Halo, nama saya Malika, mahasiswi semester tiga di salah satu kampus di Jakarta. Usia 20 tahun, tapi rasanya sudah seperti dua kali lipat itu. Dulu kecil di kampung kecil di pinggiran Jawa timur. hidup saya sederhana, bangun pagi bantu ibu masak, cuci piring, sapu halaman, sambil dengar omongan tetangga, “Perempuan mah harus bisa urus rumah tangga dulu, baru sekolah.” Tapi Ayah bilang, “Belajar tidak cukup SMA aja.” Itu norma di kampung kami perempuan untuk dapur, laki-laki untuk ladang atau kantor. Saya terbiasa, tapi dalam hati sering bertanya: kenapa saya nggak boleh bermimpi lebih besar?
Pas lulus SMA dan diterima kuliah di kota, dunia berubah drastis. Dari rumah kayu sederhana, pindah ke pesantren dekat kampus. Di sini, saya lihat perempuan lain: teman sekelas yang jadi ketua himpunan, dosen perempuan yang pimpin proyek riset, bahkan mahasiswi yang demo soal kekerasan seksual. Awalnya kaget. Di kampung, bicara feminisme? Itu kata asing, seperti omongan orang kota yang sok modern. Tapi lama-lama, pengalaman pribadi buka mata saya.
Ingat pertama kali? Di kampung, kalau ada hajatan, perempuan disuruh masak dari pagi, sementara laki-laki duduk santai ngobrol. Saya pernah protes ke ibu, “Kenapa cowok nggak bantu?” Jawabannya klasik: “Itu tugas perempuan.” Pindah ke kota, di kelompok diskusi kampus, kami bagi tugas adil siapa pun yang kuat, kerjakan. Ternyata, gender nggak menentukan kemampuan. Saya mulai sadar, isu gender ini bukan cuma soal hak, tapi soal keadilan sehari-hari. Feminisme, bagi saya, bukan gerakan radikal anti laki-laki, tapi perjuangan supaya perempuan punya pilihan sama: sekolah tinggi, kerja impian, atau bahkan milih berkarier setelah menikah .


