Baiduri Tak Sendiri: Jejak Perempuan dalam Peradaban Islam yang Jarang Dibicarakan

sumber: dafunda.com

Di tengah gempuran tontonan digital saat ini, tak sedikit yang menyoroti bagaimana perempuan diposisikan dalam narasi agama. Serial Malaysia “Bidaah” yang belakangan ini viral, hadir seakan menjadi tamparan halus. Menghadirkan tokoh fiktif bernama Baiduri, seorang perempuan muda yang terjebak dalam sekte religius manipulatif. Ia dihujat bukan hanya karena apa yang ia ucapkan, tetapi karena ia perempuan yang berani bersuara.

 

Di balik dramatisasi yang terasa berlebihan, kisah Baiduri menyiratkan suatu hal, betapa mudahnya sosok perempuan dimanfaatkan, dibungkam, bahkan dikorbankan oleh sistem yang mengatasnamakan agama, tapi jauh dari nilai sejatinya. Padahal, Islam sejatinya sejak awal hadir sebagai revolusi untuk membebaskan perempuan dari eksploitasi, bukan untuk membungkam tapi untuk mengangkat, membebaskan mereka dari dominasi yang menindas, dan menjadikan mereka pilar dalam membangun peradaban.

 

Baiduri mungkin hanya tokoh fiksi. Namun luka yang ia bawa dan suara yang ia suarakan terpantul dari kisah nyata para perempuan Muslimah dalam sejarah. Sayangnya, sejarah itu seringkali ditulis hanya dengan tinta laki-laki. Dan nama-nama perempuan, hanya menjadi catatan kaki atau bahkan tak dicatat sama sekali.

 

Perempuan dalam Sejarah Peradaban: Tersembunyi Tapi Kokoh

Jika kita menelusuri lembaran sejarah, akan ditemukan bahwa peradaban besar selalu dibangun di atas pilar yang kokoh. Namun, ada satu pilar yang seringkali terabaikan dalam narasi sejarah yaitu perempuan. Sejarah peradaban manusia sering kali menempatkan perempuan dalam posisi pinggiran, terlihat tetapi tidak diakui, ada tetapi sering dilupakan, hadir tetapi tidak dihitung. Nama-nama besar di dalam narasi medan perang, para pemikir, dan pemimpin kerap didominasi oleh kaum laki-laki, seolah-olah perempuan hanyalah bayang-bayang, bukan aktor utama dalam perjalanan peradaban.

 

Namun Islam datang dengan lembaran yang berbeda dan prinsip yang tegas bahwa perempuan dan laki-laki memiliki derajat yang sama di mata Allah dalam hal keimanan dan amal saleh. Firman Allah dalam surah Al-Ahzab ayat 35 menegaskan:

 

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang jujur, laki-laki dan perempuan yang sabar laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”

 

Dalam jejak-jejak kejayaan Islam, kita banyak menemukan perempuan sebagai pendidik, pemikir, saudagar, bahkan pemimpin. Mereka bukan pelengkap, apalagi pengganggu, mereka adalah fondasi peradaban itu sendiri. Islam tidak hanya memberi hak, tapi juga tempat. Tidak hanya menyetarakan dalam hukum, tapi juga memuliakan dalam sejarah. Di balik banyak pencapaian gemilang umat ini, tersembunyi nama-nama perempuan yang selama ini nyaris tak disebut. Mereka adalah pilar yang terabaikan. Tapi tanpa mereka, bangunan itu tak akan pernah berdiri kokoh.

 

Sebelum Wahyu, Perempuan Tak Dianggap Ada. Sebelum Islam datang, tanah Arab menyimpan luka yang cukup panjang. Bukan hanya karena perang atau kemiskinan semata, tetapi karena sebuah kezaliman yang nyaris dianggap wajar, perempuan tidak hanya tak dihargai, mereka bahkan tak diinginkan. Anak perempuan dikubur hidup-hidup, bukan karena kesalahan, tapi karena keberadaan. Lahir sebagai perempuan adalah aib bahkan hidup sebagai perempuan adalah hukuman. Dalam keluarga, mereka tak diberi warisan. Dalam masyarakat, mereka tak diberi tempat. Dalam sejarah, mereka nyaris tak disebut. Perempuan di masa Jahiliyah tak hanya sekadar dibungkam, tapi mereka dihapus.

 

Bukan hanya dari suara, tapi dari eksistensi.

 

Perempuan berada di tepi jurang kehidupan, bukan hanya secara simbolis, tapi sungguhan. Mereka tak bisa memilih, tak bisa bersuara, dan tak punya ruang di antara lembaga sosial, politik, apalagi agama. Mereka ada, tapi tak dianggap ada. Zaman itu bukan hanya zaman kegelapan karena tak ada wahyu, tapi juga karena cahaya keadilan belum benar-benar menyentuh kaum perempuan. Peradaban berdiri di atas tubuh-tubuh bisu mereka, dan tak ada yang peduli untuk bertanya apa yang mereka pikirkan. Dan di tengah dunia yang gelap itulah, Islam turun. Bukan sekadar perbaikan sistem. Tapi revolusi total seperti sebuah cahaya yang pertama kalinya datang untuk menerangi.

 

Cahaya yang Mengangkat Mereka dari Bayangan

Ketika wahyu pertama turun di Gua Hira, dunia perlahan berubah. Bukan dengan pedang, tapi dengan Cahaya yang mulai meruntuhkan dinding-dinding kezaliman yang selama ini dianggap lumrah, termasuk terhadap perempuan. Islam datang bukan untuk menaklukkan perempuan, tapi untuk mengangkat mereka. Dari yang dianggap aib menjadi amanah. Dari beban menjadi berkah. Dari makhluk kelas dua menjadi mitra sejajar dalam membangun peradaban. Rasulullah tidak hanya mengajarkan bagaimana menghormati perempuan, tapi menunjukkannya lewat teladan. Beliau mendengar pendapat, bermusyawarah, dan membela mereka.

 

Bahkan dalam peristiwa krusial seperti peristiwa Hudaibiyah, justru Ummu Salamah lah yang memberi solusi disaat para sahabat dilanda keraguan. Perempuan disapa sebagai subjek, bukan objek. Seperti Ibunda Maryam yang namanya diabadikan di dalam Al-Qur’an dengan penuh kehormatan. Islam memberi hak mewaris, hak kepemilikan, hak menentukan hidup, bahkan hak menggugat jika dizalimi. Dan tak berhenti di sana, perempuan juga menjadi pewaris ilmu. Aisyah r.a. bukan sekadar istri Nabi, tapi ulama dan rujukan fiqih. Ini adalah revolusi. Tapi bukan revolusi yang gaduh atau berdarah. Ini revolusi lembut yang mengubah arah sejarah, dan menjadikan perempuan sebagai bagian sah dari cetak biru peradaban Islam.

 

 

Perempuan yang Mengubah Arah Sejarah

Hari ini, dunia begitu dipenuhi oleh suara-suara yang bersaing, dengan perempuan seringkali berada di tengah perdebatan dan pencarian identitas. Namun, kita diingatkan bahwa suara mereka sudah ada sejak zaman dahulu, terpatri dalam sejarah, meski kadang tersembunyi di balik bayang-bayang. Perempuan tidak pernah menjadi bagian yang terpisahkan dari peradaban ini, Islam justru menempatkan mereka sebagai pilar yang kokoh. 

 

Seorang perempuan yang berdiri dengan beraninya di tengah medan Perang Uhud. Pedangnya terhunus. Darah mengalir dari tangannya, tapi matanya tak gentar. Ia berdiri tak jauh dari Rasulullah SAW, menjaga beliau ketika para sahabat terpukul mundur. Namanya Nusaibah binti Ka’ab (Ummu Umarah), seorang ibu, pejuang, pelindung. Tapi sejarah sering kali menyebutnya sekilas, lalu melupakan.

