Menenun Spiritualitas dan Resiliensi

Sumber: Pinterest

Kehidupan yang berjalan sejak abad pertama memiliki perkembangan teknologi dan intelektual yang berbeda-beda hingga saat ini abad ke-21. Sejak abad ke 21 perkembangan teknologi, geografi, intelektual, ekonomi, komunikasi berubah sangat cepat dan mempengaruhi kehidupan dan kultur masyarakat yang disebut sebagai masyarakat modern. Sosiolog Manuel Castells dalam karyanya The Rise of the Network Society menjelaskan bahwa masyarakat modern kini bergerak menuju struktur jaringan, di mana teknologi informasi menjadi fondasi utama dalam aktivitas sosial, ekonomi, dan politik. Dalam tatanan dunia yang semakin terhubung tersebut, kemampuan suatu bangsa dan individu untuk menjaga spiritualitas dan beradaptasi dengan perubahan menjadi faktor penting dalam menjaga kewarasan dan menentukan daya saing global.

Pada abad ke 21 yang penuh dengan kecepatan transformasi dalam segala aspek, menjadi pengaruh dari identitas masyarakat modern yang individualis, cara berpikir rasional dan kritis. Sering kali, menjadi sebab masyarakat modern menjadi apatis terhadap lingkungan, moral, dan agamanya. Shoshana Zuboff menyoroti dalam bukunya The Age of Surveillance, bagaimana teknologi bukan lagi sekadar alat,  melainkan lingkungan yang membentuk perilaku manusia. Intensitas yang tinggi bertemu dengan teknologi dalam segala bidang ditandai dengan kecenderungan penggunaan gadget sebagai teknologi yang paling sering digunakan, data DPPRI 27 Desember 2024 menunjukkan rata-rata penggunaan gawai 6 jam dalam sehari terutama media sosial. Kesehatan yang digadaikan dengan data WHO 2021 sekitar 1 dari 7 remaja di dunia mengalami gangguan kesehatan mental, dengan depresi sebagai salah satu penyebab utama. Gangguan mental ini sering kali disebabkan atau diperburuk oleh perasaan tidak dihargai, kesepian, atau merasa tertinggal yang berkembang akibat interaksi di dunia maya. 

Di tengah masyarakat modern yang rasional dan individualis, Gen Z memiliki cara unik dalam beragama. Jika abad ke 21 membawa tantangan berupa “Masyarakat jaringan” yang mekanis, Gen Z dapat membawa dimensi “jiwa” ke dalamnya. Dalam jurnal Religion,Brain and Behavior, Widman et al (2020) membahas bagaimana agama beradaptasi dengan kemajuan teknologi, dan perkembangan agama masuk ke ruang digital. Spiritualitas bukan lagi sebagai pelarian dari realitas digital, melainkan menjadi kompas pengendali teknologi yang digunakan. Jika teknologi adalah mesin, maka spiritualitas adalah sistem nilai yang mencegah manusia menjadi robot yang apatis.

Dalam menanggapi data WHO tentang kesehatan mental remaja, peran Gen Z adalah menjadi pionir dalam menciptakan budaya digital yang empatik, di mana menciptakan “kesepian” menjadi “koneksi bermakna” dengan teknologi digital yang digunakan untuk membangun komunitas pendukung yang berbasis nilai agama dan kemanusiaan. Komunitas yang membuka ruang cerita, nasihat sebagai peran aktif Gen Z memberikan kesadaran bagaimana teknologi bukan memberi kesan harus menjadi populer, tetapi dengan bermakna di kehidupan nyata.

Indonesia Emas 2045 membutuhkan manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga harus seimbang dengan kecerdasan spiritualitas, dengan mengenal Tuhannya bukan hanya sebagai tempat meminta tapi juga pendamping cerita dan juga sebagai sahabat. Di tengah riuh rendahnya kompetisi global dan tekanan pencapaian yang sering kali memicu kesepian, Gen Z di Indonesia mulai menemukan oase dalam hubungan personal dengan Tuhan. Konsep ‘Tuhan sebagai Sahabat’ mengubah cara pandang mereka terhadap kegagalan. Ketika dunia menuntut kesempurnaan, spiritualitas menawarkan ruang untuk menjadi rapuh namun tetap berdaya. Ketangguhan ini bukan muncul dari ketiadaan masalah, melainkan dari keyakinan bahwa mereka tidak pernah berjalan sendirian. Inilah modal utama SDM Indonesia Emas 2045: generasi yang tidak mudah patah karena memiliki jangkar batin yang kuat”.

Individu yang memiliki pegangan spiritual dan kesadaran resiliensi akan lebih tahan banting terhadap burnout dan depresi, serta membangun empati kepada sesama dan mengurangi berbagai pelanggaran sosial.

REFERENSI :

Castells, M. (2010). The Rise of the Network Society: The Information Age: Economy, Society, and Culture (Vol. 1). Wiley-Blackwell. (Membahas mengenai struktur masyarakat jaringan).

Data DPPRI (27 Desember 2024). Laporan Statistik Penggunaan Perangkat Digital dan Media Sosial di Indonesia.

Widman, S. A., dkk. (2020). “Religion in the Digital Age: Cognitive and Evolutionary Perspectives.” Religion, Brain & Behavior Journal.

World Health Organization (2021). Adolescent Mental Health Statistics. WHO Global Health Estimates.

Zuboff, S. (2019). The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power. PublicAffairs. (Membahas pengaruh teknologi terhadap perilaku manusia).

Tangerang Selatan, 14 Maret 2026

Berita Terbaru

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *