Lukisan Raden Saleh vs Nicolaas Pieneman: Narasi Berbeda tentang Penangkapan Pangeran Diponegoro

sumber: wikipedia.com

Pada 17 Oktober 2017, untuk pertama kalinya lukisan legendaris Raden Saleh berjudul “Penangkapan Pangeran Diponegoro” (1857) bersanding dengan lukisan seniman Belanda, Nicolaas Pieneman, yang berjudul The Surrender atau “Penyerahan Pangeran Diponegoro” (1835) dalam pameran Power and Other Things, Europalia Arts Festival Indonesia, di Galeri Seni Bozar, Brussels, Belgia. Namun, sangat disayangkan lukisan Raden Saleh yang dipajang hanya reproduksi dari lukisan aslinya yang tersimpan di Istana Negara, Jakarta. Sementara itu, lukisan Pieneman yang asli justru bisa dihadirkan secara langsung di Brussels dari Rijkmuseum, Amsterdam, Belanda.

 

Terlepas dari sisi keorinalitasannya, bersandingnya dua lukisan ini memunculkan dua perspektif tentang bagaimana sejarah Kolonialisme dari sudut yang berbeda, yaitu dari Raden Saleh sebagai seniman Jawa yang pernah menuntut ilmu di Eropa dan Pieneman, seniaman asal Belanda. Dengan menyandingkan kedua lukisan tersebut, seolah-olah bertutur langsung kepada public.

 

Pangeran Diponegoro menyerahkan diri?

 

Lukisan pieneman sendiri berjudul De onderwerping van Diepo Negoro aan luitenant-generaal Hendrik Merkus Baron de Kock, 28 maart 1830, waarmee de Java-oorlog (1825-30) werd beëindigd atau dalam bahasa Indonesia berarti Penyerahan Diepo Negoro ke Letnan Jenderal Hendrik Merkus Baron de Kock, 28 Maret 1830, mengakhiri Perang Jawa (1825-1830).

 

Sekilas lukisan ini sama dengan milik Raden Saleh. Didalamnya terdapat Pangeran Diponegoro memakai jubah putih Panjang dengan turban hijau dikepalanya dan dikelilingi rakyat pribumi. Pangeran Diponegoro digambarkan berdiri didepan Letnan Jendral De Kock. Namun jika disimak lebih detail lagi, lukisan dari Pieneman menggambarkan Pangeran Diponegoro berdiri dibawah De Kock dengan kepala menghadap ke depan dan tangan kiri terbuka seakan-akan pasrah. 

 

Sementara itu dalam lukisan Raden Saleh, Pangeran Diponegoro digambarkan mengadah keatas, ditangisi pengikut sekitarnya, dan disampingnya berdiri De Kock dengan arogan. Berbeda dengan lukisan dari Pieneman, dalam lukisan Raden saleh tidak ada bendera Merah Putih Biru milik Belanda.

 

Perbedaan sudut pandang

 

Walaupun menggambarkan peristiwa yang sama, kedua lukisan itu berbeda karena datang dari dua sudut pandang yang berlawanan. Bagi pihak Belanda, tertangkapnya Pangeran Diponegoro merupakan suatu prestasi yang amat besar. Pieneman juga menggambarkan sosok dari De Kock yang mempunyai andil besar dari penangkapan ini. Sementara bagi rakyat pribumi, ditangkapnya Pangeran Diponegoro merupakan sebuah pristiwa yang tragis. Raden Saleh sebagai seorang pribumi tentu ingin menuangkan rasa sedihnya dalam lukisan karyanya ini. 

 

Pada tahun 1857, lukisan itu ditangan Belanda dan diletakan di Istana Het Loo, Den Hag. Barulah pada tahun 1978, lukisan itu dikembalikan ke Indonesia dan kini dipajang di Istana KepresidenanYogyakarta. 


Referensi:

  1. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. (2019, 25 Februari). Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro, Perlawanan Raden Saleh atas Karya Nicolaas Pieneman. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/dpk/lukisan-penangkapan-pangeran-diponegoro-perlawanan-raden-saleh-atas-karya-nicolaas-pieneman/
  2. Merdeka.com. (2024, 9 juli). Duel’ Raden Saleh vs Nicolaas Pieneman di Balik Penangkapan Pangeran Diponegoro. Oleh Arsya Muhammad. https://www.merdeka.com/histori/duel-raden-saleh-vs-nicolaas-pieneman-di-balik-penangkapan-pangeran-diponegoro-160929-mvk.html

Berita Terbaru

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *