Mendaki dengan Iman, Turun dengan Amanah: Refleksi Tafsir Ekologi Al-Qur’an dalam Praktik Lingkungan

sumber: canva.com

Gunung merupakan salah satu bukti kebesaran Allah, gunung juga merupakan simbol keagungan, keteguhan, dan kekuatan. Dalam Al-Qur’an gunung (jibal) disebutkan beberapa kali, bukan hanya sebagai keajaiban ciptaan Allah tetapi juga sebagai penyeimbang bumi (QS. An- Naba[78]: 6-7). Kesadaran ekologis yang di tanamkan Al-Quran mengajarkan manusia untuk memperlakukan alam, termasuk gunung dengan penuh tanggung jawab. Salah satu wujud nyata dari tanggung jawab itu dalam pendakian misalnya, perilaku membawa kembali sampah turun dari gunung, bukan meninggalkannya lalu mengotori gunung dan merusak lingkungan yang masih asri di gunung. Praktek sederhana ini juga memerlukan kesadaran bersama, sekarang sudah banyak pihak dari basecamp gunung yang menghitung logistik yang dibawa naik lalu setelah turun akan di cek kembali sehingga dipastikan tidak meninggalkan sampah logistik di atas. Tentu peraturan ini sangat efektif untuk menjaga kebersihan lingkungan di gunung. 

 

 

Gunung dalam Perspektif Al-Qur’an 

Al-Qur’an berulang kali menampilkan gunung sebagai bagian dari ayat-ayat kauniyah (tanda- tanda kebesaran Allah di alam semesta). Firman Allah: 

 

اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَرْضَ مِهٰدًاۙ ۝٦ وَّالْجِبَالَ اَوْتَادًاۖ ۝٧

 

“Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan, dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS. An-Naba’: 6-7)

 

Jika kita membandingkan pasak dan gunung, kita akan mendapati kesamaan bahwa pasak tertancap ke bawah tanah berkat kekuatan palu, dan gunung tertancap ke bawah tanah berkat kekuatan gravitasi. Pasak menahan tenda supaya tidak mudah roboh, sedangkan gunung mencengkeram bumi supaya tidak mudah berguncang.

 

Gunung juga berperan menjaga atmosfer agar tidak kabur ke angkasa dan bisa tetap melekat di atas permukaan bumi. Jadi, akar gunung seolah-olah memancangkan tenda ruang angkasa yang ada di atas kepala kita, melindungi kita dari berbagai radiasi berbahaya dari luar angkasa. Ia mungkin bisa bisa sebagai kulit luar permukaan bumi. ( Mausu’ah al I’Jaz al Qur’ani karya Dr. Nadiah Thayyarah terbitan Dar al Yamama, Abu Dhabi yang diterjemahkan menjadi Buku Pintar Sains Dalam Alquran: Mengerti Mukjizat Ilmiah Firman Allah oleh penerjemah M Zainal Arifin, Nurakib, Imam Firdaus, Nur Hizbullah, penerbit Zaman pada 2013 halaman 491).

 

Gunung dipandang sebagai bagian penting dalam keseimbangan bumi. Selain fungsi geologis, gunung juga menjadi tempat perenungan spiritual. menjelaskan bahwa keberadaan gunung mengajarkan keteguhan iman dan kesabaran dalam menjalani hidup. Dengan demikian, gunung bukan hanya lanskap alam biasa, melainkan amanah ilahi yang harus dijaga kelestariannya. Konsep Amanah dalam Islam dan Lingkungan Dalam Islam, amanah adalah prinsip yang sangat fundamental. Allah berfirman: 

 

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ ۝٧٢

 

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh.” (QS. Al-Ahzab:72)

 

Ayat ini menunjukkan betapa beratnya amanah menjaga ciptaan Allah. Dalam konteks ekologi, menjaga gunung dari pencemaran, termasuk sampah, adalah bagian dari amanah tersebut. Meninggalkan sampah di gunung bukan hanya tindakan sembrono terhadap alam, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap amanah yang telah dipercayakan kepada manusia. 