 

Lalu lihatlah Aisyah binti Abu Bakar, perempuan yang menghabiskan hidupnya dalam pusaran ilmu. Ia meriwayatkan lebih dari dua ribu hadits, menjadi ahli fiqih, dan bahkan menjadi rujukan para sahabat laki-laki. Saat umat bingung dalam hukum atau tafsir, mereka datang padanya. Tapi dalam buku sejarah populer, namanya seringkali hanya disebut tak lebih sebagai “istri Nabi SAW”.

 

Tak hanya di bidang keilmuan, perempuan Muslim juga berperan aktif dalam dunia ekonomi. Khadijah binti Khuwailid adalah contoh nyata bagaimana Islam tidak membatasi peran perempuan di ranah publik. Sebagai seorang saudagar sukses, Khadijah tidak hanya menjalankan bisnisnya dengan cemerlang, tetapi juga menjadi pendukung utama dakwah Rasulullah . Contoh bahwa perempuan dapat menjadi pemimpin dalam dunia bisnis. Bahkan, Rasulullah sendiri bekerja padanya sebelum menerima wahyu pertama.

 

Tidak hanya dalam bidang perdagangan, perempuan juga menorehkan sejarah dalam kepemimpinan politik. Syajar al-Durr, seorang sultanah Mesir, memimpin dengan tangan besi dan berhasil mempertahankan negerinya dari serangan pasukan Salib. Selain Aisyah, Fatimah al-Fihri juga merupakan contoh bagaimana Islam memberikan ruang bagi perempuan untuk menjadi agen perubahan. Pada abad ke-9, ia mendirikan Universitas Al-Qarawiyyin di Maroko, yang hingga kini diakui sebagai universitas tertua di dunia. Lembaga akademik modern, pada banyak hal, berdiri di atas tekad seorang Muslimah Rufaida al-Aslamiyah atau Rufaidah binti Saád, seorang pekerja medis dan sosial Arab pada zaman Rasulullah yang diakui sebagai perawat muslim pertama dalam islam. 

 

Meskipun ada sedikit kontroversi tentang siapa yang “secara teknis” ia adalah dokter bedah atau perawat, tetapi negara-negara timur tengah mengaitkan status perawat pertama dengan Rufaida.Tidak hanya itu, Rufaida melatih sekelompok wanita dari kalangan sahabat sebagai tenaga medis perempuan, dan mengatur logistik dengan presisi agar bisa membantu dan berkontribusi saat perang bersama Rasulullah. Dalam era yang belum mengenal sistem kesehatan publik, Rufaida sudah menjadi pelopornya. Dan Hafsah binti Umar, penjaga mushaf Al-Qur’an. Al-Qur’an yang kita baca hari ini, salah satu jalurnya sampai pada kita karena peran Hafsah.

 

Nama-nama ini pernah bersinar terang. Tapi seiring waktu, mereka jadi bintang yang tertutup awan, masih bersinar, namun tak terlihat. Perempuan dalam Islam bukan figuran, arsitek, pejuang, bahkan penjaga cahaya. Jika sejarah Islam mencatat banyak perempuan luar biasa, mengapa hanya sedikit dari mereka yang dikenal hari ini?

 

 

Seiring berjalannya waktu, gambaran perempuan dalam Islam mengalami pergeseran. Dalam banyak narasi modern, perempuan Muslim sering kali dikaitkan dengan keterbatasan, seakan-akan Islam hanya memberikan mereka ruang di balik dinding rumah. Padahal, sejarah membuktikan bahwa perempuan Muslim memiliki peran besar dalam membangun peradaban.

 

Yang menjadi tantangan saat ini adalah bagaimana menyeimbangkan nilai-nilai Islam dengan tuntutan zaman tanpa kehilangan esensi dari ajaran yang telah mengangkat martabat perempuan.

 

Perempuan bukan hanya penjaga rumah tangga, tetapi juga penjaga ilmu, penggerak ekonomi, pejuang di medan perang, dan pemimpin dalam masyarakat. Mereka telah membuktikan peran mereka dalam sejarah Islam. Jika perempuan Muslim terdahulu mampu berdiri tegak sebagai ilmuwan, saudagar, dan pemimpin, maka perempuan Muslim hari ini pun harus menyadari bahwa mereka memiliki hak yang sama untuk berkarya dan berkontribusi. peradaban yang besar tidak hanya dibangun oleh satu tangan, tetapi oleh banyak tangan baik dari tangan laki-laki maupun perempuan. Jejak yang Tak Pernah Hilang, Hanya Tertunda.

 

Kembali lagi pada kisah Baiduri, sebagai tokoh fiktif dalam “Bidaah”, mungkin ia hanyalah sebuah karakter dalam sebuah cerita. Tetapi dalam dirinya, terwakili keresahan yang nyata kebingungan tentang ajaran yang diselewengkan, keberanian untuk mempertanyakan dan menyuarakan yang benar. Ia adalah gambaran dari perempuan Muslim hari ini yang masih berjuang untuk menyuarakan kebenaran dalam dunia yang kadang lupa mendengar. Baiduri bukanlah satu-satunya. Di belakangnya, ada ribuan perempuan yang telah menulis sejarah mereka dalam tinta yang tak pernah pudar.

 

Kita mempunyai banyak warisan wanita-wanita hebat pada masanya. Kita punya Aisyah, Fatimah, Ummu Salamah, dan ribuan nama lainnya yang hanya sekilas tertulis dalam sejarah atau bahkan tak pernah dituliskan. Mereka pernah memimpin, berjuang, mengajar, menciptakan, dan mengubah dunia. Kini, giliran kita yang bukan hanya mengenang, tapi melanjutkan. Sudah saatnya sejarah ditulis ulang dengan tinta yang lebih adil. 

 

Saat ini, dengan berjalannya waktu suara mereka mulai didengar kembali dalam tulisan, film, diskusi, diri kita sendiri. Jangan takut untuk mengangkat suara. Jangan ragu untuk bertanya dan berjuang untuk kebenaran, karena mungkin suara kita adalah sambungan dari mereka yang telah lebih dulu berbicara demi keadilan dan kebenaran.

 

Mungkin kita tidak sekaya Khadijah, yang hartanya menopang risalah dakwah. Tidak sepintar

 

Aisyah yang kecintaannya pada ilmu, meski dalam kesibukan yang tiada henti, mampu menuntun umat dengan pengetahuannya. Kita juga tidak seberani Nusaybah, yang berdiri teguh di medan Uhud dengan pedang di sisi Rasul atau seteguh Fatimah az-Zahra yang dalam kesunyian rumahnya memiliki ketegaran yang lembut hingga menyayat langit. Kita pun tidak memiliki ruang belajar yang besar sebagaimana Fatimah al-Fihri yang mendirikan sebuah universitas ternama, yang dengan warisannya itu bisa mencerdaskan umat. Meskipun nama kita mungkin tidak akan tercatat dalam kitab sejarah besar, kita masih memiliki suara seperti Baiduri yang melantunkan kata-kata, meski dalam diam. Kita adalah perempuan-perempuan hari ini yang berjalan dalam sunyi dan membawa sisa-sisa cahaya yang diwariskan oleh mereka yang telah mendahului.

 

Peradaban ini dulu dibangun oleh campur perempuan dan akan terus dijaga oleh perempuan. Walaupun zaman terus berubah, kita tahu bahwa jika kita diam, sejarah akan terus mengulang kelupaannya. Kita mungkin bukan nama besar, tetapi kita bukan penonton dalam kisah ini. Kita adalah penulis bab berikutnya. Jika perempuan pernah menjadi tiang peradaban, maka hari ini, kita pastikan tiang itu tidak roboh.

Berita Terbaru

3 Responses

3 thoughts on “Baiduri Tak Sendiri: Jejak Perempuan dalam Peradaban Islam yang Jarang Dibicarakan”

  1. To acquire the benefits of creatine with fewer minor side-effects (like bloating or
    upset stomach), divide your total daily dose into smaller doses of 5 grams, evenly spaced throughout the day.
    However if you’re a larger-than-average particular person, or don’t discover advantages with 5 grams per
    day, go ahead and verify out taking 10 grams of creatine day by day.

    At Levels, we advocate most individuals take 5 grams of creatine daily
    to reinforce train performance. When you might have a
    tough exercise, your muscles develop small micro-tears.

    It plays a crucial position in producing power, particularly during brief bursts of intense exercise like weightlifting or sprinting.

    There are still limitations in present research, particularly
    relating to long-term effects and individual variability.
    Extra research are wanted to totally perceive
    how these dietary supplements can be optimized for various
    health goals and demographic teams.
    This naturally occurring molecule is vital for energy production inside our muscle tissue, making its study compelling for those intrigued by creatine advantages.
    Creatine is known to trigger water retention within the muscular tissues, which is usually a good factor for athletic efficiency.
    Nonetheless, this will result in a brief lived enhance in physique weight,
    as the muscles draw in additional water. If you’re an athlete in a weight-sensitive
    sport, similar to gymnastics or wrestling, you may need to keep away from
    the loading part to minimize fast water weight gain. As An Alternative, opt for the daily
    upkeep dose to attain the advantages of creatine with out drastic adjustments to your physique composition.
    In reality, consuming creatine-containing foods will solely cause your muscles to store about 60-80% creatine whereas utilizing
    supplements will maximize the creatine stores in your muscular tissues.
    There’s no debating the unbelievable effects of creatine, a substance produced by the physique that can additionally be found in purple meats and seafood.
    It’s saved principally in muscle tissue the place it’s
    used as an vitality supply, however it’s additionally found within the brain, liver, and kidneys.

    First, like I talked about before, I all the time really
    feel better when I’m monitoring my macros. This is principally as a end result of it
    retains me in examine and ensures that I’m eating enough of the best meals for me
    (aka, not all of the sugar), and likewise getting an enough quantity of
    protein everyday. No, you can exercise at home
    using dumbbells and bands or exercise on the fitness center.

    It gives you everything you want to achieve success
    – movies, form coaching, and so on., whether you’re a
    newbie (like I was) or experienced (like I am now). While I noticed some ends in the first 6 weeks, I quickly
    realized that this journey is lifelong.
    Nonetheless, analysis suggests the loading section ought to comprise 20 to 25 g of creatine day by day for five to
    7 days. Nonetheless, a large 2021 evaluation discovered that creatine supplementation may have a number of advantages
    for females, no matter whether or not they bear a loading phase or
    a gradual method. This technique might take three further
    weeks to maximise your muscle shops compared to creatine loading,
    so you would possibly have to wait longer to see the benefits of creatine.

    Nonetheless, if you’re a larger-than-average person, or don’t notice advantages with 5 grams per day, you can use 10 grams of creatine day by day for maintenance as an alternative.
    Once you load creatine, you possibly can maintain the effects
    of creatine indefinitely with lower doses. So if
    you’ve already used a loading phase, you don’t must load again until you take a break from supplementing with it.
    The creatine loading part refers to the follow of taking a better dose of creatine every day for about one week.

    This vigilance helps be positive that your body is responding favorably to ongoing supplementation, and that no underlying health situations are being exacerbated.
    For many years, creatine has been a staple within the supplement regimen of athletes and health
    fanatics. Analysis suggests that consistent creatine use doesn’t result in important
    long-term health dangers, provided that it’s consumed inside recommended limits.
    The onset of supplementation usually begins with the creatine loading part, a interval characterised by larger creatine consumption geared toward quickly maximizing muscle stores.
    After laying the groundwork throughout this section, I shift to a upkeep mode, where the main target is on preserving these excessive creatine ranges.
    This transition is crucial for yielding continued benefits even when I’m away from the fitness center.
    To sum up, my deep dive into nutrition’s impression on creatine has solidified my belief in the power of mixing these particular nutrients with creatine supplementation.
    You can certainly attain the identical peak muscle creatine levels with no loading part, it simply takes barely longer.
    In the research of young adults, creatine supplementation without
    a loading dose still had a optimistic impact on muscle mass, sport performance, and muscle energy within two weeks [24].
    Wholesome untrained younger subjects had been recruited in 2 of the 16
    studies.

    References:

    neurotrauma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *