Di era digital saat ini, arus informasi begitu cepat dan tak terbendung. Sayangnya, tidak semua informasi yang tersebar mengandung kebenaran. Kementerian Komunikasi dan Digital telah berhasil mengidentifikasi serta mengklarifikasi sebanyak 1.923 konten hoaks, berita bohong dan informasi palsu sepanjang tahun 2024. Hoaks dan paham radikalisme menjadi dua isu sosial kontemporer yang terus berkembang dan membahayakan stabilitas masyarakat. Dalam konteks ini, penyiaran Islam memiliki peran strategis sebagai media dakwah sekaligus alat pencerahan yang mampu membentuk opini publik secara positif.
Penyiaran Islam merupakan proses penyampaian pesan-pesan keislaman melalui media massa seperti televisi, radio, podcast, dan platform digital lainnya. Tujuan utamanya adalah menyebarluaskan nilai-nilai Islam yang damai, moderat, dan membangun. Penyiaran ini tidak hanya menyampaikan ceramah agama, tapi juga membahas isu-isu kontemporer dengan perspektif Islam yang menyejukkan.
Hoaks adalah informasi palsu yang sengaja disebarkan untuk menipu atau menyesatkan masyarakat. Sementara radikalisme merujuk pada paham ekstrem yang tidak mentoleransi perbedaan dan sering kali mengarah pada tindakan kekerasan atas nama agama. Berita hoax dan radikalisme yang tersebar melalui media yang tidak bertanggungjawab dan sosial media (sosmed) tidak hanya bisa meracuni, tapi juga bisa menkontaminasi jiwa seseorang. Kedua isu ini dapat menyebabkan perpecahan sosial, memicu kebencian, dan merusak keharmonisan masyarakat.
Peran Penyiaran Islam dalam Menanggapi Hoaks
1. Edukasi Publik
Penyiaran Islam berperan dalam mengedukasi masyarakat agar kritis terhadap informasi. Dengan menyisipkan nilai tabayyun (klarifikasi), masyarakat diajak untuk tidak mudah percaya pada berita yang belum jelas sumbernya.
2. Klarifikasi dan Konter-Narasi
Media dakwah bisa memberikan klarifikasi atas hoaks yang beredar, terutama yang berkaitan dengan isu agama. Hal ini membantu meredam kegaduhan dan mengembalikan pemahaman yang benar.
3. Meningkatkan Literasi Media Islami
Melalui tayangan, podcast, atau siaran digital, penyiaran Islam bisa mengajarkan cara mengenali berita palsu dan pentingnya berpikir kritis dalam menerima informasi.
Peran Penyiaran Islam dalam Menanggapi Radikalisme
1. Penyebaran Dakwah Wasathiyah (Moderat)
Islam mengajarkan jalan tengah dan menolak segala bentuk kekerasan. Melalui penyiaran, dakwah yang moderat bisa tersebar lebih luas ke berbagai kalangan.
2. Pencegahan Indoktrinasi Ekstrem
Penyiaran Islam dapat menjadi penyeimbang dari konten radikal dengan menyajikan pemahaman agama yang benar dan damai.
3. Memberikan Ruang Diskusi Kritis dan Terbuka
Media penyiaran bisa memfasilitasi ruang diskusi antara ulama, akademisi, dan masyarakat agar pemahaman keislaman yang komprehensif dapat terbangun.
Penyiaran Islam memiliki peran penting dalam membangun masyarakat yang cerdas informasi dan beragama secara moderat. Di tengah maraknya hoaks dan radikalisme, media dakwah menjadi benteng dan penuntun yang menyinari umat agar tetap berada di jalan damai dan kebenaran.
Referensi:
Kementerian Komunikasi dan Digital. (2025, 8 Januari). Komdigi Identifikasi 1.923 Konten Hoaks Sepanjang Tahun 2024. https://www.komdigi.go.id/berita/siaran-pers/detail/komdigi-identifikasi-1923-konten-hoaks-sepanjang-tahun-2024
Tribunnews. (2017, 20 Januari). Perkuat Pertahanan Diri, Kunci Memutus Mata Rantai Hoax dan Radikalisme. Disunting oleh Toni Bramantoro. https://www.tribunnews.com/nasional/2017/01/20/perkuat-pertahanan-diri-kunci-memutus-mata-rantai-hoax-dan-radikalisme?page=all






