Green Campus: Pengelolaan Sumber Daya dan Peran Perilaku Warga Kampus

Sumber: Pinterest

Tangerang Selatan merupakan kota yang memiliki beberapa universitas terkenal, baik negeri maupun swasta. Saat ini tercatat ada sekitar 22 perguruan tinggi yang tersebar di berbagai wilayah kota, dengan konsentrasi terbesar berada di kawasan Ciputat. Banyaknya kampus tersebut membuat Tangerang Selatan sering dipandang sebagai salah satu kota pendidikan di wilayah penyangga Jakarta. Setiap hari ribuan mahasiswa datang untuk belajar, berdiskusi, hingga menjalankan berbagai aktivitas organisasi kampus. Aktivitas pendidikan yang besar tentu tidak terlepas dari penggunaan sumber daya yang juga besar. Operasional gedung kampus, penggunaan listrik dan air, mobilitas mahasiswa, hingga aktivitas kantin dan kegiatan mahasiswa secara tidak langsung menghasilkan limbah dalam jumlah yang cukup signifikan. Dengan kata lain, kampus bukan hanya ruang belajar, tetapi juga bagian dari ekosistem kota yang ikut mempengaruhi kondisi lingkungannya.

 

Di saat yang sama, Tangerang Selatan juga menghadapi persoalan lingkungan yang semakin nyata. Data dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Selatan menunjukkan bahwa timbulan sampah pada tahun 2024 mencapai 414.750 ton dalam setahun, atau sekitar 1.136 ton sampah setiap hari. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir dan memperlihatkan bahwa tekanan terhadap sistem pengelolaan sampah kota terus meningkat. Situasi ini membuat peran berbagai institusi menjadi penting, termasuk perguruan tinggi. Kampus tidak hanya memiliki fungsi pendidikan, tetapi juga memiliki peluang besar untuk menjadi contoh dalam pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan. Salah satu pendekatan yang mulai banyak diterapkan oleh berbagai universitas adalah konsep green campus.

 

Secara sederhana, green campus dapat dipahami sebagai upaya menjadikan lingkungan kampus lebih ramah terhadap alam melalui pengelolaan sumber daya yang lebih bijak. Hal ini bisa dilakukan melalui berbagai langkah, seperti penghematan energi, pengelolaan sampah yang lebih baik, konservasi air, hingga mendorong penggunaan transportasi yang lebih berkelanjutan di lingkungan kampus. Salah satu kampus yang mulai mengembangkan pendekatan ini adalah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melalui program Green Campus. Program ini mencakup berbagai upaya seperti optimalisasi penggunaan energi, pengelolaan sampah, serta peningkatan kesadaran lingkungan di kalangan civitas akademika. Upaya semacam ini menunjukkan bahwa kampus mulai menyadari pentingnya mengelola sumber daya secara lebih bertanggung jawab.

 

Namun, membangun kampus berkelanjutan tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas atau kebijakan lingkungan. Tempat sampah terpilah, kampanye hemat energi, atau ruang hijau di kampus memang penting, tetapi semua itu tidak akan banyak berarti jika perilaku orang-orang yang ada di dalamnya tidak ikut berubah. Dalam perspektif psikologi, perubahan perilaku ramah lingkungan sangat dipengaruhi oleh tingkat environmental awareness atau kesadaran lingkungan individu. Kesadaran ini berkaitan dengan pemahaman seseorang terhadap isu lingkungan serta kesadaran akan dampak perilakunya terhadap kondisi alam di sekitarnya. Penelitian yang dilakukan oleh Wiwik Handayani et al., 2021 menunjukkan bahwa environmental awareness memiliki hubungan positif dengan pro-environmental behavior, yaitu perilaku yang mendukung perlindungan lingkungan. Artinya, ketika seseorang memiliki kesadaran lingkungan yang lebih tinggi, kemungkinan besar ia juga lebih terdorong untuk melakukan tindakan nyata seperti menghemat energi, mengurangi sampah, atau menggunakan sumber daya secara lebih bijak. 

 

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan konsep green campus sebenarnya tidak hanya bergantung pada kebijakan institusi, tetapi juga pada kesadaran lingkungan mahasiswa sebagai pengguna utama ruang kampus. Tanpa kesadaran tersebut, berbagai fasilitas ramah lingkungan yang tersedia bisa saja hanya menjadi simbol kebijakan tanpa dampak yang benar-benar terasa. Hal ini membuat pendekatan green campus perlu dilihat tidak hanya sebagai proyek infrastruktur, tetapi juga sebagai upaya membangun perubahan perilaku. Kampus dapat memanfaatkan ruang akademik untuk memperkuat literasi lingkungan, misalnya melalui integrasi isu keberlanjutan dalam perkuliahan, diskusi mahasiswa, atau kegiatan organisasi kampus.

 

Keterlibatan mahasiswa dalam berbagai gerakan lingkungan juga dapat menjadi langkah yang efektif. Program pengurangan sampah plastik di lingkungan kampus, kegiatan daur ulang, hingga kampanye hemat energi dapat menjadi pengalaman langsung yang membentuk kebiasaan baru. Ketika praktik-praktik tersebut dilakukan secara kolektif, perlahan akan terbentuk norma sosial yang lebih mendukung perilaku ramah lingkungan. Dengan jumlah perguruan tinggi yang cukup banyak, Tangerang Selatan sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi contoh kota pendidikan yang juga peduli terhadap keberlanjutan lingkungan. Kampus dapat menjadi ruang belajar tidak hanya bagi ilmu pengetahuan, tetapi juga bagi praktik hidup yang lebih bertanggung jawab terhadap alam.

 

Pada akhirnya, konsep green campus bukan sekadar tentang menjadikan kampus terlihat hijau, tetapi tentang bagaimana lingkungan akademik mampu membentuk generasi yang lebih sadar akan dampak perilakunya terhadap lingkungan. Ketika kesadaran tersebut tumbuh, perubahan perilaku tidak lagi bergantung pada aturan, tetapi lahir dari pilihan individu untuk hidup lebih berkelanjutan.

Berita Terbaru

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *