Cantik itu dicintai. Cantik itu dihargai. Cantik itu dipedulikan. Cantik itu disayangi. Cantik itu disukai. Cantik itu segalanya. Cantik itu harus kurus. Cantik itu harus putih. Cantik itu harus simetris. Pernyataan-pernyataan semacam ini sering kali menancap kuat di relung bawah sadar perempuan. Bagi banyak perempuan, tubuh bukan sesuatu yang hanya dimiliki, tetapi juga merupakan bagian yang harus layak dilihat, pantas dinilai, dan siap dibandingkan. Banyak perempuan yang terbiasa mendengar komentar mengenai penampilannya. Sering kali hinaan berbalut candaan seperti, “Kamu cantik kalau kurusan”, “Jerawat udah kayak motif polkadot” atau “Ih, sipit, kalo ketawa matamu hilang, hihi.” Jika komentar-komentar semacam ini terus menerus dinormalisasi, perlahan ia akan membentuk pandangan seseorang terhadap tubuhnya yang kemudian tidak lagi sekadar bagian dalam dirinya tetapi menjadi sesuatu yang harus dibenahi setiap waktu berdasarkan suatu standar tertentu dan tidak pernah puas dengan hasilnya.
Tuntutan mengenai penampilan perempuan bukanlah sesuatu yang baru, masyarakat selalu memiliki tren ‘tubuh perempuan yang dianggap ideal’ tersendiri pada zamannya. Namun, pesatnya perkembangan teknologi digital membuat tekanan ini melonjak intens karena pesatnya informasi mengenai standar kecantikan terbaru melalui sosial media. Misalnya platform seperti Instagram dan Tiktok yang banyak menyajikan gambar wajah dan tubuh perempuan yang dianggap sempurna. Setiap kali menggulir layar, seseorang bisa mendapati postingan yang merepresentasikan bagaimana mata yang indah, rambut yang bergelombang, kulit yang halus, tubuh yang ramping, hidung mancung, ataupun wajah simetris. Umumnya muncul melalui berbagai konten, entah iklan kosmetik, budaya populer, film, hingga komentar yang terlihat sepele.
Karena sering dianggap normal, banyak orang tidak menyadari bahwa standar yang mereka yakini sebenarnya hanyalah konstruksi sosial yang diproduksi serta diperkuat dengan perspektif baru lingkungan sekitar. Sayangnya, gambar atau video yang beredar sering kali tidak realistis. Banyak gambar diedit, menggunakan filter, diambil dari sudut tertentu, atau bahkan make up prostetik yang terlihat natural. Situasi ini secara tidak langsung akan membuat banyak perempuan mulai membandingkan dirinya dengan perempuan yang mereka lihat sebagai sosok sempurna dan tanpa cela. Dalam psikologi sosial, fenomena ini dinamai Social Comparison Theory yang dicetuskan oleh Leon Festinger. Di mana manusia secara alami menilai dirinya sendiri dengan cara membandingkannya terhadap orang lain.
Banyak orang menganggap kecantikan universal. Namun, standar kecantikan adalah sesuatu yang dinamis yang sering berubah sesuai dengan budaya atau zaman tertentu jika dilihat dari perspektif sejarah dan perbedaan budaya. Misalnya, tubuh yang berisi sering dianggap menarik karena menggambarkan kemakmuran pada waktu tertentu, sedangkan tubuh yang ramping atau kurus dianggap ideal pada waktu berikutnya. Standar kecantikan yang kaku dan terbatas yang berkembang di masyarakat tidak muncul secara alami, meskipun beberapa preferensi fisik mungkin memiliki dasar biologis. Standar ini dibentuk, diperkuat, dan disebarkan melalui budaya, nilai-nilai sosial, dan media. Menurut Naomi Wolf dalam bukunya, “The Beauty Myth” standar kecantikan bisa berfungsi sebagai mekanisme sosial yang memengaruhi cara perempuan memandang diri mereka sendiri. Ketika perempuan terus ditekan untuk mengejar standar kecantikan yang sempit, atensinya bisa terserap hanya pada upaya memperbaiki penampilan. Energi yang seharusnya dibagi secara adil pada aspek lain yang harus dipenuhi untuk menunjang kehidupan, malah digunakan pada satu aspek penuh.
