Perubahan iklim kini menjadi salah satu tantangan nyata bagi Indonesia. Laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa tahun 2024 menjadi salah satu tahun terpanas dalam sejarah iklim Indonesia. Fenomena El Niño moderat yang terjadi saat itu menyebabkan penurunan curah hujan hingga 40 persen di sejumlah wilayah. Dampaknya, banyak daerah mengalami kekeringan Panjang, sementara Sebagian lainnya justru dilanda banjir. Kondisi ekstrem ini berimbas langsung pada sektor pertanian, terutama padi yang menjadi komoditas utama pangan nasional.
Kekeringan Panjang dan banjir tidak hanya mengganggu siklus tanam, tetapi juga memperburuk serangan hama seperti wereng dan tikus sawah. suhu yang lebih hangat membuat populasi hama berkembang lebih cepat. Penelitian menunjukkan bahwa pada tahun-tahun dengan kekeringan tinggi, produksi padi bisa turun hingga 20-30 persen. Situasi ini memperlihatkan betapa rapuhnya sistem pangan Indonesia Ketika terlalu bergantung pada satu komoditas. Dampak paling berat dirasakan oleh Masyarakat berpenghasilan rendah, karena harga pangan melonjak dan akses terhadap gizi menurun.
Memasuki tahun 2026, kondisi iklim menjadi lebih stabil. BMKG mencatat curah hujan dan suhu berada dalam rentang normal, sehingga musim tanam lebih bisa diprediksi. Produksi beras diperkirakan mencapai 32 juta ton, sedangkan konsumsi berada di angka 30 juta ton. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa produksi padi tahun 2025 melonjak hingga 60,21 juta ton, sementara jagung stabil di angka 15 juta ton. Angka-angka ini memberikan harapan bahwa Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Namun, pengalaman krisis 2024 menjadi pengingat bahwa stabilitas iklim tidak boleh dianggap sebagai jaminan permanen.
Kajian akademis terbaru memperkuat temuan ini. Penelitian di Lampung menggunakan model FAO AquaCrop menunjukkan bahwa skenario iklim RCP 4.5 dan RCP 8.5 dapat menurunkan produktivitas padi secara konsisten (Rizki Priatama W. et al., 2025). Temuan serupa di Sub-Das Keduang, Jawa Tengah, memperlihatkan bahwa perubahan pola curah hujan dan suhu mengganggu siklus tanam serta meningkatkan risiko gagal panen (Andrianto Ansari et al., 2021). Hal ini menegaskan bahwa surplus produksi pada tahun-tahun dengan iklim stabil tidak menjamin ketahanan pangan jangka Panjang.
Badan Pangan Nasional (NFA) menekankan pentingnya penganekaragaman pangan lokal sebagai strategi adaptif menghadapi perubahan iklim. Pemanfaatan pangan lokal seperti jagung, sagu, singkong, sorghum, singkong, ubi jalar, dan talas dinilai mampu mengurangi risisko ketidakstabilan pangan sekaligus memperbaiki gizi Masyarakat. Penganekaragaman pangan bukan hannya Solusi darurat, tetapi juga investasi jangka Panjang untuk memperkuat ketahan pangan bangsa. Penelitian menunjukkan bahwa diversifikasi pangan berperan penting dalam mengurangi ketimpangan sosial dan memperkuat Pembangunan pangan berkelanjutan (Fajar Rahmanto et al., 2021)
Studi adaptasi pertanian di Kebumen, Jawa Tengah, menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas dan teknologi mampu meningkatkan ketahanan sistem pangan lokal (Andung BK. et al., 2021). Oleh karena itu, selain penganekaragaman pangan, strategi jangka panjang yang perlu diperkuat adalah pengembangan varietas padi yang tahan terhadap kekeringan dan banjir, restorasi sumber daya air melalui pemanenan hujan dan rehabilitasi sungai, serta digitalisasi pertanian dengan teknologi prediksi cuaca dan sensor kelembaban tanah. Upaya ini akan meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat sistem pangan nasional agar lebih Tangguh menghadapi ketidakpastian iklim.
Keterkaitan antara adaptasi pertanian dan mitigasi iklim juga tidak bisa diabaikan. Menurut perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sektor pangan, energi, dan transportasi merupakan penyumbang utama emisi gas rumah kaca. Artinya, menjaga ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada produksi pertanian, tetapi juga pada keberhasilan transisi energi terbarukan dan pengurangan deforestasi. Integrasi kebijakan iklim dengan kebijakan pangan akan memastikan bahwa stabilitas yang dirasakan pada 2026 dapat berlanjut secara berkesinambungan dan menjadi dasar bagi Pembangunan pangan yang lebih berkelanjutan.
Kesimpulannya, ketahanan pangan Indonesia menjadi tantangan serius akibat perubahan iklim yang semakin tidak menentu. Pengalaman krisis 2024 menjadi pengingat bahwa stabilitas iklim tidak bisa dijadikan jaminan permanen. Upaya adaptasi ddi sektor pertanian, diversifikasi pangan lokal, serta integrasi kebijakan iklim dan pangan perlu dijalankan secara konsisten agar sistem pangan nasional lebih Tangguh. Dengan Langkah yang terarah, Indonesia dapat menjaga keberlanjutan produksi sekaligus memastikan akses pangan yang adil bagi seluruh Masyarakat.


