Cuaca adalah kondisi yang terjadi pada setiap iklim negara dengan waktu dan kondisi yang berbeda-beda, khususnya bagi negara Indonesia yang melalui dua iklim yaitu hujan dan panas. Kondisi iklim menjadi sangat penting untuk manusia karena mempengaruhi kehidupan maupun lingkungan sekitar. Bagi sektor pertanian cuaca menjadi hal krusial sebab dapat memberi dampak pada hasil tanaman. Menurut data Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pada bulan Maret 2026, umumnya wilayah Indonesia diprediksi mengalami sifat hujan kategori Jauh di Atas Normal 0.07%, Atas Normal 3.17%, Normal 26.40%, dan Bawah Normal 70.36% sehingga menyebabkan penanaman, penyiraman, penyiangan, pemupukan, dan pemanenan menjadi tidak efektif karena curah hujan tidak normal sebanyak 70.36% di Indonesia menyebabkan tanaman memiliki risiko kematian hingga menimbulkan gagal panen.
Hal ini menyebabkan pemerintah berupaya melaksanakan dokumen perjanjian perdagangan timbal balik (Agreements on Reciprocal Trade) yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto dan Donald Trump dijelaskan bahwa Indonesia akan mengimpor komoditi pertanian dari AS dengan nilai US$4,5 miliar (sekitar Rp 75 triliun). Salah satu komoditinya adalah beras. Indonesia berkomitmen akan mengimpor 1.000 ton beras per tahun dari AS. Beras itu dituliskan meliputi kategori dari gabah, beras lepas kulit, beras putih dan beras pecah (menir). Said menegaskan, walaupun jumlahnya kecil, setiap jenis barang impor yang masuk ke pasar pangan domestik akan menimbulkan pengaruh yang signifikan dalam menekan produksi dalam negeri, seperti pendapatan dan kesejahteraan petani (Raja Eben Lumbanrau 2026). Jika impor ini terus berlanjut harga pangan untuk Indonesia akan semakin mahal, dan para petani akan kekurangan pemasukan karena hadirnya makanan impor. Menyebabkan terganggunya ketahanan pangan Indonesia karena ketidakpastian cuaca bukan sekedar musim tetapi mempengaruhi isi meja makan keluarga. Ketika siklus tanam terganggu oleh hujan ekstrem atau kekeringan panjang, rantai pasok pangan akan terputus, memicu lonjakan harga yang tak terkendali di pasar tradisional hingga ritel modern. Akibatnya pemerintah impor bahan pangan dari luar negeri.
- Embun Pertanian: Cerdas Menghasilkan Pangan Indonesia
Upaya untuk beradaptasi dengan lingkungan pertanian yang semakin krusial akan cuaca membutuhkan tindakan ekstra. Perubahan cuaca yang tidak menentu, dan meningkatnya risiko kekeringan dan banjir menyebabkan para petani memerlukan sikap waspada ekstra terhadap kondisi lahan maupun tanamannya. Salah satu solusi yang bisa diterapkan adalah dengan memanfaatkan teknologi pertanian, dengan cara melaksanakan sumber daya air melalui proses penampungan untuk mengatasi permasalahan hujan yang berlebih.
Dengan fokus pada teknik/inovasi menyimpan air hujan tujuannya adalah untuk meningkatkan jumlah air yang tersedia di bawah tanah melalui proses infiltrasi menggunakan fasilitas penampungan embung. Pembuatan embung di kawasan dengan curah hujan rendah akan menyimpan air secara optimal selama musim hujan dan selanjutnya akan digunakan selama musim kering untuk berbagai keperluan. (Tamelan et al. 2021)
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan supaya menghemat air hujan yang telah berlangsung sejak awal bulan sehingga pada saat curah hujan rendah diharapkan mampu untuk menggunakan air hujan yang telah ditampung oleh embung untuk menghasilkan proses penanaman padi berjalan dengan lancar. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis guna mengetahui data yang telah dikumpulkan untuk dikaji dan mendapatkan solusi mendalam.
Perubahan iklim Indonesia menyebabkan musim hujan dan kemarau menjadi tidak menentu sehingga menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian dalam menjaga stabilitas produksi padi nasional. “Cuaca ekstrem merupakan ancaman serius bagi produktivitas pertanian karena memicu ketidakpastian musim tanam, kekeringan, dan banjir, yang berpotensi meningkatkan risiko gagal panen,” kata Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman dalam keterangan resmi, Senin (26/1/2026). Berikut ini empat dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian:
- Perubahan Pola Curah Hujan
Musim kemarau cenderung menjadi lebih panjang, sedangkan musim hujan terjadi dengan intensitas yang lebih tinggi. Situasi ini mempengaruhi jadwal penanaman dan ketersediaan air untuk kebutuhan irigasi. Ketidakpastian pola hujan ini membuat petani kesulitan untuk menyusun rencana tanam yang ideal, yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya gagal panen.
2. Kenaikan Suhu dan Dampaknya
Suhu yang lebih tinggi karena perubahan iklim membuat proses evapotranspirasi terjadi lebih cepat, sehingga kebutuhan air untuk tanaman menjadi lebih besar. Ini dapat menyebabkan kekeringan di lahan pertanian, terutama di wilayah yang bergantung pada hujan untuk penyiraman. Di samping itu, kenaikan suhu juga mendorong meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman, yang dapat menurunkan hasil panen dan menaikkan biaya produksi bagi para petani.
3. Kenaikan Permukaan Air Laut dan Salinitas Tanah
Melonjaknya air laut yang memasuki lahan pertanian mengakibatkan kenaikan salinitas tanah sehingga merusak kualitas tanah dan mengurangi kemampuannya untuk subur.
4. Cuaca Ekstrim dan Bencana Alam
Cuaca ekstrem seperti banjir, kekeringan, dan badai menyebabkan kerusakan pada lahan pertanian dan tanaman yang sedang melalui proses pertumbuhan. Akibatnya, merugikan ekonomi petani dan berkurangnya ketahanan pangan nasional. (Anis Bias Cintaning 2025)
Embung adalah kolam buatan atau bendungan kecil yang dirancang untuk menyimpan air dari hujan, aliran dari sungai kecil dan daerah perbukitan. Biasanya, embung dibangun di dataran tinggi untuk menampung air secara alami. Air yang terakumulasi di embung ini akan dipergunakan kembali sesuai kebutuhan, khususnya pada saat musim kering. Keberadaan embung memberikan keuntungan yang signifikan bagi masyarakat, terutama yang tinggal di daerah yang rentan terhadap kekeringan, akses air bersih menciptakan pariwisata baru, menjaga lingkungan, dan ketahanan air di tingkat nasional. (Adi Permana 2025)
Embung memiliki banyak fungsi untuk pertanian. Dengan hadirnya embung memiliki banyak manfaat untuk pertanian Indonesia dalam menyimpan air sehingga saat musim kemarau maupun hujan lahan pertanian tetap mampu tercukupi kadar airnya. Selain itu petani juga mampu mengatur waktu tanam dengan lebih fleksibel karena sudah memiliki cadangan air. Kondisi ini tentu dapat mempermudah masyarakat Indonesia dalam mencari beras karena mampu mendapatkan harga yang lebih terjangkau dibandingkan dengan beras impor. Para petani juga mampu mendapatkan untung karena konsumen selalu membutuhkan beras sebagai kebutuhan makanan pokok. Oleh karena itu, pemanfaatan embung menjadi salah satu langkah yang efektif dalam mendukung ketahanan pangan Indonesia meskipun dengan kondisi cuaca ekstrim.