Pengaruh dari standar kecantikan ini bukan hanya pada cara seseorang melihat dirinya sendiri tetapi juga pada masyarakat dalam memperlakukan individu tersebut. Hal ini dikenal dengan sebutan beauty privilege yang juga berkaitan dengan konsep Halo Effect di mana seseorang mengaitkan karakteristik positif dengan sifat positif lainnya. Saat seseorang dianggap menarik secara fisik, orang lain akan condong menganggapnya juga lebih percaya diri, cerdas, atau bahkan lebih kompeten. Hal ini turut memengaruhi bagaimana seseorang yang dianggap punya daya tarik sering kali mendapatkan perlakuan yang lebih istimewa dibandingkan yang lainnya. Ada sebuah studi yang menganalisis sekitar 38.000 Penelitian lebih lanjut tentang iklan lowongan kerja di Vietnam menemukan bahwa preferensi terhadap penampilan fisik muncul pada sekitar 29% iklan yang ditujukan untuk perempuan. Selain itu, penelitian tersebut menemukan bahwa pekerja yang dianggap menarik secara fisik mendapatkan keuntungan finansial yang lebih besar (Perroni et al., 2023). Kondisi ini menggambarkan betapa penampilan fisik perempuan dapat memengaruhi peluang ekonominya.
Kehadiran beauty privilege ini memperkuat tekanan terhadap perempuan untuk memenuhi standar kecantikan yang mana penampilan yang menawan dapat memengaruhi cara pandang maupun secara perlakuan seseorang padanya. Sehingga merawat penampilan dianggap sebagai kebutuhan sosial. Di samping itu, perempuan diminta untuk percaya diri dan menerima tubuh mereka apa adanya. Sebuah paradoks yang dialami banyak perempuan antara menerima diri mereka apa adanya atau menyesuaikan diri dengan standar kecantikan yang berlaku. Kedua pilihan ini membatasi cara perempuan dilihat dalam masyarakat dan sistem sosial yang mendukung mereka yang memenuhi standar tersebut. Karena itu, perempuan sering menghadapi dilema: menolak standar kecantikan berarti risiko kehilangan sejumlah keuntungan sosial, tetapi mengikuti standar tersebut malah memperkuat sistem yang selama ini menekan perempuan. Ini menunjukkan kepada kita bahwa masalah kecantikan wanita berkaitan dengan struktur sosial yang lebih luas daripada hanya pilihan individu.
Di titik-titik inilah gema pertanyaan yang paling dasar mulai jadi pertimbangan. Jika standar kecantikan begitu kuat memengaruhi cara perempuan diperlakukan, apakah satu-satunya cara supaya berdaya hanyalah dengan mengikutsertakan diri pada standar-standar yang entah siapa yang membuatnya itu? Sebagai seorang perempuan muda yang hidup di tengah arus sosial media yang cepat dan standar kecantikan yang terus berubah, saya menyaksikan bagaimana tekanan ini memengaruhi perempuan dan pandangan mereka tentang diri mereka sendiri. Tidak selalu mungkin untuk meninggalkan standar kecantikan sepenuhnya; kita tidak dapat menolak atau menerimanya sepenuhnya. Karena fakta bahwa masyarakat memberikan keuntungan tertentu kepada mereka yang dianggap menarik, yang merupakan fakta yang tidak dapat disangkal. Tetapi, memusatkan kecantikan sebagai identitas diri yang mutlak juga dapat berisiko pada nilai diri yang menjadi rapuh, menggantungkan penilaian hanya pada sesuatu yang sementara, sesuatu yang relatif, sering berubah, serta sering kali berada di luar kendali individu.
Meskipun hal tersebut berasal dari tekanan kehidupan, tetapi tidak semestinya perempuan hanya mengandalkan pada penampilan fisik. Hal yang paling penting justru terletak pada bagaimana kita memandang dan memaknai sesuatu. Perempuan yang mengembangkan pengetahuan dan juga kreativitasnya akan lebih berpeluang berpartisipasi dalam pendidikan maupun ruang kepemimpinan. Mengembangkan kapasitasnya dalam berpikir kritis sebenarnya menjadi peluang perempuan untuk menyuarakan keresahan hatinya, yaitu mempertanyakan standar sosial yang selama ini diterima mentah-mentah. Bahwa standar yang selama ini terasa memaksa dan mencekik perempuan, bukanlah kebenaran mutlak, tetapi hanya konstruksi sosial yang patut untuk diperdebatkan dan dinegosiasikan. Perempuan berdaya yang sebenarnya, yang dihargai, dihormati, disayangi, bahkan dicintai, bukanlah hanya sekadar yang memiliki rupa yang menawan, justru lebih banyak karena gagasannya, keterampilannya, kreativitasnya, serta kontribusi yang sanggup memberikan dampak nyata bagi masyarakat atau lingkungan sekitarnya.
Ada bagian yang sering luput dari perbincangan mengenai bagaimana perempuan dilihat cantik bukan dari sudut pandang fisik, tetapi pada kualitas batin dan ketulusan hati. Empati, kasih sayang, kemampuan membangun relasi yang sehat, kepedulian, merupakan definisi cantik yang bukan dilihat pada keindahan paras, tetapi bagaimana ketulusan itu mampu menciptakan ruang yang nyaman dan manusiawi untuk sesama. Ketulusan hati juga menjadi sumber daya psikologis yang membantu dalam menghadapi tekanan sosial ketika nilai pribadi tidak semata-mata ditentukan oleh rupa, perempuan sejatinya memiliki pilar yang lebih kokoh untuk menilai dirinya sendiri melalui kualitas lain yang lebih konkret. Oleh karena itu, perempuan mampu untuk tidak sepenuhnya bergantung pada pengakuan luar yang tidak pernah konsisten. Maka, jika perempuan merasa tidak pernah cantik menurut standar tertentu, bukan berarti merupakan perempuan yang tidak bernilai. Perempuan melalui hatinya yang cantik, luas wawasannya, lapang kepribadian yang dimiliki, serta nilai moral yang dipegang. Semua itu adalah modal yang tidak akan hilang atau berubah sampai kapan pun. Cantik di fisik akan memudar oleh waktu, sementara kecerdasan dan hati yang tulus, akan selalu dihargai serta dikenang oleh sekitarnya.
Perempuan cantik itu dihargai. Cantik itu dipedulikan, cantik itu disayangi. Cantik itu disukai. Cantik itu segalanya. Cantik itu harus kurus. Cantik itu harus putih. Cantik itu harus simetris Jika perempuan tidak mampu memenuhi standar yang orang-orang gaung-kan, maka tiada keliru untuk cantik dengan caranya sendiri, dengan “harumnya” sendiri. Perempuan berdaya dengan pikirannya yang mampu melahirkan gagasan, hatinya mampu menanamkan empati, dan keberaniannya untuk tidak selalu tunduk pada standar yang membatasi diri. Kecantikan fisik memang menarik, tetapi hanya sesaat. Sedangkan kecerdasan, integritas, dan ketulusan hati adalah kualitas yang memberi makna lebih mendalam pada bagaimana perempuan dihargai dalam jangka yang panjang. Pada akhirnya, penghargaan terhadap keberdayaan perempuan dan pandangan masyarakat, tidak seharusnya berhenti pada fisik, tetapi juga pada kontribusi, gagasan, serta karya yang dihasilkan. Sehingga perspektif ini membuka cakrawala intelektual bagi keberagaman cara perempuan untuk berdaya.






