Refleksi Penganiyayaan di Gereja Santa Lidwina Sleman 2018: Pentingnya Moderasi Beragama

https://id.pinterest.com/

Indonesia memiliki banyak kekayaan bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan. Melalui sikap saling menghargai dan menghormati masyarakat akan menciptakan perdamaian di lingkungan kehidupan. Keberagaman Indonesia pun sangat berlimpah, Indonesia memiliki berbagai macam agama, bahasa, suku, budaya, adat istiadat juga tradisi. Namun, pada kenyataannya masih banyak tindakan-tindakan dan perilaku negatif yang dapat memecah kerukunan serta kepercayaan masyarakat atau yang biasa disebut intoleransi. Salah satu peristiwa yang menunjukkan masih adanya sikap intoleransi ini ialah peristiwa penganiayaan yang terjadi di Gereja Santa Lidwina Sleman pada tahun 2018. Peristiwa tersebut dapat menjadi bukti bahwa sikap saling menghargai dan menghormati masih harus ditingkatkan dalam kehidupan kita.

 

Oleh karena itu, moderasi beragama menjadi hal yang sangat dibutuhkan untuk menjadi kunci perdamaian dan mencegah terjadinya perpecahan antara umat beragama di lingkungan kita. Peristiwa penganiayaan di Gereja Santa Lidwina Sleman terjadi pada saat kegiatan ibadah misa berlangsung. Pelaku ialah seorang mahasiswa usia 23 tahun yang bernama Suliyono. Pada waktu kejadian, Suliyono menggunakan baju berwarna hitam dan memegang erat tas ransel di tangan kirinya serta membawa pedang panjang di tangan kanan sambil mengayunkannya ke dalam gereja. Para jemaat yang melihatnya pun langsung membubarkan diri karena ketakutan.  Suliyono berhasil menyerang korban pertama yang bernama Martinos Parmadi Sudiantoro. Setelah itu, ia langsung berjalan ke depan dan menyerang seseorang yang sedang memimpin ibadah misa. Tidak hanya itu, ia juga menyerang seorang jemaat gereja yang bernama Budi Purnomo.  

 

Orang-orang yang menyaksikan aksi Suliyono mencoba untuk menghentikannya dengan melemparkan berbagai barang yang ada di gereja. Namun, Suliyono berusaha menghindar dari lemparan barang-barang tersebut dan tetap mengayun-ayunkan pedangnya hingga patung-patung yang ada di dalam gereja tersebut hancur.  Polisi yang dihubungi warga sekitar langsung mendatangi lokasi kejadian, dan berusaha untuk menenangkan Suliyono agar ia dapat menyerahkan diri. Namun, Suliyono tetap menolak untuk berdamai. Akhirnya, salah satu polisi menembak kaki Suliyono. Tetapi, walaupun kakinya sudah ditembak, ia masih mencoba untuk menyerang petugas polisi tersebut sampai terjatuh dan hampir terluka.

 

Setelah dilumpuhkan oleh tembakan di kakinya, warga sekitar yang berada di luar gereja tersebut langsung menghampiri Suliyono dan membawanya keluar dari gereja. Aparat Penegak Hukum, Hargo diminta untuk segera menindak tegas aksi penganiayaan ini dan tidak bisa membiarkan kasus kekerasan, kerusakan, dan penyerangan ini terjadi begitu saja. Menurut Hargo, membangun kerukunan dalam hidup beragama adalah proses yang panjang. Hargo juga menegaskan bahwa “ISKA mengutuk keras pelaku kekerasan dengan motif apapun yang dapat mengancam terpecah belahnya umat beragama dengan meyerang tempat ibadah, tokoh-tokoh agama ataupun kegiatan keagamaan” pernyataan tersebut disampaikan agar umat beragama tetap memiliki rasa aman dan kepercayaan dalam menjalani kehidupan sosial di lingkungannya.

 

Dari peristiwa penganiayaan ini, kita perlu untuk meningkatkan sikap toleransi, menghargai sesama, dan saling tolong-menolong kepada siapapun,  bukan hanya kepada satu golongan agama saja. Kita juga tidak boleh terlalu tergila-gila pada agama sendiri dan merendahkan agama lain, karena kita hidup di bangsa yang memiliki bermacam-macam perbedaan. Oleh karena itu, moderasi beragama akan menjadi kunci yang tepat dalam menghadapi keberagaman masyarakat di negara kita ini. Moderasi merupakan cara pandang atau tindakan yang selalu berusaha untuk menempatkan posisi di tengah dari dua sikap yang cenderung berlebihan dan berlawanan. Sehingga, tidak hanya condong ke salah satu sikap saja. Prinsip moderasi berperan sebagai sesuatu yang secukupnya, tidak berlebihan dan tidak kekurangan.

 

Agama merupakan peraturan yang mengatur keadaan manusia dengan tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan alam yang berhubungan dengan perbuatan dan perilaku kita sehari-hari. Agama merupakan aspek paling penting di kehidupan manusia. Agama tidak hanya sebagai tanda akan status kepercayaan seseorang. Tetapi, agama juga menjadi pemandu manusia dengan  mendatangkan nilai-nilai teladan yang harus selalu dipatuhi. Dengan adanya moderasi beragama, manusia akan mendapatkan pedoman tentang bagaimana menjalani hidup dengan lebih baik tidak berlebihan dan tidak kekurangan, sehingga tidak akan menimbulkan kerusuhan dan kehancuran antar satu sama lain.

 

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar tetap memperkuat sikap moderasi beragama, meningkatkan toleransi, dan saling menjaga kerukunan dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga, dapat terciptanya kenyamanan dan terhindar dari berbagai masalah yang dapat memecah belah satu sama lain. 

Berita Terbaru

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *