Laboratorium elektronika selama ini dipahami sebagai ruang yang sunyi, tempat praktikan sibuk membaca skema rangkaian, menulis kode program, dan memastikan LED menyala sesuai instruksi modul sebuah ruang yang seolah bisu akan suara dan gagasan personal. Padahal, di balik deretan kabel jumper dan papan Arduino yang tersusun rapi, tersimpan potensi besar untuk menjadikan laboratorium sebagai arena dialog ilmiah yang hidup, tempat mahasiswa tidak hanya belajar merakit komponen, tetapi juga merakit argumen.
Ketika dua kelompok praktikum mendapatkan hasil output sensor yang berbeda, seorang praktikan mempertanyakan efisiensi kode program yang digunakan, atau saat diskusi kecil tentang interpretasi data serial monitor berubah menjadi debat hangat mengenai logika pemrograman. Dari situlah sebenarnya esensi student voice bersemi. Praktik argumentasi dan kebebasan berpendapat dalam praktikum elektronika berbasis Arduino bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan fundamental yang mencerminkan hak mahasiswa untuk berpikir kritis, menyuarakan gagasan, dan dihargai pendapatnya dalam proses keilmuan.
Eksplorasi terhadap fenomena ini penting dilakukan untuk membongkar mitos bahwa laboratorium elektronika hanya tentang kepatuhan pada kode program dan kebenaran tunggal, serta untuk membangun kesadaran bahwa di balik jas putih yang dikenakan, ada manusia-manusia muda yang haus akan ruang berekspresi dan pengakuan atas kontribusi intelektual mereka dalam setiap proyek yang mereka ciptakan.
Salah satu cara mempelajari elektronika dengan baik adalah melalui pembelajaran langsung dalam kegiatan praktikum dan eksperimen. Kegiatan praktikum memiliki peranan penting dalam melatih cara berpikir dan memperoleh data melalui proses penemuan, sekaligus membangun pemahaman konsep, verifikasi kebenaran, menumbuhkan keterampilan proses, meningkatkan motivasi, serta melatih kemampuan psikomotor peserta didik.
Untuk itu kegiatan laboratorium (praktikum) merupakan bagian yang penting karena dengan melatih kegiatan-kegiatan ilmiah mengobservasi yang dilakukan melalui kegiatan laboratorium (praktikum elektronika) Saat praktikum, praktikan akan memperoleh berbagai keterampilan, antara lain:
- Menyiapkan alat bahan yang akan digunakan
- Melakukan pengamatan (Observing)
- Membuat pengelompokan (Classifying)
- Melakukan pengukuran (Measuring)
- Merekam, mencatat data (Recording data)
- Menyalin, mengulang (Replicating)
- Memaknai data (Interpreting data)
- Merumuskan hipotesis (Formulating hypotheses)
- Menduga, berpendapat, menarik kesimpulan (Inferring)
Dalam peranan kegiatan laboratorium saat praktikum dilakukan praktikan dapat memberikan kesempatan untuk mempelajari cara berpikir sistematik dalam melakukan penyimpulan atau generalisasi , memberikan pengalaman-pengalaman yang memungkinkan mahasiswa dapat mengapresiasikan dan memahami cara kerja seorang ilmuwan dalam kegiatan inkuiri
Metode praktikum pada hakikatnya meniru pekerjaan para fisikawan yang senantiasa melakukan eksperimen dan penelitian. Namun, di balik peran-peran fundamental tersebut, praktikum elektronika berbasis Arduino menyimpan potensi yang lebih dalam, yaitu menjadi ruang dialog ilmiah tempat mahasiswa tidak hanya membuktikan teori, tetapi juga melatih keberanian menyuarakan gagasan, mempertajam argumentasi, dan mempraktikkan kebebasan berpendapat
.
Gambar 1. Saat melakukan Praktikum Elektronika menggunakan Sensor Arduino
Ketika mahasiswa dihadapkan pada hasil pembacaan sensor yang tidak sesuai ekspektasi, menemukan error dalam kode program, atau berdiskusi mencari solusi paling efisien untuk suatu rangkaian di situlah esensi student voice menemukan wujudnya. Praktikum tidak lagi sekadar ajang verifikasi konsep, melainkan transformasi menjadi laboratorium pemikiran kritis yang menghidupkan hak setiap mahasiswa untuk bertanya dengan asisten laboratorium atau dengan teman nya saat berbeda pendapat, dan akan dihargai kontribusi intelektualnya, sebagaimana nilai-nilai Hak Asasi Manusia dalam pendidikan yang menjamin kebebasan berekspresi dan berpendapat.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa hak asasi manusia adalah konsep yang dapat diterima secara universal sebagai prinsip dalam HAM, yang secara historis berisi gagasan tentang hak alami sebagai bagian dari hakikat kemanusiaan yang paling fundamental. Hak untuk bersuara, berpendapat, dan dihargai gagasannya merupakan bagian dari hakikat kemanusiaan yang melekat pada setiap individu, termasuk mahasiswa yang sedang menekuni praktikum elektronika.
HAM menjadi suatu nilai yang menjadi prioritas untuk diimplementasikan melalui media penyelenggaraan pendidikan di sekolah dan perguruan tinggi. Pendidikan telah terbukti mampu mengembangkan sumber daya manusia yang merupakan karunia Allah Swt, dan salah satu wujud nyata pengembangan tersebut adalah ketika mahasiswa diberikan ruang untuk mengekspresikan gagasan, berargumentasi, dan berdiskusi secara bebas dalam kegiatan praktikum.
Dalam Student Voice in the Lab: Eksplorasi Praktik Argumentasi dan Kebebasan Berpendapat dalam Praktikum Elektronika, implementasi nilai-nilai HAM tersebut terwujud ketika mahasiswa tidak hanya menjadi penerima instruksi pasif di laboratorium, tetapi menjadi subjek aktif yang berani mempertanyakan logika pemrograman, mendebat efisiensi kode Arduino, serta menyuarakan alternatif solusi dalam memecahkan masalah rangkaian elektronika. Dengan demikian, praktikum elektronika tidak hanya menjadi wahana pengembangan keterampilan teknis, tetapi juga menjadi medium strategis untuk menanamkan dan membudayakan nilai-nilai HAM, khususnya kebebasan berpendapat dan hak untuk didengar, sebagai bagian dari proses pendidikan yang memanusiakan manusia.