 

Membawa Sampah Turun: Implementasi Refleksi Iman 

Mendaki gunung tidak hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual. Setiap langkah di lereng gunung adalah kesaksian iman terhadap keagungan ciptaan-Nya. Oleh karena itu, sikap seorang pendaki muslim tidak boleh berhenti pada kekaguman belaka, melainkan harus berlanjut pada praktik menjaga lingkungan. Membawa sampah turun menjadi bentuk kecil dari jihad ekologis. Menghormati ciptaan Allah dengan tidak mengotori alam. Mempraktikkan amanah sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur’an. 

 

Meneladani Rasulullah SAW yang menjaga kebersihan dan sangat peduli terhadap kelestarian lingkungan. Dalam tafsir Al-Misbah, Prof. Quraish Shihab menegaskan bahwa keberagamaan sejati harus tercermin dalam kepedulian terhadap sesama makhluk Allah, termasuk alam.

 

“Mendaki dengan iman, turun dengan amanah” bukan sekadar slogan, melainkan panggilan bagi setiap Muslim untuk mempraktikkan nilai-nilai Qur’ani dalam aktivitas sehari-hari, termasuk saat berinteraksi dengan alam. Gunung yang bersih adalah cermin iman yang bersih. Membawa turun sampah dari gunung adalah amal sederhana, namun berdampak besar bagi keberlanjutan ciptaan Allah yang megah ini.

 

Semoga refleksi ini menginspirasi kita semua untuk menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan, sebagai bagian dari penghambaan sejati kepada Allah SWT. 

Berita Terbaru

3 Responses

3 thoughts on “Mendaki dengan Iman, Turun dengan Amanah: Refleksi Tafsir Ekologi Al-Qur’an dalam Praktik Lingkungan”

  1. Mit ihrer eindrucksvollen und emotionalen Rede zum Thema “Frieden in Europa, nur ein Traum?” überzeugte sie die Jury beim 15.

    Rhetorik-Wettbewerb des Rotary Golf Equipment Neandertal in Düsseldorf.
    Gleich zwei Filme des HGH-Literaturkurses („Wort-Gewaltig” und „Der normale Lauf der Dinge”) wurden unter die besten beim NRW-weiten Pageant gezeigten Filme gewählt.
    Den sogar noch erfolgreicheren Abschluss bildete
    dort das besondere Lob durch die professionellen Moderatoren und der
    Gewinn des Preises der Gewerkschaft Erziehung und Wissenschaft (GEW).

    Jahrgangsstufe können das Angebot einer Singklasse wahrnehmen. Darüber hinaus bietet das Gymnasium die AGs
    Band, Chor, Improvisation und Orchester an, bei denen die SchülerInnen bei Interesse mitwirken können. Über das Angebot und den Schullalltag
    haben wir mit Schulleiterin Barbara Krieger gesprochen. Seit 1959 besteht an der Schule ein Förderverein,
    der die Unterstützung rund um die Schule gewährleistet und als Gesellschafter die schuleigene Mensa gGmbH trägt.
    Die Schule nimmt regelmäßig am Wettbewerb Jugend forscht teil.

    Es bietet eine umfassende Bildung, die die Grundlage
    für eine erfolgreiche Zukunft bildet. Das Helmholtz-Gymnasium Hilden ist eine herausragende Bildungseinrichtung, die sich durch ihr
    breites Angebot und ihre Barrierefreiheit auszeichnet. Die Schule befindet sich in Hilden, einer Stadt
    im Bundesland Nordrhein-Westfalen. Genauer gesagt, liegt das Gymnasium an der Adresse Am Holterhöfchen 30,
    Hilden, Deutschland. Unter den Links “Austausch Archiv” finden Sie Austauschprogramme und internationale Aktivitäten das HGH aus der Vergangenheit – wie beispielsweise den Austausch mit Israel.
    In einem rasanten Tempo ziehen Bauarbeiter momentan das neue Oberstufenzentrum des Helmholtz-Gymnasiums
    Hilden (HGH) hoch.
    So können diese ihren besonderen Interessen nachgehen, wie zum Beispiel in den Bereichen Chemie,
    Physik, Patenschaft für 5.-Klässler, Sanitätsdienst.
    Dieses Projekt stellt eine reizvolle Verknüpfung der Musikbereiche beider Schulen, unter der Federführung der Musikschule, dar.
    Als großes Sinfonieorchester führt es Originalkompositionen aus allen Epochen auf.

    Helmholz-Gymnasium in Hilden ist eine Ganztagsschule. Die SchülerInnen können die
    Fremdsprachen Englisch, Französisch, Spanisch und
    Italienisch erlernen. Die Schule pflegt zudem Kontakte zu Partnerschulen im Ausland und bietet regelmäßig Schüleraustausche, unter anderem nach China und Israel, an.
    Darüber hinaus besteht für die SchülerInnen der 5. Klasse das Angebot
    an einer Singklasse teilzunehmen. Vorstellungen der einzelnen AGs sind unter dem entsprechenden Hyperlink zu finden.
    Beispiele für erfolgreiche Arbeiten aus den verschiedenen Fachbereichen können als
    pdf-Datei aufgerufen werden.
    Im Freizeitbereich besteht außerdem die Möglichkeit an der AG Bücherclub
    oder den Wettbewerben “Be sensible do not begin”, dem “Rhetorikwettbewerb” oder dem
    “Wettbewerb der Bundeszentrale für politische Bildung”
    teilzunehmen. Hauptfach- oder Leistungskurs in Kunst wird nicht angeboten. Helmholtz-Gymnasium die AGs Kunst und Origami sowie die Möglichkeit
    der Teilnahme an einem Street-Art Kunstprojekt.

    Neben zahlreichen Preisträgern in Regional- und Landeswettbewerben stellte
    sie 2001 die Bundessieger im Fach Chemie[8][9].
    2006 gewann der Wettbewerbsbeitrag im Fach Biologie den Umweltpreis
    auf Bundesebene[10]. Der Begriff ist ein Kofferwort aus „Alternative
    Lernmöglichkeiten in Hilden”, angelehnt an die Figur
    des Almöhi aus Spyris Heidi-Erzählungen. (Berufs)erfahrene Senioren vermitteln ehrenamtlich ihre Kenntnisse
    und Fertigkeiten in außerunterrichtlichen Arbeitsgemeinschaften im Rahmen des Ganztagsbetriebs an Schülerinnen und Schüler der Unterstufe.
    1923 erfolgte die Umwandlung der Helmholtz-Realschule in eine Oberrealschule,
    so dass die Schüler ab 1926 die Allgemeine Hochschulreife ablegen konnten. Die Schach-Mannschaft des Helmholtz-Gymnasiums hat bei der Kreismeisterschaft in Ratingen überlegen den ersten Platz
    belegt. Die Partien gegen die Konkurrenzschulen wurden klar gewonnen.
    Die Schülerinnen und Schüler proben als Chor Lieder und Chorwerke praktisch ein; unterrichtsrelevanter Stoff wie etwa Musikgeschichte,
    Musiktheorie, Werkanalyse etc. werden hier situativ-integriert vermittelt.
    Während der Unterrichtszeit werden die Schüler neben dem Fachlehrer von einer professionellen Stimmbildnerin in Kleingruppen betreut.
    In der Oberstufe kann entsprechend „Vokalpraxis” als Schwerpunkt gewählt werden. Gesucht werden ambitionierte Instrumentalisten aus allen Instrumentengruppen. In unregelmäßigen Abständen findet ein „Bewerbungsvorspiel” statt.

    Und die stehen an den Toren zum Schulgelände und spritzen jede Schülerin und jeden Schüler nass.
    Die Mensa ist an jedem Schultag sehr intestine frequentiert und bietet ein vielfältiges Essensangebot.

    Es gibt zahlreiche Angebote an Kaltspeisen und verschiedene warme Mittagessen. Die Proben finden während der
    Schulzeit montags um 18 Uhr statt. Begabte Schüler können auf Antrag stundenweise vom Regelunterricht befreit werden, um in dieser Zeit unter individueller Begleitung
    einer Lehrkraft als Mentor eigenen Projekt- und Forschungsinteressen nachzugehen.

    References:

    oromiajobs.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *