Dukung Kesetaraan, Enggan Disebut Feminis: Polaritas Perspektif Individu di Indonesia

Perbincangan mengenai feminisme di Indonesia sering kali memunculkan respons yang beragam. Sebagian masyarakat menganggap feminisme sebagai gerakan penting untuk memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Namun tidak sedikit pula yang memandang istilah tersebut dengan curiga atau bahkan penolakan. Fenomena ini menimbulkan sebuah paradoks: banyak individu yang mendukung prinsip kesetaraan gender, tetapi enggan mengidentifikasi diri sebagai feminis. Secara konseptual, feminisme merupakan kerangka pemikiran yang bertujuan menghapus diskriminasi berbasis gender serta mendorong terciptanya relasi sosial yang lebih setara. Feminisme tidak hanya berbicara tentang hak perempuan, tetapi juga tentang bagaimana struktur sosial membentuk ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan. Namun dalam praktik sehari-hari, pemahaman individu terhadap feminisme sering kali dipengaruhi oleh stereotip yang berkembang di masyarakat. Tidak jarang feminisme dipersepsikan sebagai gerakan yang menentang laki-laki, bertentangan dengan nilai budaya, atau bahkan dianggap sebagai ideologi Barat.

 

Data survei menunjukkan bahwa dukungan terhadap kesetaraan gender di Indonesia sebenarnya cukup tinggi. Survei yang dilakukan oleh Ipsos menemukan bahwa 83% masyarakat Indonesia percaya bahwa kesetaraan gender mengalami kemajuan, dan sekitar 76% responden menilai kesetaraan gender telah cukup tercapai di Indonesia. Namun pada saat yang sama, 31% responden mengaku merasa tidak nyaman menyuarakan kesetaraan gender secara terbuka karena khawatir terhadap reaksi sosial di lingkungan mereka. Temuan tersebut menunjukkan bahwa dukungan terhadap kesetaraan gender sering kali bersifat personal dan tidak selalu diikuti dengan keberanian untuk mengidentifikasi diri dengan gerakan feminisme. 

 

Beberapa penelitian akademik juga menunjukkan bahwa stigma terhadap feminisme menjadi salah satu tantangan utama dalam perkembangan gerakan ini di Indonesia. Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Perempuan menunjukkan bahwa banyak perempuan Indonesia mendukung nilai kesetaraan, tetapi enggan menggunakan label feminis karena khawatir dianggap menentang nilai agama atau budaya lokal. Kelompok  konservatif  sering  menuding   bahwa   gerakan   feminis   digital   hanyalah   “impor  Barat”  yang  merusak  moral  bangsa (Noer, 2025).  Hal ini menunjukkan bahwa identitas feminis sering kali dipersepsikan secara berbeda dengan nilai kesetaraan yang sebenarnya diperjuangkan oleh feminisme. 

 

Contoh lain terlihat dalam perdebatan mengenai perempuan yang memilih untuk menunda pernikahan atau tidak menikah sama sekali. Di satu sisi, keputusan tersebut sering dipuji sebagai bentuk kebebasan individu dan kemandirian perempuan. Namun di sisi lain, perempuan yang mengambil pilihan tersebut juga kerap mendapatkan tekanan sosial karena dianggap melanggar norma keluarga atau budaya. Fenomena ini menunjukkan bahwa kebebasan perempuan masih sering dinilai berdasarkan sejauh mana pilihan tersebut tetap sesuai dengan ekspektasi sosial yang ada.

 

Dengan demikian, tantangan utama feminisme di Indonesia bukan semata-mata penolakan terhadap kesetaraan gender, melainkan kesalahpahaman individu terhadap konsep feminisme itu sendiri. Banyak individu sebenarnya mendukung kesetaraan, tetapi pemahaman tersebut belum selalu disertai dengan kesadaran kritis terhadap struktur ketimpangan yang lebih luas. Selain itu, peningkatan literasi gender menjadi langkah penting agar masyarakat dapat memahami feminisme secara lebih komprehensif. Ketika feminisme dipahami sebagai upaya untuk menciptakan keadilan sosial dan relasi yang setara antara laki-laki dan perempuan, stigma terhadap gerakan ini berpotensi berkurang. Sehingga, diskursus feminisme tidak lagi dipandang sebagai konflik antara gender, melainkan sebagai bagian dari upaya bersama untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil.

Berita Terbaru

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *