْ كَانَ يَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ وَيَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ
Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa Nabi SAW hanya menggunakan satu mud air (sekitar 0,6 liter) untuk berwudhu dan satu sha’ (sekitar 2,5 liter) untuk mandi. Jika kita bandingkan dengan debit air keran di kampus-kampus modern, angka ini sangat jauh dari praktik kita sehari-hari.
Implementasi Green Campus yang berkelanjutan harus dimulai dengan mengedukasi hadis ini kepada mahasiswa. Kampus juga bisa memasang sensor air atau memperkecil lubang pancuran keran (aerator) di area masjid sebagai bentuk ketaatan pada sunnah. Hemat air bukan karena kita kekurangan, tapi karena boros (israf) adalah perilaku yang dibenci Allah SWT, bahkan jika kita sedang berada di sungai yang mengalir sekalipun.
-
Sedekah Oksigen: Menanam Jariyah di Lahan Kampus
Poin kedua dalam upaya Green Campus adalah penghijauan. Dalam perspektif hadis, menanam pohon bukan sekadar urusan estetika taman agar kampus terlihat asri di brosur pendaftaran mahasiswa baru. Rasulullah SAW bersabda:
عن جابر أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل على أم معبد حائطا، فقال يا أم معبد من غرس هذا النخل؟ أمسلم أم كافر؟ فقالت بل مسلم. قال فلا يغرس المسلم غرسا فيأكل منه إنسان ولا دابة ولاطير إلا كان له صدقة إلى يوم القيامة
Dari Sahabat Jabir, sesungguhnya Nabi Muhammad Saw memasuki pekarangan Ummu Ma’bad, kemudian beliau berkata, “Wahai Ummu Ma’bad siapakah yang menanam kurma ini? Muslim atau kafir? Ummu Ma’bad menjawab, “Muslim.” Lalu Nabi Bersabda “Tidaklah seorang Muslim yang menanam pohon, kemudian burung atau manusia atau hewan makan darinya, kecuali baginya itu adalah sedekah.” (HR. Muslim). Hadis ini dapat mengubah cara pandang mahasiswa. Saat seorang mahasiswa menanam satu pohon di area kampus, ia sedang menabung “saham akhirat”. Setiap liter oksigen yang dihirup oleh rekan mahasiswanya, setiap burung yang bersarang di dahan pohon tersebut, mengalirkan pahala jariyah bagi si penanam. Kampus bisa mengadopsi program “Satu Mahasiswa Satu Pohon” saat masa orientasi (PBAK), sehingga penghijauan dapat menjadi bagian dari kurikulum spiritualitas lingkungan bagi mahasiswa.
-
Konsep Himā: Otoritas Kampus dalam Konservasi
Dalam sejarah Islam, dikenal istilah Himā, yaitu kawasan yang dilindungi secara khusus oleh otoritas negara untuk kepentingan umum dan kelestarian alam. Rasulullah SAW pernah menetapkan wilayah sekitar Madinah sebagai kawasan yang tidak boleh ditebang pohonnya atau diburu hewannya.
Dalam konteks Green Campus, rektor atau pimpinan kampus memiliki otoritas untuk menetapkan “Zonasi Hijau” atau kawasan lindung di dalam kampus. Hal ini mencakup kebijakan area bebas kendaraan (pedestrian), hutan kampus yang tidak boleh diganggu gugat oleh proyek bangunan, serta pelestarian ekosistem lokal. Manajemen sumber daya yang berkelanjutan menuntut ketegasan pemimpin kampus untuk tidak mengorbankan ruang terbuka hijau demi gedung-gedung beton yang tidak ramah lingkungan.
-
Fikih Sampah: Menyingkirkan Gangguan dari Jalan
Masalah klasik setiap kampus adalah sampah plastik. Padahal, dalam sebuah hadis yang sangat populer, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa menyingkirkan gangguan dari jalan adalah bagian dari iman dan bernilai sedekah
Dalam kacamata zaman sekarang, “gangguan” bukan lagi sekadar duri atau batu di tengah jalan, melainkan dapat juga seperti limbah plastik yang menyumbat saluran air kampus dan mencemari tanah. Pengelolaan sampah terpadu mulai dari pemilahan sampah organik untuk kompos hingga kerjasama dengan bank sampah adalah bentuk nyata dari cabang iman yang paling sederhana ini. Jika seorang mahasiswa merasa berat hati membuang sampah pada tempatnya, maka ada yang perlu dipertanyakan dari kualitas pemahaman agamanya.
Tentu saja, mewujudkan kampus yang benar-benar berkelanjutan tidaklah semudah membalik telapak tangan. Tantangan utamanya adalah konsistensi. Seringkali program hijau hanya produktif di awal semester atau saat ada kunjungan tim penilai peringkat saja. Namun, dengan merujuk pada prinsip istiqāmah dalam Islam, kita diajarkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara konsisten meskipun sedikit.
Kampus harus mulai beralih ke digitalisasi dokumen untuk mengurangi penggunaan kertas (paperless), memasang panel surya untuk mengurangi beban listrik, dan yang terpenting: memasukkan etika lingkungan ke dalam mata kuliah dasar. Green Campus bukan sekadar tren gaya hidup modern atau tuntutan peringkat global. Bagi kita, ini adalah manifestasi dari tugas manusia sebagai Khalifah fil Ardh (pemimpin di bumi) yang bertanggung jawab atas kelestarian alam. Manajemen sumber daya lingkungan yang berbasis pada hadis-hadis Nabi SAW memberikan jaminan bahwa upaya ini tidak hanya berdampak pada kelestarian bumi, tetapi juga pada keberkahan hidup di akhirat.
Mari kita jadikan kampus bukan hanya tempat untuk mencerdaskan otak, tapi juga tempat untuk menanamkan kepedulian pada alam. Karena pada akhirnya, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mendatangkan kemaslahatan bagi seluruh alam (Rahmatan lil ‘Alamin).


