Ketahanan Pangan Indonesia di Tengah Krisis Iklim

Sumber: Pinterest

Berbicara mengenai ketahanan pangan tentu kita sebagai warga negara Indonesia patut berbangga dengan kekayaan alam bumi pertiwi yang seakan tidak ada habisnya, tanahnya yang subur serta ditumbuhi berbagai macam fauna, suasana alamnya begitu ditampakkan oleh keelokan bila dilihat dengan mata. Menurut data terbaru dari ‘TribunNews’ indonesia saat ini menduduki peringkat ke-4 sebagai negara produsen beras terbesar ke-4 di dunia, dengan proyeksi produksi mencapai 35,6 juta ton untuk periode 2025-2026. Indonesia menempati kedudukan setelah negara China, India dan Bangladesh, menegaskan perannya yang signifikan dalam menjaga keseimbangan dan ketahanan pangan global. Disamping itu pidato presiden Indonesia, Prabowo Subianto pada 20 Oktober 2024 usai pengucapan sumpah jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia di Gedung Nusantara, Jakarta, beliau mengatakan “Saya telah mencanangkan bahwa Indonesia harus segera swasembada pangan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kita tidak boleh bergantung dari sumber makanan dari luar”, tegasnya. Ini menunjukkan komitmen pemerintah Indonesia menuju swasembada pangan dan menjadi negara lumbung pangan dunia guna menghadapi tantangan global yang makin kompleks. 

 

Tapi tahukah anda, bahwa Indonesia pernah mengalami krisis ketahanan pangan pada tahun 2022, bahkan Indonesia sempat menempati peringkat 63 dari 113 negara, yang sedang menghadapi penurunan produktivitas pertanian, krisis sempat berlanjut pada tahun 2024, menurut data dari Hasil Kerangka Sampel Area Padi, Badan Pusat Statistik memperkirakan, total produksi beras nasional Januari-Desember 2024 sebesar 30,34 juta ton. Itu berarti turun 760.000 atau 2,34 persen dibandingkan produksi beras tahun 2023 yaitu  31,1 juta ton, dengan kata lain perubahan iklim bahkan berpotensi menurunkan produksi padi sebesar 1,13 juta ton sampai 1,89 juta ton, akibat dari kekeringan, banjir dan perubahan pola curah hujan yang tak menentu, lahan pertanian seluas 2.256 hektar sawah juga terancam rusak. Disamping itu faktor lainnya adalah beberapa daerah di Indonesia khususnya di luar pulau jawa juga masih banyak bangunan dan infrastruktur yang belum memadai, dan masih banyak kejadian banjir dan tanah longsor yang disebabkan penebangan hutan liar dll, suhu dan kelembapan yang cukup tinggi juga berakibat percepatan pembusukan hasil pertanian, budaya ketergantungan tinggi masyarakat indonesia pada beras juga membuat sistem pangan negara menjadi rentan. 

 

Namun disamping itu pemerintah selalu mengupayakan untuk mengatasi berbagai masalah khususnya mengenai ketahanan pangan ini, Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) menegaskan pentingnya penganekaragaman pangan lokal sebagai strategi adaptif untuk menghadapi perubahan iklim dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Hal itu disampaikan oleh Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan NFA, Rinna Syawal, dalam Seminar dan FGD Integrasi Iklim, Pangan, dan Gizi (RAN-PG) 2025-2029 di Jakarta pada kamis (18-9-2025). Menurut Rinna, “Sistem pangan Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Konsumsi masyarakat masih didominasi beras, sementara fluktuasi produksi akibat curah hujan, suhu ekstrem, dan bencana hidrometeorologi terus mengganggu pasokan. Kondisi ini diperburuk dengan kesenjangan akses pangan antarwilayah serta kerentanan kelompok tertentu seperti balita, ibu hamil, dan lansia”, lalu ia melanjutkan, “Ketahanan pangan kita tidak bisa hanya bertumpu pada satu sumber pangan saja. Indonesia memiliki keragaman pangan lokal yang luar biasa, yang justru menjadi solusi di tengah krisis iklim dan global,” ujarnya.

 

NFA (National Food Agency) sedang mengupayakan untuk mendorong transformasi sistem pangan dari pola konsumsi beras sentris menuju diversifikasi yang lebih sehat. Inovasi produk pangan lokal terus dikembangkan, seperti mie sorgum, beras analog, hingga snack sehat berbasis bahan lokal. Berbagai upaya terobosan sedang dilakukan Kementerian Pertanian RI untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara lumbung pangan dunia 2045, yaitu melalui optimalisasi dan cetak sawah, sebanyak 1,35 juta hektar lahan telah disiapkan untuk menyiapkan pasokan pangan dengan target 3 juta hektar lahan sawah pada tahun 2029. Krisis global telah membuktikan bahwa kemandirian pangan adalah pilar utama ketahanan nasional. Indonesia harus membangun sistem pangan yang tangguh, efisien, dan berbasis kearifan lokal, melalui kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, petani, dan generasi muda. Indonesia mampu bertransformasi menjadi negara yang berdaulat pangan, Krisis global bukan akhir, tetapi kesempatan untuk memperkuat pondasi menuju masa depan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Berita Terbaru

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *