Perkembangan teknologi informasi dan media sosial dalam beberapa tahun terakhir mengalami perkembangan yang sangat signifikan pada berbagai aspek kehidupan manusia. Inovasi digital yang terus menerus bermunculan hadir mengubah cara manusia mulai berkomunikasi, bekerja, hingga bersosialisasi, terutama melalui kehadiran media sosial yang menjadi sesuatu yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di tengah arus perubahan ini, Gen Z yang tumbuh dan berkembang di era ini menjadi bagian kelompok yang paling akrab dan tak terpisahkan dengan teknologi. Hari-hari mereka hampir dihabiskan di kehidupan maya yang mana menjadikan etika ketika bermedia sosial menjadi sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan.
Dalam bermedia sosial penting bagi Gen Z untuk membatasi dirinya agar terhindari dampak-dampak negatif baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Meski dibalik mudahnya akses dan kebebasan berekspresi, Gen Z perlu menyadari bahwa setiap unggahan dan komentar di media sosial memiliki konsekuensi, sehingga sikap bijak, menjaga privasi, dan sopan santun menjadi perhatian penting dalam hal ini. Memahami poin-poin di atas bukan hanya soal sekedar menjaga sopan santun, tetapi juga mencerminkan kedewasaan dalam bermedia sosial.
Berikut ini adalah cara-cara bagi Gen Z agar tetap bisa menjaga etika dan sopan santun dalam bermedia sosial, diantaranya adalah:
Selalu crosscheck informasi yang diterima
Dalam Q.S Al-Hujurat [49] ayat 6 Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu”.
Dalam kehidupan bersosial, Ayat di atas merupakan salah satu dasar yang ditetapkan agama serta merupakan tuntunan yang sangat logis bagi penerimaan dan pengamalan suatu berita. Kehidupan manusia dan interaksinya haruslah didasarkan hal-hal yang diketahui dan jelas. Berita Hoax dan disinformasi sudah sepantasnya untuk tidak dikonsumsi lebih-lebih dipublikasikan. Manusia sendiri tidak dapat menjangkau seluruh informasi, karena itu ia membutuhkan pihak lain. Pihak lain itu ada yang jujur dan memiliki integritas sehingga hanya menyampaikan hal-hal yang benar, dan ada pula sebaliknya. Karena itu pula Gen Z harus pintar-pintar untuk memilih dan memilah informasi yang tepat, khawatir jangan sampai seseorang melangkah tidak dengan ceroboh atau dalam bahasa ayat di atas bi jahalah. Dengan kata lain ayat ini menyuruh manusia agar selalu membekali dirinya dengan pengetahuan disertai dengan melakukannya berdasar pertimbangan logis dan nilai-nilai yang ditetapkan Allah swt. sebagai lawan dari makna kedua yaitu jahalah(kebodohan). Oleh karena itu sebagaimana perintah guru-guru kita, saringlah sebelum sharing merupakan suatu hal yang sangat tepat bagi Gen Z dalam bermedia sosial.
Tidak menebarkan ujaran kebencian
Allah berfirman dalam Q.S Al-Hujurat [49] ayat 11 yang berbunyi:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Jangan pula perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.
Ayat ini menuntut bagi kita semua yang mengaku beriman untuk tidak mencela satu sama lain, terlebih di era sekarang pengguna media sosial sangat ringan sekali mengujarkan kalimat-kalimat yang mengandung unsur SARA seperti merendahkan suku, budaya, ras dan lebih-lebih agama. Oleh karena itu, memahami dan mengaplikasikan ayat ini sangat penting bagi Gen Z agar selamat dari penyalahgunaan media sosial serta dampak-dampak negatif lainnya.
Tidak mencari-cari kesalahan orang lain
Allah berfirman dalam Q.S. Alhujurat [49] ayat 12 yang berbunyi:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat dan Maha Penyayang”.
Dalam Tafsir Al-Misbah, Prof. Quraisy Syihab menjelaskan bahwa sebagian dari dugaan yang tidak berdasar merupakan sebuah dosa. Dugaan yang tidak berdasar kebanyakan mengarah pada dugaan buruk terhadap seseorang yang orientasinya akan berujung pada suatu tindakan tercela bak dalam ucapan maupun perbuatan. Hal ini lebih dikenal dengan istilah su’udzon yang berarti berprasangka buruk, namun tidak semua prasangka merupakan sesuatu yang buruk. Adapun berprasangka baik dikenal dengan istilah husnudzon.
Efek dari prasangka terhadap seseorang adalah berusaha mencari-cari tahu informasi. Dalam upaya mencari informasi juga ada yang dilarang maupun tidak. Mencari tahu urusan orang lain sebenarnya tidak selalu salah, asalkan tujuannya untuk kebaikan bersama misalnya untuk mencegah bahaya, atau menghindari kerugian yang bisa berdampak luas. Maka hal seperti di atas dapat dibenarkan. Akan tetapi, jika mencari-cari informasi dilakukan dengan niat buruk seperti untuk menyebarkan aib, mempermalukan, menjatuhkan martabat seseorang, atau sekadar memuaskan rasa ingin tahu tanpa alasan yang jelas—maka hal itu termasuk perbuatan yang tidak dibenarkan, baik secara etika maupun agama. Tindakan semacam ini bisa merusak reputasi, menimbulkan fitnah, dan memicu konflik yang lebih besar di tengah masyarakat, terutama di era digital saat informasi menyebar dengan sangat cepat. Terlebih di era digital sekarang privasi setiap individu adalah sesuatu yang sangat berharga dan penting untuk dijaga.
Selain menjaga dan memperhatikan kode-kode etik dqlam bermedia sosial, Gen Z juga dituntut untuk andil mengambil peran dalam mengelola informasi. Gen Z selayaknya tidak membatasi dirinya hanya pada sekedar konsumen informasi, teapi juga berpartisipasi aktif di lingkungan sosial media sesuai passion yang mereka miliki. Seperti konten-konten edukasi, sharing pengalaman atau sekedar menuangkan pemikiran dan curahan hati mereka. Karena di era sosial media yang semua menjadi serba terbuka dan mudah diakses, akan sangat merugi jika Gen Z juga tidak ikut untuk berlomba-lomba dalam menebar kemanfaatan sesuai bakat mereka. Pilihan bermedia sosial hanya dua yaitu antara menjadi pengguna yang bijak atau pengguna yang terlena. Media sosial bukan hanya soal eksistensi, validasi atau sekadar ikut tren, tapi juga soal bagaimana kita membentuk citra diri, membangun koneksi yang sehat, dan memberi pengaruh dalam lingkup besar maupun kecil pada orang lain yang melihat apa yang kita bagikan.
Oleh karena itu menurut hemat saya, penting bagi Gen Z untuk berlomba-lomba dalam menebar kemanfaatan sebagaimana apa yang telah disabdakan oleh Nabi bahwa mereka yang terbaik adalah mereka yang banyak menebar manfaat dimanapun berada. Dengan menjadikan media sosial sebagai sarana untuk berbagi hal-hal positif, menginspirasi, dan saling menguatkan, Gen Z tidak hanya menunjukkan kedewasaan digital, tetapi juga turut membangun peradaban yang lebih baik di tengah derasnya arus informasi dan perubahan zaman, tentunya diiringi dengan memahami kode-kode etik dalam bermedia sosial seperti yang telah dijelaskan di atas.
Daftar Pustaka
Diemas Arya Komara. Memahami Perilaku Informasi Gen-Z dan Strategi Melawan Disinformasi: Sebuah Tinjauan Literatur Penggunaan Media Sosial. Vol.10 No.2 Desember, 2024
2012. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Jakarta : Lentera Hati, 2012.
Muhammad Mirza Rizky Aulia. Etika Komunikasi Generasi Z Dan Generasi Milenial Dalam Media Sosial Tiktok. Vol.11, No.6 Desember 2024







1 thought on “Peran Al-Quran dalam Membangun Etika Bermedia Sosial di Kalangan Generasi Z”
best muscle stacks
References:
Valley.md