Patriarki Tidak Selalu Berwajah Laki-Laki, Internalized Misogyny dan Perempuan yang Menjaga Sistem Penindasan dalam Perspektif Al-Qur’an

Sumber: Pinterest

Di banyak diskusi tentang ketidakadilan gender, patriarki sering digambarkan sebagai sistem yang sepenuhnya dijalankan oleh laki-laki. Laki-laki diposisikan sebagai pihak yang memiliki kuasa, sementara perempuan dianggap sebagai korban dari sistem tersebut. Gambaran ini memang tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Dalam kenyataannya, patriarki tidak selalu berwajah laki-laki. Ia sering kali hidup dan bertahan justru melalui praktik, nilai, dan cara pandang yang juga direproduksi oleh perempuan sendiri. Fenomena ini berkaitan dengan konsep internalized misogyny, yaitu kondisi ketika perempuan tanpa sadar menyerap dan mempercayai pandangan yang merendahkan atau membatasi perempuan yang telah lama hidup dalam masyarakat patriarkal. Nilai-nilai tersebut kemudian dianggap sebagai sesuatu yang wajar, bahkan benar, sehingga perempuan ikut mempertahankannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Fenomena ini tentu menjadi benalu bagi perempuan, karena perempuan tidak hanya menjadi korban dari sistem patriarki, tetapi dalam beberapa situasi juga dapat menjadi pihak yang tanpa sadar menjaga sistem tersebut. Ketika nilai-nilai patriarkal telah terinternalisasi, perempuan dapat ikut mereproduksi standar yang membatasi perempuan lain. Hal ini sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Perempuan kerap lebih cepat menghakimi perempuan lain, seperti menilai cara berpakaian, pilihan hidup, keputusan karier, bahkan keputusan personal seperti menikah atau tidak menikah. Ungkapan seperti “perempuan baik-baik tidak seperti itu” atau “perempuan harus menjaga diri” sering kali justru datang dari sesama perempuan. Situasi ini menunjukkan bahwa patriarki tidak selalu bekerja melalui kekuasaan laki-laki secara langsung, tetapi juga melalui norma sosial yang membuat perempuan saling mengawasi. Akibatnya, standar moral yang tidak adil terus dipertahankan dan dianggap sebagai sesuatu yang normal. Selain itu, terdapat pula standar moral yang berat sebelah. Dalam banyak situasi, perempuan diposisikan sebagai penjaga moralitas sosial. Mereka dituntut menjaga perilaku, penampilan, dan reputasi, seolah-olah kehormatan sosial bergantung pada tubuh perempuan. Sementara itu, pelanggaran yang dilakukan laki-laki sering kali dipandang lebih permisif atau lebih mudah dimaklumi.

 

Fenomena ini juga dapat dibaca melalui nilai etika yang diajarkan dalam Al-Qur’an. Dalam Surah An-Nisa ayat 1 ditegaskan bahwa seluruh manusia berasal dari satu jiwa (nafs wāḥidah), kemudian darinya Allah menciptakan pasangannya, dan dari keduanya berkembang banyak laki-laki dan perempuan.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Artinya: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa, dan darinya Dia menciptakan pasangannya; dan dari keduanya Dia mengembangbiakkan banyak laki-laki dan perempuan. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa: 1)

 

Ayat ini menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki asal-usul kemanusiaan yang sama. Keduanya berasal dari sumber yang sama dan berkembang bersama dalam kehidupan manusia. Dengan demikian, relasi antara laki-laki dan perempuan seharusnya dibangun atas dasar penghormatan terhadap martabat yang setara, bukan atas dasar dominasi atau pengawasan yang tidak adil. Ketika Al-Qur’an menekankan bahwa seluruh manusia berasal dari satu jiwa, pesan etis yang muncul adalah bahwa tidak ada satu pihak pun yang secara moral lebih tinggi hanya karena jenis kelaminnya. Prinsip ini menjadi pengingat bahwa praktik saling merendahkan atau saling menghakimi—termasuk ketika perempuan menghakimi perempuan lain tidak sejalan dengan etika kemanusiaan yang ditegaskan oleh Al-Qur’an.

 

Jalan keluar dari masalah ini, adalah menyadari bahwa patriarki tidak selalu berwajah laki-laki menjadi langkah penting untuk memahami kompleksitas ketidakadilan gender. Namun kesadaran saja tidak cukup, perlu ada upaya untuk memutus siklus yang terus berulang. Salah satu langkah penting adalah meningkatkan kesadaran gender dalam masyarakat. Ketika orang memahami bagaimana patriarki bekerja melalui norma sosial, bahasa, dan kebiasaan sehari-hari, mereka akan lebih mampu mengenali ketidakadilan yang selama ini dianggap normal. Selain itu, masyarakat juga perlu berani mengkritisi standar moral yang berat sebelah. Norma yang selalu menuntut perempuan lebih banyak daripada laki-laki perlu dipertanyakan kembali agar tidak terus diwariskan. Hal lain yang tidak kalah penting adalah membangun solidaritas antarperempuan. Alih-alih saling menghakimi, perempuan perlu saling mendukung pilihan hidup satu sama lain. Solidaritas ini menjadi penting karena sistem patriarki sering kali bertahan justru ketika perempuan saling mengawasi dan saling membatasi.

 

Terakhir, pendidikan kritis tentang kesetaraan gender perlu diperkuat sejak dini. Dengan pendidikan yang lebih reflektif, generasi baru dapat belajar untuk tidak menerima ketimpangan sebagai sesuatu yang wajar. Pada akhirnya, memahami bahwa patriarki tidak selalu berwajah laki-laki membantu kita melihat persoalan ini secara lebih jernih. Ketidakadilan gender bukan hanya persoalan individu, melainkan persoalan sistem yang telah lama tertanam dalam cara berpikir masyarakat. Selama standar moral yang tidak adil masih diterima sebagai kebenaran, selama perempuan masih dibebani tanggung jawab untuk menjaga citra sosial, dan selama perempuan masih saling mengawasi satu sama lain, patriarki akan selalu menemukan cara untuk bertahan. Karena itu, membongkar patriarki tidak hanya berarti menantang struktur kekuasaan yang ada, tetapi juga berani mempertanyakan cara berpikir yang selama ini dianggap biasa. Perubahan akan mulai terjadi ketika perempuan tidak lagi diposisikan sebagai penjaga moral bagi perempuan lain, melainkan sebagai sesama manusia yang berhak atas kebebasan, pilihan, dan martabat yang sama.

 

Sometimes the strongest guardians of patriarchy are not men, but the women who were taught to believe it is normal.

Berita Terbaru

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *