Traveling dengan Konsep Hijrah Nabi Pariwisata Menjadi Islamable dan Profitable

Istilah traveling di era milenial diibaratkan sebagaimana halnya udara yang selalu bersiklus dalam poros kehidupan manusia, yaitu sangat tersebar dan kerap digiatkan oleh seluruh elemen masyarakat. Tentunya aktivitas traveling berkaitan erat terhadap satu sektor penting dalam perekonomian masyarakat yaitu sektor pariwisata. Civitas sektor pariwisata banyak meluncurkan ide kreatif dan inovatifnya guna menarik banyak pengunjung yang berimbas terhadap profit dalam sektor pariwisata. Penggiat traveling pun pastinya memilih untuk menghabiskan waktunya di tempat yang menarik dan mendukung kebutuhan hiburannya.

 

Dalam pandangan islam tersendiri, aktivitas pariwisata dan traveling kerap ditemukan dengan pandangan negatif serta penolakan. Seperti dalam realisasi aktivitas pariwisata yang lebih condong dianggap melanggar syariat Islam beserta ajarannya. Contohnya seperti pakaian busana civitas pariwisata yang diluar syariat, bentuk-bentuk hiburannya yang keluar dari nilai-nilai ajaran Islam, hingga lingkungan pariwisata yang menyebabkan penggiat wisata menjadi lalai dalam melaksanakan syarit islam.

 

Lalu bagaimanakah menjawab problematika tersebut? Di mana kenyataannya para penggiat sektor pariwisata memang sangatlah perlu menerapkan ajaran dan syariat islam guna meningkatkan pengunjung yang berimbas terhadap profitnya. Artinya kita memerlukan inovasi maupun konsep pariwisata yang mendukung esensi nilai-nilai islam yag tentunya dapat membawa profit.

 

Traveling dengan Konsep Hijrah Nabi

Peristiwa hijrah Rasulullah Saw. tentunya sangat familiar di telinga kita semua. Di mana Nabi beserta umatnya saat itu melakukan hijrah, perjalanan dengan maksud berpindah tempat, dari Makkah yang saat itu mereka ditindas menuju Madinah yang para penduduknya dengan penuh kedamaian menyambut kedatangan Rasulullah Saw. Mengangkat unsur-unsur hikmah dan esensi hijrah Nabi, dapat kita implementasikan bersama pada konsep traveling yang akan menjadikan pariwisata islamable dan profitable.

 

Pertama, Hijrah yang terbaik ialah yang didasari dengan niat hanya kepada Allah Swt. Begitu pula dalam menggiatkan traveling, seyogyanya kita niatkan hanya kepada Allah Swt. Yang tentunya untuk kebaikan kita serta mengharapkan kebaikan ketika berlangsungnya perjalanan traveling.

 

Kedua, Hijrah sebagai titik tolak, dimana hijrah dilakukan untuk meninggalkan kondisi atau situasi yang buruk menuju situasi yang lebih baik. Konsep ini dapat diterapkan terhadap kegiatan traveling kita. Sepatutnya kita mengusahakan apapun yang digiatkan agar dapat berimbas baik pada pribadi kita tentunya. Menjadi sangat berdampak positif apabila kita bisa membuat traveling sebagai titik tolak dari kondisi kita yang sedang turun, dari aspek jiwa maupun raga, untuk menuju tujuan yang bisa membuat diri kita merasa lebih baik.

 

Sebagaimana hijrah Nabi ke madinah yang menjadikan lebih siap untuk menghadapi problematika yang ada di Makkah. Pula bagi pelaku traveling tentunya harus cermat dalam memilih tempat yang akan dijadikan vacationnya agar terealisasikan traveling yang menjadi titik tolak menuju lebih baik.

 

Ketiga, Hijrah dilakukan dengan persiapan yang matang. Rasulullah dalam mempersiapkan hijrahnya ke Madinah dilakukan sangat totalitas. Mulai dari strategi hijrah secara diam-diam, mempersiapkan rute yang aman, mencari pemandu jalan yang tidak dicurigai hingga mempersiapkan jalur pengiriman logistik yang aman. Begitupun seharusnya kita dalam mepersiapkan traveling kita. Meskipun terkesan berlebihan, namun persiapan totalitas dalam traveling akan menghasilkan perjalanan yang berkualitas serta menghindari beberapa hal yang akan merugikan diri seperti keamanan yang terancam atau kekurangan logistik dan sebagainya.

 

Keempat, Hijrah memerlukan berbagai komponen masyarakat. Dalam melaksanakan hijrahnya, Rasulullah Saw. melibatkan berbagai kalangan untuk mensukseskan perjalanannya. Sahabat Abu Bakar sebagai kawan perjalanan, Asma binti Abu Bakar sebagai penyokong logistik Rasulullah hingga Abdullah bin Uraiqith, yang merupakan orang kafir, dipilih sebagai pemandu jalan karena keahliannya dalam navigasi di gurun yang jarang dilewati orang lain.

 

Begitu pula dalam traveling, tentunya kita memerlukan berbagai elemen masyarakat pada sektor pariwisata guna mencipkatan traveling yang bermakna. Islam pun terbuka bagi non-islam, asalkan segala aspek memang terkendalikan oleh ahlinya. Hal ini yang perlu dicontoh oleh civitas penggiat pariwisata dalam menawarkan vacation nya. Selain memberikan kualitas traveling pada pengunjung, pun juga akan menarik banyak engagement yang akan berimbas terhadap profit pariwisata.

 

Kelima, Hijrah Nabi disambut hangat dan penuh hati oleh penduduk Madinah. Sesampainyai Madinah, Rasulullah Saw. disambut sangat baik mulai dari dimeriahkan, disediakan tempat berteduh hingga diceritakan berbagai kondisi masyarakat di Madinah yang memudahkan kelanjutan dakwah Nabi. Konsep penyambutan ini perlu dicontoh dengan baik oleh penggiat pariwisata. Dimulai dari penyambutan hingga pelayanan yang disediakan haruslah memberi kesan hangat kepada pengunjung.

 

Selain itu, diperlukan pula panduan ataupun kode etik yang mendukung norma-norma bermasyarkat hingga nilai-nilai ajaran islam. Karena, peristiwa hijrah Nabi tentu berdampak besar bagi kebangkitan islam, sehingga sudah sepatutnya bisa kita teladani. Terkhusus pada sektor pariwisata yang melibatkan seseorang melakukan aktivitas perjalanan. Pula sebagai seorang manusia, terlebih sebagai muslim apapun yang kita kerjakan haruslah bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

 

Berita Terbaru

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *