Islam dan Sains: Mengungkap Kontribusi Ilmuwan Muslim di Masa Keemasan

sumber: canva.com

Pernahkah kalian bertanya dan membayangkan bahwa ribuan tahun sebelum teleskop hubble dapat mengintip ke kedalaman galaksi, seorang pria Muslim di Basrah telah lebih dulu menulis tentang kecepatan cahaya dengan sangat teliti? Bahwa jauh ribuan tahun sebelum ada laboratorium modern sekarang, obat cacar dan campak ditemukan oleh seorang muslim bernama Al-Razi yang telah lama meracik antiseptik dan merakit laboratorium sehingga kimia bukan hanya tentang eksperimen, namun juga seni, juga masjid dengan arsitektur megah yang indah, serta bangunan-bangunan yang mengintegrasikan corak suatu peradaban Islam yang khas

 

Warisan Ilmu dari Masa Keemasan Islam

 

Pada masa keemasan Islam, yang berlangsung dari abad ke-8 hingga abad ke-14, merupakan periode cemerlang sepanjang peradaban manusia atau bisa disebut juga dengan masa “Golden Age of Islam”, dimana saat itu dunia islam berkiprah dan menjadi pusat ilmu pengetahuan, meskipun ada perbedaan pendapat di antara para sejarawan tentang kapan periode ini dimulai dan berakhir secara tepat (Asari,2019)

 

Dalam Sejarah tercatat bahwa pada masa kekhalifahan Abbasiyah berhasil mencapai puncak kejayaannya di bawah kepemimpinan Khalifah Harun Al-Rasyid yang menjadi salah satu iconic dari pemimpin Islam pada masa kekhalifahan Abbasiyah, masa kepemimpinan Harun al-Rasyid termasuk masa kepemimpinan yang singkat namun memainkan peran krusial dalam kemajuan ilmu pengetahuan, sastra, seni, dan filsafat. Menjadikan Baghdad sebagai pusat kegiatan intelektual dan mendirikan Bait al-Hikmah yaitu laboratorium intelektual untuk pembelajaran dan penelitian, mengembangkan teori dan inovasi baru dalam matematika, astronomi, kedokteran, dan filsafat.

 

Pada periode ini, banyak juga majelis majelis tempat bertemunya para Ilmuwan untuk berdiskusi, bertukar pikiran, dan berdebat terkait agama dan filsafat, para ilmuwan dari lintas kalangan juga ikut turut hadir dan terlibat dalam diskusi. Sehingga untuk bisa mengikuti forum diskusi ini dibutuhkan adanya ilmu berdebat, hingga akhirnya buku asing pertama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab adalah karya Aristoteles.

 

Sejarawan C.W. Bosworth menyatakan melihat dan merasakan adanya keberadaan ilmu pengetahuan tersebut dan menulis dalam bukunya berjudul “The Islamic Dynasties” Dimana salah satu buktinya adalah ditandai dengan adanya berbagai literatur ilmu pengetahuan yang eksis saat itu, seperti Teologi, Filsafat, dan Kesusasteraan, dan Ilmu Alam.

 

Tokoh-tokoh penting yang lahir pada masa “golden age” seperti Al-Khawarizmi sebagai bapak aljabar, dan Ibn Sina yang merupakan bapak pionir kedokteran, Jabir Ibnu Hayyan ahli kimia, Al-farabi, Al-Biruni, dan Al Razi memberikan kontribusi yang tidak hanya terbatas pada bidang-bidang tersebut tetapi juga mencakup kemajuan teknologi seperti pengembangan alat-alat astronomi dan teknik medis.

 

Terciptanya peradaban yang emas dikarenakan Islam sebagai acuan dan landasan berpikir untuk mengembangkan peradaban ilmu pengetahuan. Islam adalah agama yang dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia serta mampu menjawab tantangan teknologi dan sains.

 

Hal ini selaras dengan perintah Allah dalam surat Al-Alaq yang artinya “Bacalah!” Bahwa kegemilangan suatu peradaban dimulai dengan masyarakatnya yang memiliki mentalitas membaca dan kultur budaya keilmuan.

 

Islam memiliki acuan dan landasan termasuk di dalamnya terdapat ayat Al-Quran yang digunakan sebagai pedoman dalam perkembangan sains.

 

Salah satunya adalah dengan kacamata tauhid, Dalam kitab Nidham al-Islam karya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, alam, kehidupan, dan manusia dipandang sebagai tiga unsur fundamental yang membentuk pandangan hidup Islam. Ketiganya dianggap sebagai ciptaan Allah yang memiliki sifat terbatas, lemah, dan saling membutuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka bukanlah entitas yang berdiri sendiri atau bersifat azali, melainkan makhluk yang memerlukan pencipta yang Maha Kuasa.​

 

Syaikh Taqiyuddin menegaskan bahwa pemikiran manusia terhadap alam semesta, kehidupan, dan dirinya sendiri harus didasarkan pada kesadaran akan keterbatasan dan ketergantungan tersebut. Dengan demikian, manusia diingatkan untuk tidak mengandalkan akal semata, melainkan juga harus menyadari adanya kekuatan yang lebih besar yang mengatur segala sesuatu.

 

Ajaran islam dan Ilmuwan muslim memegang peran penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam peradaban manusia, maka peradaban yang maju terlihat bagaimana pemimpin dan sistem itu mengatur didalamnya.

 

Islam hadir sebagai pendorong peradaban yang berkelanjutan, bahwa dulu hadirnya bukan hanya tentang sejarah tersimpan rapat dalam buku buku saat ini, akan tetapi sebagai  bukti konkrit. Kita diingatkan bahwa kehidupan Islam tidak hanya tercermin dalam ritual ibadah semata, tetapi juga dalam kontribusi nyata terhadap peradaban dunia.

Berita Terbaru

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *