Saat ini Indonesia sedang mengalami transformasi digital besar-besaran. Mulai dari munculnya inovasi-inovasi baru hingga berkembangnya sistem kecerdasan buatan atau yang sering disebut AI. Kehadiran AI di era globalisasi ini sangat membantu kehidupan manusia, mulai dari belajar, bekerja, hiburan, hingga sekadar melakukan pencarian biasa. Hal ini dikarenakan AI terbilang praktis karena ia sudah meringkas dan menyederhanakan jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Tidak seperti dulu, dimana orang-orang harus menyusuri tiap lembar halaman atau artikel dengan susah payah dan hal itu sangat memakan waktu. Selain itu, AI juga memiliki jangkauan data dan perhitungan yang luas. Sehingga setiap permintaan yang tertulis akan diakumulasikan dengan detail berdasarkan data-data yang dikumpulkan.
Di sinilah dilema penggunaan AI tersebut muncul. Penggunaan AI yang kian marak dan masif membuat orang-orang menjadi malas berpikir dan hanya memedulikan bagaimana cara mendapatkan jawaban dengan cepat dan akurat. Tak jarang orang menggunakan AI untuk mengerjakan tugas dan ujiannya dengan cara menyalin langsung jawaban tanpa memahaminya terlebih dahulu. Otak jadi terbiasa dengan hasil cepat sehingga analisis dan kemampuan berpikir kritis tidak terlatih. Informasi yang diterima menjadi dangkal karena hanya menyetujui jawaban umum, bukan secara mendalam. Hal ini menyebabkan terhambatnya proses neuroplastisitas guna menyimpan memori juga berpikir kritis di otak.
Selain memengaruhi kemampuan berpikir, penggunaan AI dengan tidak bijak dapat merusak makna dari pendidikan itu sendiri. Dimana makna pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kecerdasan dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Jika seseorang menggunakan AI dengan tujuan mempermudah pekerjaan tanpa mempedulikan makna dan esensi dari pekerjaan tersebut maka semua usahanya terbilang sia-sia. Ia tidak mendapatkan ilmunya, bahkan nantinya malah akan menyulitkannya di masa depan jika kebiasaan tersebut terus berlanjut. Lantas jika kita sudah kecanduan menggunakan AI untuk menyelesaikan semua pekerjaan dan permasalahan tanpa kita memahaminya, apa yang bisa kita lakukan?
Tentunya mengembalikan pola pikir yang lama, dimana kita masih berusaha memahami dan memaknai setiap informasi yang kita dapatkan memerlukan waktu. Tapi, tetap saja hal ini bisa dilatih agar kita dapat kembali ke jalan yang seharusnya, dimana AI hanya menjadi teman diskusi bukan robot yang menjawab dan mengerjakan secara utuh semua persoalan kita. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan agar fungsi otak kita tidak melemah yang dapat menyebabkan kita malas berpikir atau sekadar mengambil keputusan biasa:
- Berusaha mengandalkan kemampuan sendiri sebelum menggunakan AI
Hal ini bisa dilakukan dengan meletakkan perangkat untuk mengakses AI jauh dari kita atau mengunci semua akses ke pencarian AI. Pikirkan secara pelan-pelan dan bertahap, “Apa yang bisa aku pahami terlebih dahulu?” Jika mengalami kesulitan untuk memecahkan permasalahannya, bisa ditulis tahap-tahap awal untuk memecahkan masalah tersebut. Sehingga nantinya akan terpantik otak kita untuk menemukan jawaban baru atas permasalahan kita. Jika dirasa benar-benar sudah buntu barulah kita meminta bantuan AI untuk memahami permasalahan kita. Jangan lupa untuk memahami dengan benar jawaban yang diberikan AI agar otak tetap menyerap informasi yang didapat secara mendalam.
- Secara bertahap menghindari penggunaan AI
Jika sudah terlalu terbiasa menggunakan AI dalam kehidupan sehari-hari, memang agak sulit untuk melepaskan kebiasaan tersebut. Tidak perlu dipaksakan dalam sekali duduk tidak menggunakan AI sama sekali dalam mengerjakan sesuatu. Hal tersebut justru dapat menimbulkan burn out dan membuat kita kesulitan untuk memulai lagi dari awal. Beri batasan tertentu seperti, jika hanya mengerjakan persoalan kecil maka bisa melakukan pengecekan ulang jika sudah selesai mengerjakan. Jika persoalan yang dikerjakan cukup besar, boleh gunakan jika benar-benar sudah buntu. Otak juga memerlukan adaptasi secara bertahap setelah sekian lama terbiasa dimanja dengan AI.
- Membaca artikel populer dengan tema yang disukai
Ketika membaca hal-hal yang disukai, otak akan menjadi lebih tertarik dan fokus dengan topik yang dibicarakan. Hal ini bisa menjadi titik utama untuk membiasakan diri kembali membaca dan mengembalikan attention span yang semula pendek. Dimulai perlahan dari hal-hal yang disukai lalu beranjak perlahan ke hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan yang sedang dihadapi.
Tak apa jika masih kesulitan untuk beradaptasi. Semua orang pernah melakukan kesalahan dan merasakan titik jatuh mereka dalam berkembang. Setidaknya yang membedakan mereka adalah mereka yang masih mau berusaha untuk berubah dan menggunakan kemampuan sendiri untuk menyelesaikan pekerjaannya.






