Artificial Intelligence atau yang sering dikenal dengan AI merupakan sahabat setia bagi mahasiswa di zaman sekarang. Kemudahan yang diberikan membuat mahasiswa lebih sering menggunakan AI untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Namun, ada harga yang harus dibayar dibalik kemudahan-kemudahan tersebut.
Problematika Penggunaan AI dalam Proses Pembelajaran
Dengan adanya AI, proses berpikir kritis menjadi tidak sempurna sebab mahasiswa cenderung hanya menerima hasil dari apa yang mereka butuhkan atau ingin ketahui, tanpa melalui proses yang kompleks seperti mencerna informasi dan berpikir secara mendalam dari sebuah fenomena atau informasi yang mereka cari (Supriyadi, 2024).
Penelitian yang dilakukan oleh Azzahra et al., (2023) menunjukkan bahwa penurunan terhadap kemampuan kognitif mahasiswa dapat terjadi jika dalam menggunakan AI mahasiswa melewati proses berpikir kritis yang dapat diartikan bahwa mahasiswa menggunakan AI untuk menghasilkan jawaban instan tanpa melewati proses berpikir mendalam.
Jika tidak diatasi dengan baik, ketergantungan terhadap AI dapat menghambat proses penting dalam pembelajaran, seperti kemampuan dalam menganalisis masalah, merumuskan solusi dengan teliti, dan mengevaluasi hasil pekerjaan atau tugas (Firdaus et al., 2025). Artinya, ketika mahasiswa membiarkan AI mengerjakan bagian-bagian penting dalam proses pembelajaran atau berfikir, mahasiswa akan kehilangan kesempatan emas untuk melatih keterampilan memecahkan masalah dan mencari solusi efektif.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Lukman et al., (2023) dengan judul “Problematika Penggunaan Artificial Intelligence (AI) untuk Pembelajaran Dikalangan Mahasiswa” menyebutkan bahwa penggunaan AI yang berlebihan dapat menyebabkan beberapa masalah, seperti penurunan kemampuan berpikir kritis dan hambatan dalam pengembangan keterampilan diri.
Dari penelitian-penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa apabila mahasiswa menggunakan AI secara tidak teratur atau berlebihan dan menggantikan fungsi berpikir kritis dengan AI, mahasiswa berkemungkinan mengalami penurunan kemampuan berpikir kritis, penurunan kemampuan kognitif, hambatan dalam pengembangan keterampilan diri dan penurunan kemampuan untuk memecahkan masalah.
Yakin Otakmu Baik-Baik Saja? Ini yang Terjadi di Otak Kamu Saat Menggunakan AI Secara Berlebihan
Lalu apa sebenarnya yang terjadi di dalam otak saat kita menggunakan AI secara berlebihan? Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Natalia Kosmyna, Ph.D diakses dalam website Mit Media Lab (2025). Peneliti membagi peserta ke dalam 3 kelompok utama untuk menyelesaikan tugas berupa menulis essay:
- Kelompok AI: Peserta menggunakan bantuan AI dalam menyelesaikan tugas.
- Kelompok Mesin Pencari: Peserta menggunakan mesin pencari konvensional, mengandalkan kemampuannya untuk mengolah dan memproses informasi yang ditemukan.
- Kelompok Kekuatan Otak: Peserta menggunakan informasi yang mereka ketahui, mengolah serta memprosesnya untuk menyelesaikan tugas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang menggunakan kemampuan otaknya memperoleh aktivitas otak yang paling kuat, lalu kelompok yang menggunakan mesin pencari berada di tengah-tengah sedangkan kelompok yang menggunakan AI memiliki aktivitas otak yang paling lemah. Kesimpulannya adalah penggunaan AI yang berlebihan dapat mengurangi beban kerja kognitif yang menyebabkan kemampuan otak untuk berfungsi secara optimal menjadi berkurang.
Penelitian ini juga mengukur konektivitas saraf yaitu konsep yang menjelaskan tingkat efisiensi komunikasi antar berbagai bagian otak. Memasuki fase lanjutan studi, peneliti menemukan bahwa peserta yang sebelumnya memiliki riwayat penggunaan AI yang massif menunjukkan konektivitas saraf yang lemah dibandingkan dengan peserta lain yang menggunakan kemampuan otak mereka sendiri.
Hal ini dapat disimpulkan bahwa semakin jarang suatu jalur saraf diaktifkan maka semakin lemah koneksi yang terbentuk. Jika mahasiswa secara berlebihan memindahkan beban kognitifnya ke AI agar mendapatkan shortcut dalam menyelesaikan tugas akan menyebabkan ketergantungan yang dapat mengikis kemampuan kognitif mahasiswa.
Selain itu penggunaan AI yang tidak dikontrol dapat menyebabkan kemampuan daya ingat berkurang, menurut Jerry (2025) otak memiliki kecenderungan untuk mengalihkan tugas mengingat informasi ke perangkat digital, hal tersebut jika sampai menjadi ketergantungan dapat mengurangi kemampuan otak untuk menyimpan dan mengingat informasi dalam jangka panjang. Dalam artian otak memiliki kecenderungan untuk melupakan informasi yang mudah diakses melalui internet atau perangkat digital lainnya.
Pada saat memperoleh informasi dengan instan, hippocampus kurang terstimulasi – hippocampus adalah bagian otak yang memiliki peran dalam pembentukan memori – hal tersebut dapat terjadi karena kita mengandalkan AI untuk mengingat sehingga hippocampus menjadi kurang aktif yang dapat menyebabkan penurunan fungsi memori seiring berjalannya waktu (Jerry, 2025).
Risikonya dalam masa tua dapat menyebabkan gangguan memori, apabila kita tidak melakukan latihan memori secara aktif seperti membaca buku dan belajar mengingat informasi yang tertera di dalam buku atau mencoba mengingat informasi tanpa bantuan digital, kegiatan-kegiatan tersebut dapat membantu kesehatan memori otak dalam jangka panjang (Jerry, 2025).
Cara Menggunakan AI yang Bikin Kamu Makin Cerdas bukan Malas
Lalu bagaimana cara menggunakan AI dengan bijak tanpa mengganggu fungsi kognitif otak? Menurut Syafa (2025) AI dapat digunakan sebagai referensi belajar selama tidak menyalin hasil mentah dari AI tanpa disaring terlebih dahulu. Selain itu, ketika menggunakan AI untuk tugas akademik wajib mencantumkan sumber yang dapat dipercaya agar tidak masuk ke dalam kategori plagiasi. AI juga dapat melatih kemampuan berpikir kritis–situasi ini dapat terjadi apabila mahasiswa menganalisis dan memverifikasi informasi yang diberikan AI serta memilih dan menilai sumbernya. Kesimpulannya peran AI hanya sebagai pemberi informasi bukan pengganti fungsi utama kognitif mahasiswa, berpikir mandiri tetap menjadi pondasi inti dalam proses pembelajaran.






