Bukan Sekadar Hafalan: Menenun Moderasi Lewat Kurikulum Tak Kasat Mata

Sumber : https://id.pinterest.com/

Pendidikan merupakan salah satu aspek terpenting dalam kehidupan, tempat dimana generasi penerus bangsa dididik dan dibina. Sekolah seringkali dianggap sebagai pabrik ilmu pengetahuan, tempat generasi penerus mengejar angka dan gelar. Namun, jika pendidikan hanya terfokus pada transfer materi tanpa pembentukan nilai karakter, sekolah berisiko mencetak robot-robot intelektual yang pintar secara logika namun hampa dalam kepekaan sosial dan emosional. 

 

Implementasi moderasi beragama dalam pendidikan mendorong pemikiran kritis, sebab siswa diajak berpikir analisis dan menghargai perspektif orang lain yang menjadi keterampilan penting dalam masyarakat plural (Susanti, 2022). Masalahnya, pendidikan moderasi beragama selama ini sering disampaikan satu arah. Guru berceramah di depan kelas, siswa mencatatnya, lalu menghafal untuk ujian akhir. Konsep mulia seperti Wasathiyah hanya berakhir di lembar jawaban ujian, bukan sebagai pedoman perilaku. Ketika nilai-nilai luhurnya mati, esensinya akan menguap begitu saja. Kejadian seperti ini biasa disebut, “Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.”

Mengapa Pendidikan Berbasis Moderasi Beragama itu Penting?

Indonesia sebagai negara multikultural dengan beragam suku, bangsa, dan agama membuat keberagaman tersebut berpotensi menimbulkan konflik dan perpecahan, seperti sikap egosentris dan primordial apabila tidak diiringi dengan pemahaman yang baik dan sikap toleransi yang tepat. Lingkungan sekolah pun demikian, majemuk dengan perbedaan latar belakang agama dan keyakinan. Oleh karena itu, pendidikan memiliki peran strategis guna membentuk generasi yang moderat, inklusif, dan toleran. Sejalan dengan tujuan pendidikan Islam, yaitu membentuk insan kamil yang sempurna lahir batin. 

 

Moderasi beragama tidak hanya tentang toleransi, tetapi juga tentang memahami dan menghargai warisan budaya dan identitas agama masing-masing. Pendidikan yang  berbasis moderasi membantu siswa merasa terhubung dengan identitas mereka tanpa harus mengambil sikap ekstrem (Tanjung, dalam Fahmi, I. 2025).   Moderasi beragama adalah cara mencegah sikap ekstrem, baik yang bersifat radikal maupun liberal. Sehingga penting untuk menanamkan nilai moderasi pada siswa sejak dini, dimulai dari bangku sekolah.

 

Implementasi Pendidikan Moderasi Beragama

Bentuk implementasi moderasi beragama di sekolah ada dua macam, yaitu core curriculum dan hidden curriculum. Core curriculum merupakan kurikulum tertulis yang memuat pengetahuan umum untuk semua peserta didik sebagai bahan belajar. Contohnya, seperti pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang konten pembelajarannya diarahkan untuk membentuk karakter moderat. Sedangkan hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi memainkan peran dari sisi afektif pendidik yang menjadi contoh dalam mengamalkan pesan-pesan moral serta nilai-nilai positif yang berkaitan dengan moderasi beragama (Arifin S., 2023)

Jika Core Curriculum adalah tubuh dari pendidikan, maka Hidden Curriculum adalah jiwanya. Ia tidak tertulis dalam silabus, pula tidak dituliskan di atas kertas ujian. Akan tetapi, selalu membekas dalam ingatan setiap peserta didik.

Bagaimana cara guru bereaksi saat ada perbedaan pendapat di kelas? 

Bagaimana staf sekolah menyapa siswa yang memiliki latar belakang berbeda?

Hal-hal kecil seperti inilah yang justru lebih cepat diserap siswa ketimbang ribuan kata di buku paket. Siswa adalah pengamat dan peniru yang ulung. Mereka mungkin saja tidak selalu menjalankan apa yang kita katakan, tapi mereka bisa meniru semua yang kita contohkan. 

 

Salah satu kekeliruan besar adalah menganggap moderasi beragama hanyalah tugas bagi guru PAI. Padahal untuk menanamkan nilai moderasi dibutuhkan kerja sama semua pihak, dari guru hingga staf sekolah. Keteladanan adalah kurikulum hidup yang tak tertandingi efektivitasnya. Ketika seluruh elemen sekolah mempraktikkan sikap inklusif, sekolah bertransformasi menjadi ruang pencetak generasi madani.  Implementasi Hidden Curriculum bisa diperkuat dengan pengadaan ruang diskusi agar moderasi beragama tak lagi diajarkan secara doktrin yang kaku. Siswa diberi panggung untuk saling bertukar pandangan dan dilatih mendengar untuk memahami. Dalam diskusi ini guru tidak berperan sebagai penilai, tetapi sebagai fasilitator jalannya diskusi agar tetap pada jalur toleransi. 

 

Secara tidak langsung, penguatan kurikulum tak kasat mata ini juga menjadi benteng pertahanan terhadap kasus perundungan (Muawanah dkk., 2024). Sebagian besar konflik di sekolah berakar dari egosentrisme dan ketidakmampuan menerima perbedaan. Melalui moderasi yang diimplementasikan secara alami sehari-hari, siswa belajar untuk melihat perbedaan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai variabel yang melengkapi kehidupan mereka. Dengan demikian, sekolah benar-benar menjadi tempat yang aman bagi pertumbuhan intelektual dan emosional siswa.

Berita Terbaru

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *