Peran Media Massa dalam Politik Kontemporer: Bagaimana Memvalidasi Eksistensi Sosial Media Sebagai Sumber Informasi Untuk Menentukan Pemimpin di Buzzer Era

sumber: canva.com

PILPRES 2024 adalah awal mula keterlibatan anak muda khususnya rentang usia 17 ke atas, yang mana usia tersebutlah yang mempunyai banyak peran dalam dunia digital, salah satunya yaitu dengan menjadi influencer politik. Untuk menjadi pemilih dalam Pemilihan Umum harus memenuhi syarat-syarat tertentu, hal ini diatur dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 7 Tahun 2022, bahwasanya Pemilih dalam Pemilu adalah warga negara Indonesia (WNI) yang sudah genap berumur 17 tahun atau lebih, sudah kawin, atau sudah pernah kawin. Pemilih dalam Pemilu ini memiliki hak untuk memilih pada saat pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu).

 

KPU mencatat, pemilih pemilu 2024 didominasi oleh kelompok generasi Z dan milenial, yakni sebanyak  56% dari total keseluruhan pemilih. Jumlah fantastis, yang dimana mereka adalah pengguna sosial media aktif, mudah menjangkau informasi baik tertulis maupun tersampaikan oleh influencer sosial media. Tak jarang di antara mereka yang baru menerima satu perspektif, lalu menjadikannya perspektif utama yang tidak bisa diganggu-gugat dan tidak menerima pendapat dari perspektif lainnya, padahal banyak dari orang-orang yang mengangkat suara akan politik sejatinya seorang buzzer salah satu paslon, terlepas dari eksistensinya sebagai influencer atau tidak. Fenomena buzzer yang marak pada pemilu 2024 memiliki potensi besar untuk mempengaruhi hasil dan dinamika kompetisi politik, buzzer dapat memainkan peran kunci dalam membentuk persepsi publik terhadap kandidat, memanipulasi informasi, dan menciptakan tren opini yang dapat mempengaruhi keputusan pemilih. Jadi apakah pantas sosial media menjadi rujukan para pemilih dalam pemilu? Lalu bagaimanakah esensinya agar terlepas dari  hoax  influence buzzer?

 

Fungsi media komunikasi semakin krusial seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, khususnya di bidang teknologi informasi berbasis internet, terkhusus dalam konteks berita bohong dalam hal penyebaran hoax lebih mudah disebarkan oleh media sosial dikarenakan kurangnya filter berita di media sosial, sehingga setiap berita yang diposting seseorang dapat dengan mudah menjadi viral, disamping itu setiap pengguna tidak berkuasa penuh atas tontonan viral yang berputar ketika membuka halaman atau page dalam akun media sosial mereka.

 

Maka sebagai pemilih yang cerdas sudah sepantasnya kita memiliki filter yang tidak dimiliki media sosial dalam menampilkan berita atau informasi. Sebagai langkah awal hendaknya kita mengosongkan perspektif baik atau buruk yang hanya tertuju pada salah satu paslon, lalu mencari ulang informasi atau background serta potensi  atau keunggulan masing-masing paslon, karena ketika kita memulai kembali dengan perspektif kosong maka tak sulit bagi kita memilah mana yang pantas untuk dijadikan alasan memilih salah satu paslon.

 

Perlu kita tanamkan bahwa setiap paslon dalam riwayat kepemimpinan atau bahkan riwayat hidup pasti memiliki jejak kesalahan atau kekurangan, selagi kesalahan mereka tidak fatal maka tidak layak menjadi titik acu ketidakberpihakan kita dalam mempertimbangkan pilihan. Memperhatikan dan mengamati visi-misi adalah hal yang lebih krusial. Memperhatikan mana dari visi-misi paslon yang tidak hanya berorientasi pada kelompok atau golongan tertentu saja, namun juga mengelaborasi jangkauan visi-misi secara paripurna.

 

Tidak luput dari itu seyogyanya kita melihat cara mereka merespon dan berbaur dengan masyarakat. Kemudian tak sepenuhnya kita membutakan diri terhadap informasi dari buzzer yang tersebar, kita bisa menjadikannya saran dan masukan dengan catatan menelusuri kebenaran dari informasi tersebut, namun akan lebih baik mendengarkan informasi dari influencer yang tervalidasi tidak memihak salah satu paslon, hanya berorientasi dalam memberi tanggapan secara global, tidak memihak atau menjatuhkan.

 

Pada hakikatnya eksistensi media sosial sebagai sumber informasi walau terdapat polemik di dalamnya justru menjadikan pandangan lebih terbuka dalam membuat keputusan memilih pemimpin, karna polemik tidak sepenuhnya intrik, namun bisa menjadi via moderat dalam memilih dengan normatif dan pragmatis, dengan kunci mau menggali informasi dan berprinsip tidak mudah termakan perspektif.

 

Referensi:

 

Charisma,D.W., Munadhil.A.M., Fitria.A.(2023) Fenomena Buzzer Di Media Sosial Jelang Pemilu 2024 Dalam Perspektif Komunikasi Politik

https://news.detik.com/pemilu/d-6549231/apa-saja-syarat-menjadi-pemilih-dalam-pemilu-simak-aturannya

https://scholar.google.com/scholar?hl=en&as_sdt=0%2C5&q=strategi+mencari+informasi+dalam+social+media+sebagai+informasi+politik&btnG=

https://scholar.google.com/scholar?hl=en&as_sdt=0%2C5&q=strategi+mencari+informasi+dalam+social+media&btnG=

Berita Terbaru

1 Responses

1 thought on “Peran Media Massa dalam Politik Kontemporer: Bagaimana Memvalidasi Eksistensi Sosial Media Sebagai Sumber Informasi Untuk Menentukan Pemimpin di Buzzer Era”

  1. Hello, you used to write fantastic, but the last few posts have been kinda boringK I miss your tremendous writings. Past several posts are just a little out of track! come on!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *