Depresi dan Kecemasan: Dampak Berantai Kerawanan Pangan Akibat Krisis Iklim di Indonesia

Sumber : Pinterest

Perubahan cuaca ekstrem kita rasakan akhir-akhir ini. Kita semakin sulit memprediksi kapan musim hujan akan tiba dan kapan musim kemarau akan tiba. Hujan kerap datang tiba-tiba dengan curah hujan yang sangat tinggi yang bahkan bisa menyebabkan gagal panen, banjir, dan banyak bencana alam lainnya. Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Eddy Soeparno, menyampaikan bahwa kondisi yang saat ini terjadi di Indonesia sudah bukan perubahan iklim biasa. “Kami sudah dalam beberapa kesempatan menyampaikan bahwa  saya sudah tidak mau lagi menggunakan istilah perubahan iklim. Karena hari ini kita sudah merasakan bahwa Indonesia sudah berada di tahap krisis iklim. Satu tahap di atas perubahan iklim, satu tahap dibawah bencana iklim,” ucap Eddy, Jakarta, Senin (29/12/2025).

 

Ini merupakan kondisi serius bagi Indonesia. Namun, masih banyak masyarakat yang belum menyadari seberapa besar ancaman krisis iklim ini terhadap kehidupan mereka. Salah satu contoh ancaman krisis iklim terhadap masyarakat Indonesia adalah ancaman terhadap ketahanan pangan. Cuaca yang tidak menentu menyebabkan banyak tanaman gagal panen, salah satunya padi. Padi yang merupakan makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia membutuhkan cuaca yang stabil agar bisa dipanen, seperti curah hujan yang merata, sinar matahari yang cukup, serta suhu udara yang tidak terlalu ekstrem. Jika cuaca ekstrem ini terus terjadi akan banyak petani yang mengalami gagal panen. Hal ini bisa menyebabkan kerawanan pangan akibat produksi beras yang terganggu. 

 

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), Kerawanan pangan adalah kondisi ketidakmampuan individu atau rumah tangga untuk mengakses makanan secara konsisten, aman, dan bergizi, yang diperlukan untuk hidup aktif dan sehat.  Makanan yang merupakan kebutuhan fundamental manusia akan menyebabkan gelombang kekhawatiran pada masyarakat kita jika tidak dapat diakses dengan baik. Gelombang kekhawatiran ini merupakan salah satu dampak berantai dari buruknya kondisi iklim Indonesia saat ini. Dalam sudut pandang psikologis, Jandaghian-Bidgoli et al. (2024) memaparkan bahwa seseorang yang mengalami kerawanan pangan memiliki persentase stress yang tinggi. Ditambah lagi, hal ini bisa memicu depresi, kecemasan, dan kualitas hidup yang menurun.

 

Abraham H. Maslow, salah satu tokoh penting di bidang psikologi, menjelaskan bahwa manusia memiliki 5 tingkat kebutuhan dasar (Hierarki Kebutuhan Maslow).  Pada teori ini individu  harus memenuhi kebutuhannya dari yang paling rendah terlebih dahulu, yaitu kebutuhan fisiologis. Salah satu kebutuhan fisiologis adalah makanan.  Saat seseorang tidak berhasil atau kesulitan memenuhi kebutuhan makanan sehari-harinya ia akan mengalami ketegangan psikologis karena muncul ketidaknyamanan internal pada dirinya. Hal ini akan memotivasi individu tersebut untuk berfokus pada perilaku pemenuhan kebutuhannya terlebih dahulu.  Selain itu, saat kebutuhan dasar kita saja belum terpenuhi kita akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan lainnya, sehingga kita akan merasakan hambatan dalam pengembangan diri. Seiring dengan hal ini, kualitas hidup kita pun akan ikut memburuk. Bahkan studi yang ditulis oleh Jandaghian-Bidgoli et al. (2024) menyampaikan bahwa kelaparan di masa kanak-kanak dapat menyebabkan masalah kesehatan mental, seperti ADHD.

 

Jadi, dapat disimpulkan ini merupakan kondisi yang sangat serius bagi kita semua. Kondisi psikologis kita sangat bergantung pada ketahanan pangan, sedangkan ketahanan pangan berhubungan erat dengan kondisi iklim. Jika krisis iklim yang saat ini kita rasakan tidak ditangani dengan sigap, maka akan semakin buruk pula dampaknya. Pemerintah diharapkan bisa segera melakukan upaya terbaik dalam menyikapi situasi saat ini serta memberikan penyuluhan yang jelas kepada masyarakat  agar tidak menimbulkan kepanikan massal dan memunculkan fenomena panic buying.

Di sisi lain, selain menunggu arahan dari pemerintah kita bisa memulai inisiatif dari rumah, seperti

  1. Meningkatkan kesadaran diri terkait pola konsumsi serta mengurangi food waste.
  2. Tidak bergantung dengan satu sumber pangan saja (mencoba umbi-umbian, kacang-kacangan, sogum, dll.)
  3. Mulai melatih ketahanan mental (Psychological Resilience) sebagai bentuk preventif terhadap hal buruk yang akan terjadi kedepannya.

Berita Terbaru

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *