Apa yang Membuat Matematika Begitu Sulit untuk Dipahami?

sumber: canva.com

Tahukah kamu? Ketika kamu menghitung pengeluaran bulanan, misalnya diskon barang, cicilan beserta bunganya atau merencanakan tabungan untuk masa depan. Semua itu menggunakan konsep matematika. Begitu pula saat kamu memasak, di mana kamu menggunakan takaran yang tepat untuk setiap bahan, itu juga melibatkan matematika!

 

Kita mungkin tidak sadar, tetapi matematika selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari kita, bahkan dalam hal-hal yang paling sederhana sekalipun.

 

Namun, meskipun kita sering berhubungan dengan matematika dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak siswa yang kesulitan dalam mempelajari materi matematika di sekolah. 

 

Seperti yang dilansir pada laman BEM FIP UMJ,  “Pada tahun 2018 lalu (PISA 2018), Indonesia menempati posisi ke-62 dari 70 negara dengan skor membaca 371 dari skor rata-rata 487, skor matematika 379 dari skor rata-rata 489, dan skor sains 396 dari skor rata-rata 489.” Hasil  tersebut menunjukkan bahwa kemampuan literasi, sains, dan matematika siswa di Indonesia masih di bawah rata-rata negara Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang telah mengikuti tes PISA dalam bidang matematika, sains, dan literasi. Bahkan, skor matematika Indonesia mengalami penurunan sebesar 13 poin jadi 366 dari sebelumnya 379 (Kompas.id, 2023). 

 

Kesulitan belajar matematika mencakup pemahaman konsep, keterampilan berhitung, serta kemampuan memecahkan masalah yang berkaitan dengan matematika. Faktor penyebab kesulitan belajar matematika dapat dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu faktor internal dan faktor eksternal

 

 

Faktor Internal

Salah satu faktor utamanya adalah rendahnya minat siswa terhadap matematika karena matematika sering kali dianggap abstrak dan sulit dipahami. Materi yang diajarkan di sekolah terkadang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari, sehingga banyak siswa merasa kesulitan untuk melihat hubungan antara teori yang mereka pelajari dengan dunia nyata. Adanya pemikiran negatif ini membuat siswa merasa jenuh, bosan, dan malas untuk belajar matematika. 

 

Selain itu, kurangnya kemampuan dasar matematika dapat menyebabkan siswa kesulitan untuk memahami materi baru. Materi dalam kurikulum merupakan materi yang berkesinambungan, sehingga untuk menyelesaikan permasalahan yang lebih kompleks, siswa perlu menguasai kemampuan matematika yang telah dipelajari pada jenjang sebelumnya.

 

Kesehatan tubuh juga menjadi faktor penting untuk belajar matematika. Siswa yang kondisi fisiknya kurang optimal akan cepat mengantuk, merasa pusing, dan tidak konsentrasi saat pelajaran berlangsung. Keadaan tersebut dapat menghambat siswa dalam memahami materi. 

 

Faktor Eksternal

Kurangnya dukungan emosional dari guru dan orang tua dapat berdampak signifikan pada motivasi belajar siswa. Tanpa adanya perhatian dan dorongan yang cukup, siswa cenderung merasa kurang percaya diri dan mudah putus asa ketika menghadapi kesulitan, terutama dalam pelajaran yang dianggap sulit seperti matematika. 

 

Metode pembelajaran konvensional, dalam metode ini guru menjadi pusat pembelajaran dengan memberikan penjelasan secara ceramah, sementara siswa hanya mendengar dan mencatat. Kondisi ini menyebabkan siswa cepat merasa bosan dan mengantuk. 

 

Keterbatasan media pembelajaran turut menjadi penyebab siswa kesulitan dalam memahami materi matematika yang bersifat abstrak. Meskipun sebagian besar guru menyadari pentingnya media pembelajaran dan berupaya untuk mengaplikasikannya saat menyampaikan materi, masih banyak yang mengalami hambatan, seperti memahami jenis media yang tepat dan kurangnya kreativitas dalam membuat media. Akibatnya, siswa menjadi kurang atusias untuk mengikuti pembelajaran matematika. 

 

Dengan memahami faktor penyebab  kesulitan dalam belajar matematika, kita dapat lebih memahami tantangan yang dihadapi siswa. Untuk itu, diperlukan solusi efektif untuk menanganinya. 

 

Sebelum memulai pelajaran, guru bisa memulai dengan kegiatan ice breaking untuk membantu siswa agar lebih siap dan fokus dalam belajar.

 

Pembelajaran matematika sebaiknya difokuskan terhadap pemahaman konsep, bukan hafalan. Sebagaimana pendekatan deep learning yang pernah digagas oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Abdul Mu’ti. Penggunaan alat peraga juga akan membantu siswa untuk memahami materi. Penggunaan alat peraga, baik berupa benda fisik maupun teknologi seperti aplikasi Desmos, GeoGebra, video interaktif, atau game edukasi, dapat mempermudah siswa dalam memahami materi. 

 

Dukungan emosional yang positif, seperti memberikan apresiasi atas keberhasilan siswa atau menunjukkan kepedulian terhadap kondisi emosional mereka, mampu meningkatkan kepercayaan diri serta motivasi belajar. Peran aktif orang tua dan guru dalam menciptakan suasana belajar yang mendukung secara emosional akan membuat siswa merasa dihargai dan lebih semangat dalam belajar.

 

Selain solusi yang telah disebutkan sebelumnya, pendekatan belajar aktif dapat menjadi langkah efektif untuk mengatasi kesulitan siswa dalam memahami matematika. Dalam pendekatan ini, siswa tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi juga berperan aktif dalam proses pembelajaran, seperti melalui diskusi kelompok, tanya jawab, atau pemecahan masalah secara langsung. 

 

Kesulitan dalam belajar matematika memang menjadi tantangan bagi banyak siswa. Namun,  dengan pendekatan yang tepat seperti penggunaan metode belajar aktif, pemanfaatan teknologi, serta dukungan emosional dari guru dan orang tua, tantangan ini dapat diatasi. Dengan komitmen dan kolaborasi yang baik, diharapkan kesulitan belajar matematika dapat diminimalisir, dan siswa bisa mencapai potensi terbaik mereka. 

 

Referensi

Ayu, S., Ardianti, S. D., & Wanabuliandari, S. (2021). Analisis faktor penyebab kesulitan belajar matematika. AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika, 10(3), 1611–1622.

Dwi, D. F., & Audina, R. (2021). Analisis Faktor Penyebab Kesulitan Belajar Matematika Kelas IV Sekolah Dasar Negeri. Cybernetics: Journal Educational Research and Social Studies, 2(3), 94–106. https://doi.org/10.51178/cjerss.v2i3.256

Kompas.id. (2023, 6 Desember). Narasi Skor PISA Indonesia Jangan Seolah-olah Prestasi. Diakses pada 24 April 2025 dari https://www.kompas.id/baca/humaniora/2023/12/06/narasi-skor-pisa-indonesia-jangan-seolah-olah-prestasi

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta (BEM FIP UMJ). Halo Dunia. Diakses pada 24 April 2025 dari https://bem-fip.umj.ac.id/halo-dunia/

Berita Terbaru

1 Responses

1 thought on “Apa yang Membuat Matematika Begitu Sulit untuk Dipahami?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *